
Itu___"
"Aku gak pernah salah, aku tahu Nita ada di sini sebelumnya atau mungkin dia masih di sini tapi gak mau nemuin aku. Iya akan nyonya?" Tebak Cecilia.
Wanita paruh baya itu tidak bisa lagi berkata kata. Terlebih saat Cecilia berjalan ke arahnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Nyonya penjaga rumah itu tertunduk takut karena melihat tatapan tajamnya. Kedua telapak tangannya bahkan sampai berkeringat dingin.
"Nyonya aku mohon ... Nyonya pasti tahu di mana Nita dan Toni sekarang, apa mereka tahu aku kesini dan mereka ngumpet? Apa dia sekarang lihat aku juga. Nyonya bilang dimana sahabatku sekarang, aku udah lama nyariin dia dan aku khawatir, aku juga mau minta maaf karena udah bersikap egois selama ini, aku juga mau minta maaf karena aku nyembunyiin masalah besar selama ini, tapi aku gak ada maksud buat bikin dia begitu. Sungguh! Aku khawatir dan aku rindu sahabatku." Ucap Cecilia dengan berkaca kaca. "Apa perlu aku sujud pada nyonya sekarang juga agar nyonya beritahu Nita dan Toni berada." Ucapnya lagi dengan bercucuran air mata, membungkukkan tubuhnya hendak bersujud. Namun Irsan segera mencegahnya.
"Kau tidak perlu melakukan hal ini, jika dia memang ingin melakukannya, dia pasti akan memberitahu kita di mana Nita dan Toni berada!" ucapnya sedikit menohok.
"Tapi ...! Tapi ... Aku ingin ketemu Nita dan minta maaf!"
Irsan menenangkannya dengan merengkuh pundaknya dan mengelusnya lembut, satu moment sentimentil yang tengah di rasakan sang istri, akan lelahnya selama ini dalam mencari Nita, kesalah fahaman yang berlarut larut. Hampir semua orang yang mereka tanyai mengatakan tidak tahu, walaupun Cecilia terlanjur yakin jika Nita memang tidak ingin bertemu dengannya lagi.
"Nyonya aku mohon," Cecilia menangkup kedua tangannya. "Kasih tahu aku!"
"Sebenarnya....!"
Cecilia dan Irsan harap harap cemas saat nyonya penjaga rumah mengeluarkan suaranya. Keduanya sangat berharap segera menemukan Nita guna menyelesaikan masalah.
Nakun seseorang masuk tanpa mereka sadari dan membuat semua orang tersentak.
"Nita tidak ingin lagi bertemu dengan kalian, khususnya dengan anda Nyonya Cecilia. Dia baik baik saja dan jangan khawatirkan dia. Dan saat ini Nita tengah berada ditempat yang baik. Jadi tenanglah dan mari lanjutkan hidup masing masing tanpa harus saling mengusik."
Cecilia menggelengkan kepalanya, menatap tajam pria tinggi yang berdiri di ambang pintu.
"Jangan bohong Toni! Katakan dimana Nita?"
Cecilia menerjang ke arah Toni dan langsung merangsek kerah kemeja yang dia kenakan. "Bilang di mana Nita sekarang!"
"Sudah aku katakan dengan jelas. Nita tidak ingin bertemu denganmu lagi, sekalipun kau menemukannya di satu tempat, sekalipun kalian berpapasan dijalan Nita tidak ingin mengenal mu lagi, itu pesannya padaku agar menyampaikannya padamu." terang Toni menohok.
"Gak mungkin!"
"Itu sangat jelas!" sahut Toni lagi yang berusaha melepaskan kedua tangan Cecilia yang mencengkramnya.
Irsan pun ikut serta melepaskan Cecilia yang mulai histeris tanpa kendali, dia memukul mukul Toni dengan membabi buta namun Toni tidak tergoyahkan.
"Cecilia ... Hentikan sayang tenanglah kendalikan dirimu!"
"Gimana aku bisa tenang? Gimana aku bisa tenang hah? Semua orang gak bisa bantu aku, semua orang sama aja, kenapa Nita gak mau nyelesaikan masalahnya sama aku, kenapa dia terus ngumpet dan gak nemuin aku! Dan kau ... Kau yang selama ini ngumpetin dia kan? Kau orangnya!" tunjuknya pada Toni dengan wajah memerah, antara sedih dan marah yang bercampur menjadi satu.
Irsan menahan tubuhnya yang terus berusaha menyerang Toni yang tidak bergeming sama sekali, wajahnya saja bahkan sangat datar melihat keduanya.
"Maaf Mas ... Aku tidak bisa membantu!" ucapnya pada Irsan, walaupun Irsan adalah orang yang amat dia hormati tapi Toni juga tidak mungkin menghianati Nita. Gadis yang dia cintai dengan tulus.
Setelah mengatakannya, Toni berlalu begitu saja dari rumah peninggalan sang nenek yang selama ini di tinggali Nita, entah kemana dia pergi karena Cecilia yang mengejarnya pun tidak dapat menemukannya.
"Toni ... Brengsekk!" teriaknya keras.
"Cecilia?" ucapnya dengan menepuk nepuk pipinya.
Namun Cecilia tidak bereaksi, fikirannya mungkin terguncang karena masalah ini. Sangat melelahkan dan membuatnya frustasi, hubungan persahabatan yang sudah terjalin sangat lama dan begitu banyak makna berakhir begitu saja hanya karena kesalah fahaman. Cecilia jelas tidak dapat menerimanya walau bagaimanapun.
Irsan membawanya masuk lagi ke dalam, merebahkannya di atas sofa dan melepaskan sepatu yang dikenakannya. Dia tidak mungkin kembali ke kota dalam kondisi seperti ini, ditambah perjalanan mereka yang cukup memakan waktu.
"Boleh aku minta segelas air putih?" Cetus Irsan pada sang penjaga rumah.
Wanita itu mengangguk, berjalan tergopoh gopoh ke arah dapur dan kembali dengan membawa apa yang di minta Irsan.
"Sayang ... Bangunlah!"
"Tuan, coba beri istrimu minyak angin." ujarnya dengan menyodorkan minyak angin pada Irsan.
Irsan menerimanya, "Terima kasih," ujarnya dengan langsung menggosokkannya lembut pada hidung Cecilia.
Perlahan Cecilia mengerjapkan ngerjapkan kedua matanya setelah beberapa kali Irsan memberikan aroma minyak angin.
"Nita ... Pulang lo Nit ... Pulang, sini pulang sama gue!" Cecilia langsung menangis saat ingat perkataan Nita yang disampaikan Toni tadi, bagaimanapun juga dia masih tidak terima jika kesalahannya membuat Nita pergi.
"Kau sudah sadar? Kemarilah." ucapnya dengan memeluknya lembut. "Kita pulang yaa."
"Aku belum ketemu Nita, aku mau ketemu Nita ... Aku mau ketemu Nita!" Ucapnya berulang ulang.
"Kita akan terus cari Nita, tapi setelah kondisi mu tenang, kita tidak bisa mencarinya dengan kondisi mu yang seperti ini. Ok?" ucap Irsan yang berusaha membuat Cecilia tenang.
Namun cara apapun tidak dapat membuat Cecilia tenang, bahkan sejak mereka keluar dari rumah Toni dan Cecilia terus menangis sepanjang jalan.
"Sudah ya ... Kita pasti akan temukan Nita. Cepat atau lambat." Ucap Irsan dengan terus melajukan mobil untuk kembali pulang.
Cecilia hanya terdiam, hanya air matanya saja yang terus menganak pinak. Sesekali dia menyusut air matanya dengan ibu jari dan menatap jalanan. Suasana semakin sendu dengan rintik hujan yang perlahan turun, membuat kaca mobil menjadi berembun dan hawa semakin dingin saja.
"Nita paling suka hujan, katanya hujan selalu bisa bikin dia seneng. Kita pernah sama sama nangis sambil hujan hujanan dan setelah itu kita berdua tertawa tawa." cicit Cecilia yang terus mengingat kebersamaannya dengan Nita.
"Aku yakin kalian pasti bisa bertemu kembali suatu hari nanti."
"Aku harap gitu! Aku ingin minta maaf karena udah bikin Nita kecewa." ujarnya dengan kembali menangis.
Akhir akhir ini Cecilia tampak rapuh, dia terus memperlihatkan sisi dirinya yang lain. Sekuat apapun seorang Cecilia, nyatanya dia hanya gadis yang lemah.
"Nita ... Gue harap dimanapun lo berada, lo inget gue dan tempat lo buat pulang Nit."
.
.
Maafin othor ya Nit, lo kena imbas othir yang galau, slow but sure othor pasti tanggung jawab sama lo nanti ya ... Tunggu jangen kemene mene lo ... Wkwkwk,