I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.284(Kok aku yang di hukum)



"Kau yakin tidak ada masalah serius dengan mereka?" ujar Irsan saat mereka berdua berjalan keluar.


Cecilia menggelengkan kepalanya, lalu mengerdik pura pura tidak tahu, "Enggak ... Mungkin!" terkekeh dengan sendirinya.


Yang justru membuat kejanggalan dan Irsan semakin curiga, pria itu memicingkan pandangannya dan senyuman Cecilia mendadak hilang.


"Kamu ini kayak yang gak tahu aja deh, kalau pun ada masalah ya mereka bisa lah nyelesaikannya berdua." ucapnya dengan alis yang naik turun.


Irsan mengernyit, menatap wajah istrinya dengan heran.


"Apa yang kau maksudkan itu?"


Ceciia terkekeh lagi lalu terlihat menarik nafas panjang. "Kalau kayak gini aku inget Nita, sampai hari ini aku gak tahu dimana dia. Tuh anak kayak ilang di telan bumi dan sampai hari ini aku gak tahu kabarnya."


"Bersabarnya, mungkin dia masih perlu waktu untuk menenangkan dirinya dan kalau sudah waktunya kita pasti akan bertemu dengannya." sahut Irsan dengan mengelus punggungnya.


Cecilia mengangguk, yakin jika dimana pun Nita berada pasti akan baik baik saja, kesalah fahaman antara mereka yang tidak disadarinya juga merasa semuanya baik baik saja menurutnya.


"Jadi benar mereka ada apa apanya?" Irsan kembali ke pembahasan awal mengenai Tristan dan sepupunya.


"Astaga sayang takut amat sih,"


"Jelas saja, aku tahu bagaimana seorang pria ketika bersama seorang wanita,"


"Masa ... Kamu aja harus selalu aku pancing kok! Tahu apanya?"


Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam ruangan milik Irsan, Cecilia menghempaskan tubuhnya di atas kursi dan Irsan langsung duduk di meja kerja miliknya, waktu santai telah usai, kini saatnya kembali ke rutinitasnya yang padat.


"Justru itu, bukankah pria seperti itu sangat jarang, mungkin akulah satu satu nya yang harus di pancing terlebih dahulu, tapi apa kau yakin Tristan seperti itu, aku tahu itu tidak mungkin, dia berbeda denganku." Irsan mendengus pelan


Cecilia mengangguk dalam hati, dia tahu betul bagaimana Tristan bermain main tadi, bahkan dia tidak perlu arahan arahan lagi.


"Hah ...?"


"Kalau begitu, kita harus cepat mengurus pernikahan mereka."


"Astaga sayang!"


"Aku tidak bisa membiarkan sepupuku bermain main terlalu lama, dan membiarkan sampai mereka kebablasan!" ujarnya lagi dengan wajah datar.


Cecilia hanya menelan saliva, terlalu dini memutuskan pernikahan terlebih dia taahu jika Ines dan Tristan baru berhubungan kembali dalam beberapa hari ini.


Cecilia bangjit dan menghampirinya, "Menurutmu bagaimana sosok Tristan itu?"


Irsan mendongkakkan kepala menatapnya, "Dia sepertimu, banyak bicara dan sedikit konyol, tapi kau lihat hari ini? Dia seperti orang bisu, tidak berkata apa aapa dengan raut wajah anehnya, terlihat seperti orang yang berdosa. Kau fikir apa yang ada di sekitar bibirnya selain lipstik?" tanyanya menohok.


Glek!


"Ya ... Mungkin ... Aku gak tahu apa itu?" Cecilia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Emangnya itu lipstik ya? Bukan pentol pedas atau makanan khas daerah yang kerupuk mentah itu?"


Tatapan Irsan semakin tajam, dengan sekali gerakan saja dia menarik pinggang sang istri hingga dia terjatuh tepat di pangkuannya.


"Kau fikir seperti itu?"


Masih dalam keadaan tersentak Cecilia terkekeh, "Ya kau gak tahu ... Itu mungkin aja kan!"


Irsan kembali merekatkan tangannya di pinggang Cecilia, "Aku tahu kau hanya pura pura tidak tahu untuk menutupi kesalahan mereka, kalau kau tidak mengatakannya, aku yang akan menghukummu! Aku serius."


Setelah mengatakaan hal itu, Irsan mendorong tubuh Cecilia hingga gadis itu kembali berdiri, lalu dia sendiri kembali fokus pada pekerjaannya.


"Hey ... Gak bisa gitu dong! Masa mereka yang enak enak kok aku yang di hukum!"