
"Kita bicara nanti ya ... lebih baik kamu istirahat."
Ambulance pun melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit milik Irsan, dan beberapa suster juga sudah berjaga jaga di depan rumah sakit. Tidak lupa juga Irsan menghubungi dokter Siska agar bersiap siap.
Walaupun kondisi Cecilia terbilang cukup baik, dia hanya perlu istirahat tanpa memikirkan apapun lagi termasuk keadaan Nita. Dan tanpa di pungkiri, Irsan melakukan hal yang terbaik untuk istri dan calon anaknya walaupun dengan kekhawatiran yang berlebihan.
Sirine ambulance bergaung di sepanjang perjalanan, membuat kendaraan roda dua dan juga roda empat menyingkir dengan kesadaran penuh. Mungkin semua orang akan mewajarkan dan menganggapnya biasa, tapi tidak untuk Cecilia.
"Sayang, bisakan suruh supir ambulance matikan sirinenya? Aku gak darurat sampe orang orang harus buka jalan buat aku?" lirihnya. Mengingat dulu dia sering kesal jika ada yang menyerobot kendaraannya. "Toh kita bisa santai aja kan? Aku gak bakal masuk ruang operasi juga!" Kali ini suaranya sedikit bernada tegas, mulai tidak suka jika perlakuan untuknya berlebihan mengingat dia hanya sedang hamil saja.
"Sayang, kita harus segera sampai ke rumah sakit, aku ingin kau dan calon anak kita dalam kondisi yang serba baik baik saja, hm?"
Cecilia berdecak, memilih bangkit dari pembaringannya dan kini terduduk, walaupun Irsan mencegahnya.
"Iihh ... Please sayang, aku gak apa apa! Aku bosan tiduran dari tadi, punggungku panas!"
Irsan yang duduk didepannya kini pindah, dia langsung mengecek punggung Cecilia dan memberikan pijatan lembut. "Mana yang panas, mana ...! Sus ... Kau bawa mikro therapy?"
Cecilia dengan segera menyuruh Irsan menghentikan pijatannya, entah kenapa pria itu sangat berlebihan sekali dan membuatnya kesal.
"Udah deh, aku gak apa apa. Gak usah lebay!"
"Sayang ... Aku hany___!"
"Stop. Diam dan gak usah banyak bergerak, aku ini cuma hamil dan gak ada yang aku keluhkan. Bukan penyakitan dan mau mati!" tegasnya dengan kedua mata yang terbelalak. "Satu lagi sayang, aku gak mau terlalu dimanja manja, aku eneuk!"
Irsan terdiam, hanya menatap wajah Cecilia yang lebih galak dari biasanya. Gadis yang selalu mencari perhatian dirinya sejak awal justru sekarang tidak menginginkannya.
Sampai mobil ambulance tiba di rumah sakit besar miliknya, para petugas yang sudah siap sejak tadi segera membuka pintu dengan membawa blankar.
"Dih mereka sama aja! Astaga...! Udah kayak mau mati aja sih!" desis Cecilia begitu pintu terbuka.
Irsan turun dan membantunya, namun Cecilia tentu saja menolak naik ke atas blankar dan kembali terbaring. Dia justru melenggang masuk dengan berjalan kaki.
"Sayang?" Irsan mengejarnya. "Kita pakai kursi roda saja ya?"
"Kaki ku sehat sayang, udah deh ... Mau periksa kan, udah periksa aja dan udah itu aku mau pulang, aku mau tidur!" ujarnya dengan terus melangkahkan kedua kakinya menuju ke arsh Dokter Siska yang sudah bersiaga.
"Cecilia?"
"Ayo Dokter Siska, aku udah siap." Cecilia mengulas senyuman lebar menatap sahabat suaminya yang hanya bisa heran dan terdiam.
"Sayang. Ayo!"
Siska berdecak menatap ke arah pria yang tidak bisa berkata kata lagi karena istrinya terlalu berbeda dengan wanita lain. "Irsan ... Istrimu bisa dikatakan sangat baik. Dan kau menelepon rumah sakit dan membuat kami resah menunggu kalian?"
"Aku hanya khawatir, sebagai seorang suami juga seorang ayah tentu saja aku tidak bisa tenang. Kalian berdua tanggung jawabku. Aku harus melakukan yang terbaik bagi kalian berdua. Kau dan anak kita!" ujarnya dengan tegas.
Siska menggelengkan kepalanya, melirik ke arah Cecilia lalu tersenyum. "Suamimu sangat perhatian, jadi kau juga harus bersikap baik padanya, banyak yang ingin mendapat perhatiannya, tapi dia memilih memperhatikanmu. Mengerti?"
Cecilia baru tertampar sedikit saja dengan ucapan Siska. Tak lama dia mengangguk, lalu melingkarkan tangan pada lengan Irsan. "Tentu dong dokter Siska, aku gak akan rela membagi perhatian dengan yang lain!"
Irsan menggelengkan kepalanya, "Kau ini!!"
Membuat Cecilia lamgsung menengadahkan kepala ke arahnya. "Maklum ... Mood swing karena hormon ibu hamil."
Keduanya akhirnya masuk ke dalam ruangan prakter Dokter Siska, dokter spesialis kandungan yang merupakan sahabat dari Irsan.
Setelah beberapa test yang harus di lakukan Cecilia, juga prosedur kesehatan yang dianjurkannya. Juga membaca hasil yang didapatkan dari klinik kecil di pesisian kota sebelumnya.
Siska mengulas senyuman saat membandingkan dua helai kertas serupa namun tidak sama ditangannya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya baik baik saja dan sehat. Dan hasilnya juga sama. Cecilia memang mengandung dan kini usianya masih sangat rentan sekali. Banyak makan makanan yang bergizi dan komsumsi vitamin, banyak istirahat dan dilarang stres, juga pola hirup yang harus teratur. Stop alkohol dan don't smoking oke? Dan aku akan segera memberikan resepnya." terang Dokter Siska panjang lebar.
Meskipun sudah tahu hasilnya dan apa yang dilakukannya hanya sekedar memastikan saja, namun terlihat sekali jika Irsan semakin bahagia mendengarnya. Dia tidak segan menunjukkannya pada semua orang yang ada di ruangan tersebut dengan memeluk tubuh Cecilia erat.
"Aku bilang juga apa! Aku baik baik aja, gak usah terlalu khawatir. Kamu bilang aku ini kuat dan berani kan, gitu juga dengan anak kita sayang. Jangan bikin panik semua orang kayak gini."
"Ya ... Aku mengerti sayang, maafkan aku!" lirih Irsan dengan mengecup pucuk kepala Cecilia.
Sementara Siska menatapnya tanpa mengedipkan kedua matanya, dia sedikit tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini, seorang Irsan yang sejak dulu paling terkenal dingin dan misterius, tegas dan juga paling bisa berbasa basi kini terlihat berbeda.
"Kau menggelikan sekali!" cicitnya pelan, namun juga terdengar jelas oleh Irsan hingga pria itu menoleh ke arahnya. "Dan sangat beruntung karena berada di tangan yang tepat! Selamat Irsan ... Selamat Cecilia ... Semoga Kalian jadi pasangan yang paling bahagia." Tambah Siska lagi dengan mengulas senyuman.
Kedua orang yang akan menjadi orang tua itu kini bangkit dan berpamitan, mereka berdua akhirnya keluar dari ruangan Siska.
"Makasih Dokter Siska, maaf ngerepotin tadi!" ujar Cecilia sebelum menutup pintu.
"Sama sama Cecilia, jaga kandunganmu dengan baik, dan jujur aku senang melihat perubahan dia yang seperti gunung es yang lama lama cair karena mu."
Cecilia terkekeh, "Beda banget ya, agak agak geli gimana gitu yaa?"
Irsan menoleh ke arahnya, lalu menarik Cecilia dengan lembut. "Jangan membicarakan suamimu pada orang lain! Termasuk padanya."
Cecilia terkekeh, mengedipkan mata ke arah dokter Siska. Lalu menarik suaminya dan bergerak melangkahkan kaki.
"Padahal semua orang senang karena lihat pribadi lain darimu sekarang. Lebih santai dan manis. Malu ya?"
"Tidak!"