
Irsan tiba kembali di bandara Internasional pada dini hari, begitu keluar dari gate bandara dan langsung bergegas menuju tempat parkir menuju kendaraan roda empat miliknya yang sengaja dia simpan di bandara sejak kemarin.
Kali ini tujuan utamanya hanya satu, menemui Carl dan memberikan pelajaran baginya karena telah berani mempermainkannya, Carl memberikan semua informasi dengan jelas dan akurat tapi tidak dengan jadwal dan tempat meeting yang berubah, dia juga tidak mengatakan jika Zian berubah fikiran dengan kembali indonesia.
Mobil melaju di jalanan yang tampak sepi, saking sepinya, Irsan mengendarainya dengan kecepatan tinggi dan melesat bebas tanpa hambatan.
Tak memakan waktu lama, Irsan sudah tiba di gedung apartemen, dia segera keluar dari mobil dan langsung menyerbu masuk. Bahkan mengabaikan sapaan dari security yang heran melihatnya.
Waktu masih menunjukan jam 4 pagi, namun Irsan sudah menggedor gedor pintu unit yang ditinggali oleh Carl sementara waktu.
Tok
Tok
Brak!
Sekuat tenaga Irsan merubah ketukan menjadi gedoran namun pintu tidak kunjung keluar. Dia pun mengotak ngatik nomor password sampai kunci otomatis itu erorr dan tetap tidak terbuka juga.
"Sialan kau!"
Perasaan emosi masih tidak kunjung reda, dia menghela nafas berat lalu meninggalkan unit itu dan kembali turun menuju unit milik Cecilia.
Perlahan lahan Irsan masuk kedalam, dia menyimpan koper kecil miliknya begitu saja lalu berjalan ke arah dapur. Mengisi gelas kosong dengan air putih lalu menenggaknya sekaligus.
Cecilia masih bergelung di dalam selimut, hampir dua hari berada di rumah sakit membuatnya lelah.
Irsan membuka pelan pintu kamar, perlahan lahan dia naik ke atas ranjang dan memeluk Cecilia dari belakang. Mencium aroma tubuh gadis berusia 20 tahun itu membuatnya sedikit tenang, perasaan kesal dan marahnya perlahan turun juga, hingga akhirnya dia ikut terlelap ke alam mimpi.
Cecilia mengerjapkan kedua mata saat merasakan hembusan nafas hangat menerpa wajahnya, dia juga merasa ranjangnya sedikit sempit.
"Astaga!" Desisnya seketika saat kedua manik terbuka menatap wajah Irsan. "Bukannya kamu ini ke Singapure. Kok cepet banget sih!"
"Aku hanya menginjakkan kaki di bandara internasional dan menghirup udara Singapure selama 10 menit saja dan langsung kembali." gumam Irsan yang masih memejamkan kedua matanya.
Cecilia menangkup kedua pipinya lembut, "Kenapa. Cepet banget?"
"Semua gara gara Carl ... Aku akan menghajarnya nanti!"
Gadis yang kian merapatkan tubuhnya pada Irsan itu mendengus, ikut kesal pada pria yang mengerjai kekasihnya. "Dia memang harus dikasih pelajaran. Ngeselin banget, awas aja nanti kalau ketemu!"
"Dia sudah tidak ada di unitnya! Nomornya juga tidak aktif."
"Benarkah. Ternyata dia gitu orangnya, feelingku bener kan, dia gak cocok buat Nita. Gak punya tanggung jawab banget sih jadi orang."
Irsan mengulas senyuman walau masih memejamkan kedua matanya, "Aku merindukan suaramu yang cerewet ini!"
"Ih ... Kau ini!" Cecilia menggusel kedua pipi Irsan dengan gemas.
Irsan baru membuka kedua matanya, menatap Cecilia dengan wajah bantalnya. Begitu juga dengan Cecilia.
"Apa matamu sakit pas lihat aku?" tanyanya konyol.
Pria berusia 40 tahun itu menggelengkan kepalanya, "Tidak, kenapa?"
"Ada yang bilang kalau selama ini matamu sakit saat lihat aku dan satu hari nanti matamu akan sembuh." tukas Cecilia mengucapkan apa yamg diucapkan oleh Zian.
"Benarkah?" Irsan menyematkan anak rambut yang menutupi wajah Cecilia.
"Huum ... Dia bilang kau tidak pantas denganku!"
Irsan berdecak, "Tidak usah pedulikan orang itu, mungkin dia iri melihatmu."
"Mana mungkin iri, yang ngomong justru yang berkelas."
Irsan tertawa, "Aku tidak peduli ucapan siapapun, aku hanya akan peduli padamu."
"Kau ini!" Irsan menjumput hidung Cecilia hingga kemerahan lalu mengecupnya sekilas. "Bagaimana ibumu?"
"Kondisi Ibu makin baik, tapi mungkin beberapa hari ini lebih baik di rawat di rumah sakit sampai kondisinya bener bener stabil."
"Bagus."
"Terus rencanamu gimana? Meeting di singapuranya gak jadi?"
"Aku sudah menghubunginya, besok pagi aku akan ada janji temu dengannya untuk membahas rencana selanjutnya."
Cecilia mengangguk, "Makin cepat makin baik, gak baik ninggalin pasienmu lama lama."
"Hm ... Aku mengerti!" sahut Irsan dengan menarik tubuh Cecilia dan mendekapnya erat. Keduanya saling memeluk satu sama lain, hanya memeluk saja dan tidak ada yang lain, Cecilia pun tidak lagi sefrontal biasanya, sikapnya semakin baik.
Mungkin Irsan berhasil membuat pemikirannya berubah, namun Cecilia jugalah yang paling berperan dalam perubahan dirinya sendiri. Dia ingin menaikan kualitas dirinya dan pantas untuk seorang Dokter. Menampik ucapan ucapan buruk dari orang lain dengan membuktikannya.
"Tidurlah ... Masih ada waktu dua jam sebelum mengurus semua urusan!" tukas Irsan yang kembali memejamkan kedua matanya.
Namun tidak dengan Cecilia, gadis itu menatap wajah Irsan dengan seksama, memperhatikan setiap garis dan lekuk wajah tampannya, damai dan menenangkan saat melihatnya tidur.
"Aku masih ingat saat pertama kali lihat wajah ini, menyebalkan dan gak banget." gumam Cecilia yang mengingat kejadian dimana Irsan mengumpatinya di jalan raya. "Tapi sekarang aku malu sama kelakuanku dulu."
***
Dua jam sudah keduanya kembali tertidur dengan saling memeluk, sampai bunyi alarm yang tidak berhenti itu membangunkan keduanya.
Cecilia kembali membenamkan wajahnya kedalam bantal, namun berbeda dengan Irsan yang langsung beranjak bangun.
Pria itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, mulai melucuti pakaiannya satu persatu dan mengguyur tubuhnya di bawah shower.
Ceklek
Tiba tiba pintu terbuka, Cecilia yang masih memejamkan matanya itu masuk dan langsung mendudukkan tubuhya di toilet, sementara Irsan yang tengah membelakanginya tidak juga sadar seseorang telah masuk ke dalam. Keduanya sibuk dengan ritualnya masing masing,
Cecilia masih belum sadar juga akan kehadiran Irsan di dalam sana, begitu juga juga Sampai suara gemericik air terdengar jelas.
Seketika Cecilia membuka mata, dan harus menelan saliva saat pemilik tubuh polos itu berada di hadapannya.
"Mampus! Kenapa dia ada dalam sini."
Sejurus kemudian Irsan membalikkan tubuhnya dan hendak mengambil bathrobe yang menggantung tepat di sudut kamar mandi.
"Astaga!" Secepat kilat Irsan menutupi tubuhnya yang polos lalu berbalik kembali, bathrobe belum sempat dia ambil karena posisinya yang lebih dekat dengan Cecilia.
"Aku udah pernah melihatnya. Jadi gak usah khawatir!" Desis Cecilia pelan.
"Lebih baik kau keluar lebih dulu Cecilia!"
"Aku belum selesai! Kau saja yang keluar kalau kau mau."
"Mau? Apa yang kau mau?" desis Irsan.
"Mau? Siapa yang mengatakan mau. Aku tidak ...!" jawab Cecilia dengan tidak jelas.
"Hentikan fikiran kotormu Cecilia, keluarlah atau tundukkan kepalamu agar aku bisa keluar dari situasi ini!"
"Udah aku bilang ... Aku kan udah pernah lihat, kau juga pernah semuanya kan!"
.
.
Wkwkwk ... Si Cece katanya udah tobat, gimana sih Ce....