I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.164(Suapin)



Keesokan pagi


Pagi pagi sekali Cecilia sudah terbangun, karena alarm yang memekik tepat ditelinga, tidak hanya satu alarm saja yang berbunyi melainkan 3 benda yang berdering bersamaan. Jam weker diatas nakas, jam digital disebelah telinga juga ponsel di sebelah jam weker.


Cecilia terperanjat dengan kesal, melemparkan bantal tepat pada jam weker di atas nakas.


"Ihh ... Anjim banget! Ini gue udah bangun." gerutunya kesal dengan kedua kakinya menapak di atas lantai. "Punya pacar kebangetan banget!" desisnya lagi sambil mematikan ketiga benda yang terus berbunyi nyaring.


Ya, sejak semalam Irsan mewanti wanti agar dia bangun pagi agar tidak terlambat pergi ke kampus. Irsan sempat menemaninya sampai dia tertidur, alih alih ikut tidur pria itu memilih kembali ke rumah sakit dan tidur di ruangan prakteknya. Sebelum pergi, dia sudah menyetel alarm alarm agar berbunyi di pagi hari.


Cecilia mendengus, berjalan gontai ke dalam kamar mandi dengan kedua mata yang masih menyipit. Gadis yang kerap bangun siang itu terus menggerutu tidak jelas pada orang yang bahkan tidak ada di sana.


"Liat aja! Aku bakal buktiin kalau aku bisa lulus dengan nilai cumloude, dan minta hadiah yang gak bakal bisa dia sangka sangka!" desisnya sambil menggosok gigi.


Setelah itu barulah dia mengguyur seluruh tubuhnya dibawah shower.


Setelah ritual bersih bersihnya selesai, Cecilia keluar dari kamar dan mendapati selembar note kecil di atas boks, pesan singkat, jelas dan padat dia baca dengan pelan lalu mendengus.


'Hangatkan di microwave sebelum dimakan.'


"Apaan ... Gak ada emotion love atau apa kek. My love, i love you atau morning. Dasar!" dengusnya menempelkan memo itu pada pintu kulkas, namun dia juga mengikuti arahan Irsan yang tertulis di note itu. Tak lama kemudian terdengar pintu terbuka, Irsan masuk ke dalam dengan setelan yang sudah rapi.


"Kau sudah siap?"


"Hm ... Tinggal sarapan!" ujarnya dengan memainkan sendok, sementara microwave baru saja berbunyi. "Nah!" ujarnya dengan bangkit dari duduk.


"Kita akan terlambat, makan saja di mobil. Ayo." Irsan mengambil tas Cecilia yang berisi laptop.


"Iiihhh ... mana enak!"


"Bisa ayo! Aku harus kembali ke rumah sakit."


"Ya udah sih! Ke rumah sakit aja, aku bisa pergi sendiri."


Irsan menggelengkan kepalanya. "Biar aku antar sebelum aku ke rumah sakit."


"Lagian ya, arah kita beda. Nanti kau terlambat!"


Irsan menarik tangannya, mengambil boks makanannya juga. "Sudah ayo ...!"


Keduanya keluar dari unit, berjalan beriringan dengan semua barang yang di bawa Irsan.


"Sampe segitunya gak percaya kalau aku bakal pergi ke kampus."


"Bukan begitu!"


Cecilia mendengus, masuk ke dalam lift terlebih dulu.


"Aku benar benar ingin mengantarkanmu, walaupun aku sibuk. Aku akan berusaha menyempatkan waktu!" jawab Irsan datar dengan menekan tombol di lift.


Cecilia menoleh dengan mengulum senyuman, "Ah ... Masaa sih!"


"Hm ...!"


Senyuman Cecilia semakin merekah saja saat mendengarnya, dia melingkarkan tangan dilengan Irsan. "Sweet banget sih pacarnya aku."


"Cecilia. Jangan menyender seperti ini!"


"Kenapa. Cuma kepalaku aja kok!" Cecilia terkekeh.


Ting


Keduanya keluar dari lift, berjalan ke arah mobil Irsan.


"Mana kunci mobilnya? Biar aku yang menyetir." ujar Cecilia menengadahkan tangan.


"Biar aku saja! Kau kan belum sarapan, jadi kau bisa makan sementara aku menyetir."


"Aku tidak mau! Aku ingin menyetir dan kamu yang nyuapin aku makan."


"Cecilia!"


"Ya udah kalau gak mau. Aku juga gak mau ke kampus kalau gitu."


"Cecilia!"


"Terserah ... Pilihanmu cuma ada dua sayang, suapin aku atau aku gak akan ke kampus." Cecilia merebut tas dan bok makanan dari tangan Irsan.


"Ya udah yuk!" Ajak Cecilia dengan masuk ke dalam mobil, kedua matanya mengerling menatap Irsan yang kini berjalan memutar ke arah pintu samping lalu masuk.


Gadis itu tak henti hentinya mengulas senyuman saat Irsan mulai menyuapinya sarapan. Walaupun caranya teramat datar, sesekali berdecak karena bibir Cecilia berantakan.


"Kau ini makan seperti anak kecil saja!" dengus Irsan.


"Ya kan aku sambil nyetir sayang! Arahin sendoknya yang bener dong, maju kek dikit." tukas Cecilia dengan kembali terkekeh.


Irsan memajukan tubuhnya agar lebih dekat dan suapannya pada Cecilia tepat, gadis itu terkekeh sembari terus memperhatikan ruas jalan.


"Nanti aku akan menjemputmu sepulang kuliah, tunggu aku dan jangan kemana mana."


"Memangnya kenapa? Aku udah lama lho gak hang out bareng temen temenku."


"Kenapa kau selalu tidak menurutiku?"


Cecilia hanya mengerdik dengan memperlihatkan deretan giginya yang putih.


"Memangnya kau tidak sibuk?"


"Aku hanya akan mengurus kepulangan ibu saja."


"Apa aku boleh ketemu dia lagi?"


Irsan kembali menyuapikan sendok terakhir ke dalam mulut Cecilia. "Bibirmu kecil tapi ternyata sangat dalam."


"Emang. Mau tahu sedalam apa mulutku?" Cecilia menggoda Irsan yang kerap bercanda tapi tidak pernah lucu itu.


Irsan mengernyit, lalu Cecilia semakin terkekeh sembari mencubit pipi Irsan. "Bingungkan! Makanya, aku bertanya apa jawabnya apa, udah tahu kalau bercanda gak pernah lucu, sekalinya dicandain pasti gitu. Gemess tahu!"


Bertepatan dengan sampainya mereka di gerbang kampus dimana Cecilia mencari ilmu. Gadis itu mematikan mesin kendaraan lalu menghadap ke arah Irsan.


"Apa riasanku berantakan?"


"Tidak!"


"Tidak dilihat magsudnya, lihat aku dulu sebentar kenapa sih?" ujarnya pada Irsan yang sibuk sendiri.


"Hm ...!" Akhirnya Irsan menolehkan pandangan ke arahnya, menatap wajah Cecilia yang cantik. "Gak ada yang berantakan!" ujarnya lagi dengan menyapu ujung bibir Cecilia. "Saos!" sambungnya lagi.


Tanpa dia minta Cecilia mengecup bibirnya sekilas namun berkali kali.


Cup


Cup


Cup


Gadis itu terkekeh lalu keluar dari mobil dengan cepat. "Bye sayang!"


Irsan yang terkesiap hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, dia menatap Cecilia yang berjalan masuk dengan wajah sumringah, gadis itu kembali menoleh ke arahnya lalu melambaikan tangan.


"Dasar!" gumamnya lalu keluar dari mobil dan masuk kembali melalui pintu kemudi.


Cecilia sebenarnya malas ke kampus dan belajar. Dia tidak seperti Nita yang rajin dan berambisi ingin cepat lulus dan bekerja seperti layaknya orang lain. Sementara Cecilia terlihat santai saja, tidak ada keinginan ataupun ambisi dalam hidupnya, asalkan hidup senang dan tentu saja bernafas.


"Ce. Gak salah lo?" Teriak Nita yang baru saja keluar dari mobilnya. Dia menghampiri sahabatnya yang beberapa hari tidak bertemu itu. "Bakal ada ujan topan nih kalau lo masuk dan dateng jam segini!"


"Gue ada projek baru! Lo mau bantuin kagak?"


"Apaan?"


"Kalau gue bisa lulus comloude. Gue bakal minta hadiah sama Irsan. Makanya mulai hari ini gue bakal rajin kuliah dan lo wajib bantuin gue buat ngejar materi yang gue gak ngerti!"


"What! Projek sialan itu mah. Gak cukup lo nyusahin gue? Masih juga mau lebih nyusahin gue lo."


"Elah ... lo kebangetan sama gue! Lo juga sama sama nyusahin gue Nit." Cecilia terkekeh dengan marangkul bahu sahabatnya itu.


"Anjim lo emang! 3 hari gak ketemu tuh lo kasih gue apa gitu, ini malah kasih beban!"


.


Jangan lupa dengerin juga versi audiobooknya. Dijamin makin seru. Suaraaa beuhhh... Cece banget deh. Gak percaya ... Cek aja sendiri. follow juga Dubbernya . Alka. Makasih