I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.181(Jangan pernah pergi)



Gumaman Cecilia jelas tidak terdengar oleh Irsan, ucapan sayang yang berhasil membuat hatinya semakin sakit, bagaimana dia bisa pergi kalau sudah begini. Saat seseorang yang dingin dan tanpa ekspresi sudah menunjukan perasaannya, maka semua cassanova dimuka bumi akan jatuh dari singgasananya. Seseorang yang sulit untuk mengungkapkan rasa mampu mengalahkan ego dan keraguannya. Terbukti sejak kemarin, Irsan terus menunjukan rasa cinta dan perasaannya dan berhasil membuatnya semakin jatuh dalam kebahagiaan sekaligus kenestapaan.


Perlahan Irsan menggenggam jemarinya, saat melihat Cecilia semakin menunduk tak berdaya. Genggaman tangan semakin erat dengan gerakan cepat Irsan menariknya ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku Cecilia! Apa aku membuatmu menangis?"


Sebenarnya Cecilia ingin menahan air mata agar tidak lagi kembali turun, dia bahkan menggigit bibir bagian dalam namun nyatanya dia menjadi gadis yang sangat lemah saat ini.


"Hei ... Kenapa kau menangis lagi. Katakan padaku apa yang terjadi?" tanya Irsan saat melihat Cecilia tiba tiba menangis.


Pria itu memang tidak tahu jika Cecilia menangis untuk kesekian kalinya, dia juga tidak tahu kalau Cecilia tahu yang sebenarnya dan berada di titik rapuh yang terendah.


"Gak apa apa, aku hanya kangen ibu saja!" Jawabnya dengan asal.


"Kau ingin bertemu dengannya? Aku akan mengantarmu."


Cecilia menggelengkan kepalanya, sejak kapan dia menjadi tidak jujur dengan apa yang dia rasakannya, jelas jelas itu bukan yang dia inginkan.


"Sebenarnya apa yang terjadi Cecilia? Apa aku menyakitimu, kenapa sejak kemarin kau terus menangis. Apa sesuatu telah terjadi dan kau tidak ingin aku tahu?"


Cecilia semakin menggelengkan kepalanya, juga semakin menenggelamkan diri dalam pelukan Irsan.


"A---aaku...."


"Hey? Kenapa. Kataka padaku Cecilia?"


"Aaa---apa gak sebaiknya kita berpisah aja Irsan? Aku gak mau terus terusan membuatmu jadi anak yang gak berbakti pada ibumu sendiri." Jawabnya dengan terisak.


Deg


"Apa yang kau katakan Cecilia?" Kedua tangan Irsan menangkup pipinya dan melihat derai air mata yang semakin turun dengan drastis. "Apa yang terjadi? Bukankah ita sudah sepakat untuk terus bersama sama berjuang?"


"Aaa--aku!!"


"Jangan bilang kau sudah mengetahui semua yang dikatakan Ibuku!"


Cecilia terdiam, memegang tangan Irsan yang masih berada di wajahnya lalu mengangguk pelan.


"Aku ini manusia kotor, gak pantes buat kamu!"


Irsan meraup wajahnya dengan kasar, "Astaga! Dasar nakal."


"Aku ini hanya akan membuatmu dalam masalah, sampai aku matipun masa lalu gelap itu akan terus menempel."


Irsan bangkit dari duduknya, "Jangan katakan apapun lagi, walau seluruh dunia menentangku. Aku tidak akan mundur selangkahoun Cecilia, aku memilihmu. Aku mencintaimu, aku menerima semua yang ada di dalam dirimu, termasuk masa lalumu. Kenapa kau jadi berubah begini. Kemana Cecilia yang aku kenal. Yang kuat dan pemberani. Hm?"


"Aku ini bukan orang yang sempurna Irsan!"


"Kau fikir semua orang sempurna?" Nada bicara Irsan mulai naik dua oktaf. "Yang ku cari bukan kesempurnaan Cecilia! Sudah berapa kali aku katakan."


Cecilia semakin menangis tergugu, sementara Irsan menghela nafas nya berat.


Andai bisa memilih mungkin Cecilia tidak ingin bertemu Irsan dan jatuh cinta padanya sedalam ini, agar tidak perlu merasakan sakit seperih ini, tidak perlu merasakan bagaimana hatinya dihujam dan berada di dalam kegamangan yang membuatnya semakin lemah saja. Mengubah gadis kuat dan pemberani menjadi lemah tak berdaya dan juga cengeng. Tapi sekali lagi, cinta tidak tahu pada siapa dan bagaimana dia berlabuh. Sekalipun pada pendosa.


"Apa yang harus aku lakukan? Ibumu ... Ibu saja...."


Irsan kembali duduk di hadapannya. Setengah berlutut seperti kemarin, dengan bertumpu pada satu lututnya.


"Aku tidak ingin kau melakukan apa apa, cukup berada di sampingku dan aku akan membawakan restu ibu untukmu. Hm? Walaupun sebenarnya aku juga tidak peduli lagi pada restu yang akan diberikan atau tidak. Pilihanku tetap kamu. Cecilia."


Tangisan Cecilia semakin lirih, menatap pria yang berbeda 20 tahun itu penuh keseriusan namun dirinya lah yang semakin ragu.


"Aa--aku...."


Cecilia memeluk Irsan begitu juga dengan Irsan yang memeluknya erat. Mengusap punggungnya dengan lembut.


"Kenapa kau jadi cengeng seperti ini sayang?"


"Itu karena aku cinta sama kamu!" jawabnya dengan terisak, menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Irsan.


"Begitu pun denganku, sekarang tidurlah, ini sudah dini hari dan kau harus kuliah pagi. Maafkan aku yang gegabah dalam bertindak." bisik Irsan tepat ditelinganya.


"Aku akan membuktikan kalau aku mampu jadi asisten Dosen, sekalipun posisi itu aku dapatkan dari bantuanmu, aku tidak akan menyia nyiakan kesempatan dan pengorbananmu."


"Bagus! Itu baru gadisku."


Cecilia mengangguk, semakin mempererat pelukannya pada pria yang tanpa lelah membantu dan meyakinkannya.


"Jangan pernah berani pergi dariku Cecilia. I love you so much."


Cecilia kembali mengangguk, kembali merasa yakin dan meyakini jika harapan itu masih besar. Kebahagiaan tidak akan datang begitu saja, butuh pengorbanan dan juga air mata.


"Sekarang kita tidur! Semua akan baik baik saja dan tidak usah khawatirkan apa apa. Hm."


"Iya!"


Keduanya masuk kedalam kamar, dengan Cecilia yang naik ke atas ranjang sementara Irsan terduduk di tepi ranjang. Menatapnya lalu tersenyum sangat manis.


"Aku akan menemanimu sampai kau tertidur."


Cecilia kembali mengangguk, besar harapannya untuk terbangun di pagi hari dan menjadi lebih baik, walau keraguan masih besar dia rasakan. Namun melihat kesungguhan pria yang terus menatapnya itu membuatnya semakin kuat, dia juga harus berjuang. Bukan dengan cara cara licik yang selama ini dia lakukan.


Cecilia yang semakin lelap karena kelelahan menangis dan Irsan masih terduduk membelai kepalanya. Setelah memastikan gadisnya itu tertidur pulas, Irsan keluar dari kamar dan merogoh ponsel di dalam sakunya.


Dia menghubungi seseorang dan memintanya datang menemuinya.


'Datang kemari sekarang juga! Aku di unit milik sepupuku.'


'Jangan gila! Ini jam berapa Irsan.'


'Datang sekarang juga atau kau akan menyesal Carl!' serunya dengan kesal.


Carl, salah satu teman baiknya yang selama ini membantunya mengurus perusaahan bersama Embun ibunya berdecak turun dari ranjang,


"Keterlaluan! Dia fikir ini jam berapa? Untung aku menginap di sini." ujarnya lalu memakai pakaian dan celana panjang miliknya.


Carl keluar dari kamar, lalu mengambil kunci mobil diatas nakas dan segera keluar dari unit apartemen yang sengaja dia sewa.


Bugh!


Pukulan telak tepat mengenai rahangnya begitu dia membuka pintu keluar. Dan terbeliak sempurna saat melihat Irsan di hadapannya.


"Dugaanku benar! Kau yang memberikan laporan itu pada ibuku. Kau bahkan menginap di sini? Cukup dekat untuk menjadi tangan kanan ibu dan melaporkan semua padanya, berapa ibuku membayarmu sampai kau mau melakukannya. Hah?"


"Tunggu! Kau salah paham."


.


.


Hari senin nih. Yok kasih dukungan sebanyak banyaknya, othor kasih 3 bab hari ini. Kwkwk.


Othor gak kasian sama cece, dia kuat kok. Wkwkw