I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.298(Yakin itu?)



Irsan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, berharap segera menyusul Cecilia dan menghentikannya, berkali kali dia juga menghubungi nomor ponsel sang istri namun tidak jua diangkatnya.


Dan Cecilia pun melakukan hal yang sama dengannya, mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi tanpa peduli dering ponsel terus berteriak memanggil. Yang ada di fikirannya saat ini hanyalah segera menemui Nita.


Firasat Irsan jika Cecilia melihat pesan dari seorang informan diponsel miliknya memang benar, tanpa sengaja Cecilia mendapati laporan terbaru dari seseorang yang dikirim Zian untuk membantunya.


Dan perjalanan dua jam yang terasa singkat itu mengantarkan Cecilia ke sebuah rumah, di mana dia segera turun dari mobil dan langsung masuk tanpa memperdulikan apa apa.


Tok


Tok


"Nit ... Nitaa!" serunya seraya mengetuk pintu dengan keras.


Karena tidak ada jawaban dari dalam, Cecilia mendorong pintu dengan sekuat tenaga, namun pintu itu terkunci dari dalam, sampai dia berusaha mengintip di jendela dan melihat kunci tergantung di lubang pintu.


"Sialan ... Dikunci lagi!" gumamnya dengan berkacak pinggang, seraya berfikir bagaimana caranya bisa masuk.


"Nit ... Gue tahu lo di dalem, lo pengecut sampe terus ngumpet dan ngebiarin masalah kita jadi makin buruk kayak gini, lo tahu selama ini gue nyariin lo kemana mana, gue bilang gue gak bakal peduli lagi sama lo tapi nyatanya gue bohong, gue minta maaf sama lo Nit, gue emang salah, gue banyak salah sama lo, gue egois dan gue gak peduli sama perasaan lo, gue juga gak mikirin kebahagiaan lo!" teriaknya dengan kembali menggedor pintu.


Nita yang bersembunyi di dalam kamar jelas mendengarnya, gadis itu pun menggigit bibir dan sekuat tenaga menahan air mata, apa yang dirasakan Cecilia sama dengan apa yang dirasakannya selama ini, tapi kemarahannya dan juga masalah yang menimpanya bertubi tubi membuatnya mengenyampingkan perasaan yang sebenarnya dan hanya ingin pergi menjauh saja.


"Nit ... Buka pintunya, kita harus ngomong!"


Nita masih berdiam diri, menyandarkan diri di belakang pintu, sampai akhirnya suara pecahan kaca mengagetkannya.


Prryyaaarr!


Tidak kehilangan akal, Cecilia akhirnya mengambil batu dan memecahkan kaca hingga pecah, kemudian menyelusupkan tangan untuk membuka kunci dari pintunya.


"Inget Nit, gue masih orang yang sama ... Gue masih nekat!" gumamnya.


Tidak lama kemudian, Cecilia membuka pintu dan masuk, benar dugaannya jika Nita ada di dalam, beberapa barang miliknya bahkan ada di sana, ponsel dengan wallpaper yang tidak pernah di rubah sejak dulu dan sebuah kipas angin yang terus berputar.


Pandangan Cecilia mengarah pada sebuah kamar berwarna coklat yang tertutup, perlahan dia mendekat dan menghela nafas setelahnya.


"Nit ... Lo mau sembunyi dari gue sampai kapan? Lo gak sayang sama gue dan mau lupain semua perjuangan kita, kita bukan hanya sekedar sahabat, kita lebih dari saudara Nit. Ayo keluar dan ngomong sama gue!" ucapnya dengan suara bergetar, mencoba menahan diri agar tidak menangis.


Nita semakin menggigit bibirnya, namun tetap saja air matanya tidak mampu dia tahan saat mendengar suara Cecilia yang bergetar.


Perlahan lahan pintu terbuka, ruangan gelap itu kini mulai bercahaya dan menampakkan sosok Nita yang selama ini menghilang. Cecilia tercengang melihatnya, perut besar yang langsung menjadi pusat perhatiannya, dan wajahnya yang basah.


"Nit ... Lo?" lirih Cecilia yang tidak kuasa lagi menahan air matanya dan akhirnya menangis.


Nita sudah sesegukan, dengan air mata yang turun bebas dengan kedua bahu bergetar naik turun, keduanya saling menatap dan sama sama menangis.


"Ce ...!"


"Nita ... Gue minta maaf, gue salah ... Gue bohong soal Serly, bukan sama lo doang, tapi sama Nia juga, gue ngelakuin itu karena Serly yang minta, gue juga ngelarang lo buat suka sama Carl tanpa peduli perasaan lo, gue bahkan gak mau bantuin lo sementara lo bantuin gue mulu! Gue minta maaf Nit!" Cecilia menangkup kedua tangan dan sesegukan.


"Enggak Nit ... Nyatanya gue gak bisa, gue bohong soal itu, selama ini gue nyariin lo tapi lo selalu sembunyi dari gue, gue minta maaf Nitaa! Sampe lo kayak gini dan gue gak tahu sama sekali, lo kebangetan banget Nita, segitu marahnya lo sama gue sampe gue ... Gue gak tahu kalau lo hamil?"


Nita semakin menangis sesegukan, terlebih saat Cecilia berhambur memeluknya dengan menangis hebat dan terus minta maaf.


Dan lambat laun kedua tangannya pun ikut memeluk Cecilia dengan erat, keduanya saling memeluk dan menangis, melupakan kesalah fahaman yang terus berlarut larut sejak lama.


"Ce ... Gue hamil!"


"Gue tahu, lo hamil segede gini masa gue gak lihat! Lo nikah sama Toni kan? Gue juga lagi hamil dan minta maaf karena gue nikah gak ngabarin lo, tapi---"


"Aarggrrhh!"


Nita mengurai pelukan dan memegangi perutnya yang terasa sakit, sampai kedua pahanya basah dengan air yang mengalir seperti mengompol.


"Ce ... Sakit banget!"


"Nit ... Lo ... Jangan bilang lo mau ngelahirin!" Cecilia mulai panik, memegangi kedua bahu Nita. "Kita ke rumah sakit sekarang!"


Nita menggelengkan kepalanya, "Rumah sakit jauh dari sini Ce ... Gue harusnya jadwal ceasar minggu depan, tapi ... Arrgghh! Sakit banget ...!"


"Ya udah buruan, hubungi laki lo ... Mana ... Mana nomornya!" ujwr Cecilia menyambar ponsel Nita diatas meja dengan kepanikan.


"Ce ... Arrghhhh!"


Nita sudah bersandar di tembok, lambat laun tubuhnya meluruh ke lantai, dengan darah yang mengalir di sela pahanya. "Gak mungkin gue ngelahirin disini, jadwal gue udah ditentuin!"


Cecilia masih mengotak ngatik ponsel milik Nita, namun dia tidak menemukan nomor kontak Toni di dalamnya. "Gak penting Nit, buktinya lo sekarang mau brojol! Mana sih nomor si Toni, lo kasih nama siapa laki lo ini!"


Keringat dingin sudah bercucuran di dahi Nita, dia juga tidak bisa menjawab pertanyaan Cecilia karena memang selama ini dia tidak menyimpan nomor kontak Toni, pria itu akan datang setiap hari tanpa dia minta. Dan hubungannya, ahk ... Kita bahas nanti saja, tidak ada waktu untuk menjelaskan semuanya saat ini.


"Ce ... Gue bisa ngerasain kepalanya keluar! Arrggghhh ...!" teriaknya.


Tidak ada waktu lagi, Cecilia melemparkan ponsel milik Nita saat itu juga dan langsung berlari ke arahnya. Tidak peduli perutnya kini merasa kram dan ikut tegang.


"Lo yakin itu keppala bayinya?"


Nita mengangguk, "Gue ... Argghhhh! Gue mau ...!"


Tidak ada pilihan lain selain membantunya melahirkan saat itu juga, tanpa alat, tanpa pelatihan apapun, hanya bermodal nekat saja.


"Ayo ... Gue bantuin lo ngelahirin!"


.


.


Wkwkwkw ... sekalinya ketemu kok langsung ngabruttt bae sih kalian. Miss kalian berdua. CeceNit