I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.67(Jangan Takut)



"Police Anxiety. Satu masalah mental karena seseorang cenderung cemas saat melihat polisi."


"Aku tahu itu! Aku kan kuliah psikologi." tukas Cecilia.


"Benarkah? Jadi kau tahu jika hal itu hanya masalah kecemasan yang bukan pada tempatnya. Biasanya orang takut polisi karena memiliki kesalahan, atau sepertimu. Berada di dalam kelompok yang melakukan kesalahan sehingga kau ikut ikutan takut. Atau bisa juga karena stigma masyarakat kita yang mengatakan semua polisi itu menakutkan. Mereka kerap menangkap orang atau merazia, padahal kalau kita sendiri taat aturan. Kenapa harus takut." jelas Irsan panjang lebar, sebagai dokter tentu saja dia tahu.


"Sejak kecil aku sudah ada dilingkungan yang buruk, tiap aku melihat mereka menggrebek rumahku aku selalu sembunyi di kolong ranjang atau lemari. Mereka menangkap ayah tiri dan ibuku, walau besok paginya mereka selalu pulang. Tapi aku akan selalu takut, itu terus berulang ulang sampe beberapa tahun, jadi kau tahu rasanya Dokter Irsan?" Ucapnya penuh penekanan. "Dokter hanya bisa menganalisa satu gejala yang muncul saja. Tapi gak tahu rasanya kan. Aku ... Atau mereka yang mengalaminya sendiri, terlebih karena itu terjadi saat kecil.. Dan kebiasaan itu ada sampai sekarang, aku selalu cemas bahkan saat melihat polisi di jalanan." ucapnya dengan membuka dompet dan memperlihatkan surat surat kendaraan bahkan sim yang dia dapatkan. "Kau lihat, bahkan semua aku punya! Alasanku hanya itu, aku selalu cemas berlebihan. Walau aku tahu itu hanya penyakit mental saja. Tapi---"


Baru kali ini rasanya percakapan mereka terasa berbobot dan memiliki banyak makna, Irsan bisa menilai jika sebenarnya Cecilia itu pintar, hanya saja dia terlalu malas dan tidak mementingkan pendidikannya. Sampai dia mengulas senyuman saat Cecilia terus bercerita.


Lift terbuka, keduanya keluar walaupun langkah Cecilia terasa amat berat, Irsan harus beberapa kali melambatkan langkahnya agar gadis itu kembali sejajar dengannya.


"Semoga mereka sudah pergi." desisnya pelan.


"Sayang sekali! Aku sudah menyuruh mereka untuk menunggu." ujarnya datar.


"Ish ... percuma aja gue cerita panjang lebar kalau akhirnya tetep ketemu juga." gumamnya yang tidak menyangka kalau Irsan mendengar cicitannya padahal itu sangat pelan.


"Kau kan sudah bilang kalau kau tidak bersalah, jadi kau harus melawan kecemasanmu. Aku pastikan mereka tidak akan menakutkan."


"Ya ... Ya baiklah! Kau lebih menakutkan sekarang dibanding mereka." Irsan hanya mengulum senyuman melihatnya.


Dan benar terjadi, jantung Cecilia berpacu lebih cepat dibandingkan sebelumnya hanya karena melihat salah satu dari mereka menatapnya, padahal mereka saat ini bahkan tidak memakai seragam. Melainkan pakaian biasa. Salah satu dari mereka menyambut Irsan, dibelakangnya Cecilia bersembunyi bak seorang anak kecil.


"Ini orang yang kalian cari." ujar Irsan bak seorang pemburu yang tengah menyerahkan mangsa buruannya.


Cecilia melebarkan kedua pupilnya, mendengar Irsan yang seolah sengaja agar mereka cepat cepat menyelidikinya.


"Ingat ... asal kau benar tidak salah aku akan membantumu dan ingat jangan berulah." ucapnya memperingati karena tahu bagaimana pintarnya gadis itu jika membuat masalah. "Agar mereka segera melakukan tugasnya dan selesai dengan pekerjaannya, kau bisa bebas dari masalah pacar brengsekk mu itu." ungkapnya lagi dengan pelan sebelum polisi menghampirinya.


Cecilia hanya mendengus lalu dengan sengaja menabrak lengan Irsan saat melewatinya.


"Kami akan menggeledah unitmu Nona Cecilia." ucap salah satu polisi dengan memperlihatkan surat penggeledahan yang resmi dari kepolisian.


Keringat dingin mulai bermunculan, kecemasan yang luar biasa kini dirasakannya, dengan bibir bergetar dan tentu saja suara yang keluar dari mulutnya pun terbata bata.


Sementara Irsan terlihat bicara pada salah satu dari mereka dan menceritakan apa yang dialami oleh Cecilia hanyalah gejala Police anxiety.


Semuanya berjalan masuk kedalam lift, anggota abdi negara yang berjumlah lebih dari enam orang itu ditambah Irsan dan juga Cecilia yang berada di dalam lift. Sementara orang lain yang kebetulan berada disana dan melihatnya enggan masuk ke dalam lift.


"Mereka juga sama sepertimu! Police Anxiety. Apa semuanya perlu di periksa juga?" gumam Irsan yang membuat Cecilia mendengus kasar.


Kedua tangannya bergetar hebat, wajahnya cemas dengan terus melirik angka angka lantai yang muncul di atas pintu lift. Sementara para anggota polisi berada di belakangnya.


Irsan perlahan menggenggam tangannya dengan erat dan membuat Cecilia sedikit tersentak lalu menoleh ke arahnya.


"Jangan takut! Ada aku." ujarnya datar tanpa sedikitpun menoleh.


Cecilia akhirnya merekatkan tangannya dalam genggaman hangat Irsan. Dia juga merasa sedikit tenang saat ada orang yang mengatakan hal itu. Terlebih orang tersebut adalah Irsan.


"Makasih."