
"Gadis itu sangat kurang ajar!" desisnya dengan membayangkan wajah Cecilia yangbceria saat menceritakan tentang Irsan. "Dia ... Berani sekali mempermainkan ibu!" sambungnya lagi, bayangan Cecilia semakin jelas dipelupuk mata, Embun memejamkan mata mengusir bayangannya, namun justru lebih jelas lagi suara Cecilia saat bercerita dengan gayanya sendiri.
"Ibu ... Sudahlah, ibu hanya lelah saja!"
Ines mendorong kursi agar Irsan yang tengah berdiri dengan tubuh yang sedikit mencondong itu terduduk, sampai akhirnya pria tinggi tegap berusia 40 tahun itu mendudukkan bobot tubuhnya dikursi.
Embun tak jemu menatapnya, menatap putra satu satunya yang dia lahirkan. Genggamannya semakin erat, dengan bulir bening yang kini turun perlahan. Entah kapan dia merasakan moment sedekat ini dengan Irsan, rasanya sudah lama sekali.
Banyak kata yang ingin keluar dari mulutnya, namun tenggorokannya seakan tercekat begitu saja. Sampai dia hanya bisa terdiam saja.
"Aku akan memeriksa apa benar Infus itu beracun atau tidak!" Irsan sendiri merasakan hal yang sama, mereka sama sama canggung karena hubungan diantaranya tidak pernah lagi sedekat ini.
Lagi lagi Embun menggenggam tangannya, serta menggelengkan kepalanya, "Jangan pergi! Kalau kau pergi, dia pasti akan kemari lagi dan berbuat kurang ajar lagi pada ibu."
"Bu! Aku yakin Cecilia tidak melalukan apa yang ibu tuduhkan! Aku akan bicara padanya sekarang juga."
"Apa kau akan memutuskan hubunganmu kalau dia benar benar melakukannya?"
"Ya!" Jawabnya menohok, "Tentu saja! Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu."
Embun mengulas senyuman, "Terima kasih anakku."
***
Setelah menemui ibunya dan mengobrol banyak hal. Irsan segera menuju ruangan prakteknya untuk menemui Cecilia. Dia membuka pintu yang bahkan tidak dikunci itu.
"Apa yang kau lakukan pada ibuku?" bentaknya pada Cecilia yang baru saja bangkit untuk menyambutnya.
"Haish ... Datang itu cium dulu kek, ini udah marah marah aja!"
"Jawab aku Cecilia! Apa yang kau lakukan pada ibuku?"
Cecilia mengerdik, "Aku gak ngelakuin apa apa kok!"
Irsan mencekal lengannya. "Bohong! Kalau kau tidak melakukan apa apa kenapa Ibuku menjadi ketakutan begitu, dia juga bilang kau memasukkan racun ke dalam tabung infusnya dan berniat meracuninya. Apa lagi ulahmu ini Cecilia?"
Cecilia terkekeh, menepiskan tangan Irsan yang melingkar kuat di lengannya, "Marah marah lagi! Tadi udah manis. Pake cium aku segala, sekarang marah lagi."
"Itu semua karena kau! Aku sudah katakan kalau kau tidak boleh kemana mana, kunci pintu tapi kau justru pergi keluyuran, apa aku harus mengikatmu?"
"Ya itu karena aku bosan aja! Lagian ya, aku gak suka dikurung begini, aku juga cuma nengokin ibumu kok. Gak kemana mana."
"Itu masalahnya!"
"Tapi aku berhasil gak?" tanyanya dengan kedua alis yang naik turun.
"Apa yang berhasil?"
"Apa ibumu mengatakan semuanya padamu? Soal infus itu? Soal aku yang memasukkan racun ke dalamnya. Dan soal aku yang mengobrol banyak padanya?"
"Ya!"
"Terus apa reaksimu. Apa kau panik. Khawatir?" Tanya Cecilia dengan kedua mata menyelidik, "Aku rasa Ya."
"Astaga! Kau kan dokter, harusnya tahu dong. Aku ini hanya melakukan pendekatan psikoanalisis. Aku bercerita semua tentang mu dan ibumu terdiam, tidak bereaksi apa apa, cukup mendengarkan saja, itu artinya dia menikmati semua cerita tentangmu, tentang prilakumu, sifatmu. Yang dia butuhkan itu kamu. Cukup kamu." terangnya panjang lebar. "Soal racun itu aku minta maaf, itu sama sekali tidak ada di otakku, karena awalnya ibumu yang mengatakannya saat aku mengganti tabung infusnya, jadi terfikir hanya untuk memancing emosinya saja." terangnya lagi dengan mengulas senyuman. "Kau tahu! Aku kehilangan kasih sayang dari ibu karena kita sama sama sibuk mencari uang untuk makan, tapi berbeda denganmu yang kehilangannya karena mempertahankan ego, aku tahu tujuan ibu menawariku uang bukan semata dia memiliki uang saja, tapi dia ingin yang terbaik untuk anaknya. Ya walaupun kau ini sudah terlalu dewasa untuk di campuri ibumu sendiri." sambungnya lagi dengan kedua alis yang dia naik turunkan.
Irsan menghela nafas, "Kau tidak mengerti!"
"Aku emang gak ngerti apa apa soal keluargamu, tapi seenggaknya aku bisa faham situasi ini. Kau tahu, aku punya banyak masalah keluarga, aku tahu rasanya ditinggalkan ayah, aku tahu rasanya berdebat dengan ibu, dan aku tahu rasanya tidak dibela, aku tahu rasa sakitnya. Tapi, kau masih beruntung karena ibumu sehat dan bahagia, dia juga hanya membutuhkan anaknya saja. Bukan uang ataupun masalah sialan lainnya. Tapi apa kau tahu hati seorang ibu yang selama ini kesepian? Itu yang aku bisa katakan selama aku bicara dengan ibumu, dia hanya butuh kasih sayang dan perhatian yang tidak dia dapatkan dari anaknya." terangnya lagi dengan kedua mata yang berkaca kaca, "Dia merindukanmu, itu yang bisa aku tangkap dari diamnya saat aku menceritakanmu padanya."
Irsan terhenyak seketika, menatap gadis nakalnya yang banyak ulah dan selalu membuat masalah. Tapi dia juga melihat sosok Cecilia yang dewasa, yang mampu mengerti situasi tidak hanya situasinya saja, tapi situasi yang di alami ibunya.
Melihat Irsan terdiam, Cecilia melingkarkan kedua tangan dipinggangnya, menyelusupkan kepala di dada bidangnya. "Mencobalah untuk berbaikan dengan ibumu, dia udah tua. Kasian. Aku aja anak broken home tapi aku selalu pengen lihat ibuku senyum."
Irsan melingkarkan tangan memeluknya, ucapan gadis berusia setengah darinya itu membuatnya tertampar. Hubungannya dengan ibunya selama ini memang hanya karena saling mempertahankan ego, sama sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah.
"Kau bicara lebih dewasa dariku!"
"Itu karena aku mahasiswi psikologi!"
"Jadi kau mempraktekkan ilmu yang kau tahu itu pada keluargaku hem?"
Pelukan Cecilia semakin mengerat saja apalagi tebakan Irsan sangatlah tetap.
"Itung itung kuliah kerja nyata aja!" Cecilia terkekeh lagi.
"Kau ini!"
"Spend your time with your mom!" Bisik Cecilia lagi. "Aku yakin, ibumu akan lebih ngerti lagi."
Irsan mengurai pelukannya, "Kau tidak tahu ibuku seperti apa! Sudahlah, itu akan jadi urusanku. Ayo kita pulang saja."
Cecilia merengut, kedua orang dengan sifat yang sama persis, dia mendengus lalu mengikuti Irsan yang melangkah keluar dari ruangan.
"Kau salah! Itu juga akan jadi urusanku dong, mana mungkin aku biarin kamu nangung semuanya sendirian, apalagi dia ibumu yang artinya dia ibuku juga."
Irsan menoleh ke belakang sebentar, lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
"Kenapa? Kau tidak mau dia jadi ibuku juga?"
"Jadi kau akan jadi adikku?" Irsan terkekeh.
"Iih nyebelin banget! Aku gak mau jadi adikmu, adik kok disantap juga."
"Heh kau ini! Bicara sembarangan."
Cecilia tergelak, melingkarkan tangan pada lengan Irsan. Mereka lantas keluar dan meninggalkan rumah sakit.
"Ya lagian, tiap bercanda gak pernah lucu!"
.
Hayolo ... Kira kira si Cece bisa gak ya bikin emak gardu berubah. Bisa lah yaa, secara Cece gitu lho.