I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.240(Aku belum selesai)



Dan terbukti semua ucapan Irsan, jika sudah waktunya sudah tiba Cecilia tidak perlu menggoda bahkan memintanya dengan segala macam cara, segala trik dan sedikit pemaksaan tidak perlu lagi di lakukan. Irsan tidak lagi menunggu Cecilia yang datang dengan sukarela, atau obat perang sang yang diam diam di masukkan. Tidak perlu lagi menuntut agar Irsan menyentuhnya.


Malam ini, menjadi malam pertama dimana Irsan memberikan kewajibannya secara utuh apa yang menjadi hak Cecilia, memberikan seutuhnya jiwa dan raga. Hati dan juga fikirannya. Pria berusia 40 tahun itu tidak perlu belajar, walau masih terlihat kaku tapi ia lah yang memulainya duluan, bahkan membuat Cecilia terperangah sekaligus tidak menyangka jika pria yang belum pernah sekalipun melakukannya itu luar biasa. Hasratt terarah dan berusaha lebih mengimbangi tidak membuat dirinya menyerah begitu saja.


Cecilia melenguhh, saat jemari Irsan menari nari di tubuhnya, menyentuh penuh kelembutan hingga darahnya berdesir hebat, pagutann kini terlepas, berubah cecapan pada benda bulat miliknya, membuatnya bergelinjang saat lidahnya menari indah di tonjolan kecil yang kian menegang. Sedangkan satu tangan lagi meremass kuat disampingnya.


Lagi lagi suara lenguhaan terdengar, begitu merdu namun mampu membangkitkan seluruh hasratt yang semain bergejolak saat Irsan menggigit lembut, menyesap lalu memilinnya pelan.


Eeugghh!


Irsan mulai melucuti satu persatu pakaian yang dipakai Cecilia, melemparkannya begitu saja hingga gadis itu kini berpolos ria. Kemolekan dan keindahannya yang kini terlihat nyata, bukan samar samar dibawah pengaruh alkohol maupun obat perang sang.


"Aah ... Ce ...!"


Rasa yang kian menyeruak itu begitu hebat dan terasa alami, terlihat dari urat urat halus yang kian menegang tinggi dengan menyebut namanya saja.


Cecilia bangkit, dia jelas bukan wanita penurut yang hanya diam saja dan menerima, dia jelas bukan penganut patriarki. Dimana hanya pria yang bisa berkuasa dan menjadi pengendali. Pemegang kekuasaan utama dan mendominasi. Cecilia menjadi sosok alpha dalam urusan ranjang, dia mampu memimpin dan lebih mendominasi, hingga mereka menjadi imbang.


Gadis itu membuka satu persatu kancing kemeja Irsan, melucutinya sampai hanya menyisakan kain penutup dengan tonjolan tegang didalamnya.


"Ini hadiah mu sayang." lirih Cecilia yang mendorong dada Irsan hingga pria itu kini terlentang dibawahnya dengan mengulas senyuman.


"Aku suka hadiahku." sahutnya dengan suara berat.


Tangan kecil Cecilia bergerilya manja, menggerayang di atas kulit berotot dibalik celana yang semakin bertegangan tinggi saat tersentuh lembut.


"Aaagghhh Cecilia."


Cecilia bahkan belum melakukan apa apa, sampai akhirnya dia membungkuk dan membuka sedikit celah. Hingga terlihat urat tegang pada senjata milik Irsan.


Cup


Gadis itu menggodanya dengan mengecupnya sekilas, menyentuhnya sampai akhirnya mengulumnya lembut, membuat Irsan tersentak namun membuainya tajam.


"Aaah ... Shitt Cecilia hentikan itu!"


"Eemmpphh ... Ini belum selesai sayang."


"No ... Lepaskan, kau ... Arrgghhh ... Sial." umpatnya dengan mencengkram kuat kedua pinggang Cecilia, lalu berpindah menjadi ke pusat dada yang bergerak indah.


Cecilia mengulas senyuman, berada di atas adalah tujuannya, menjadi dominan dan sang pengendali, menaik turunkan tubuhnya secara perlahan saat senjata itu melesak masuk dengan susah payah.


"Ah shittt ...!" Irsan kembali mengumpat, rasanya jiwa patriotnya hilang seketika.


Gadis itu kembali bergerak, maju mundur dengan kedua lutut yang menjadi tumpuannya. Sampai gerakannya tiba tiba mencengkram hebat.


Hasratt keduanya kian melambung, terbang dan menari nari diangkasa, sampai gerakan women on top itu semakin berirama seiring berbagai desahaannya yang membuat Irsan mabuk kepayang tanpa alkohol.


Dengan sekali tarikan saja, Irsan yang sudah melambung tinggi membalikkan posisinya, Cecilia terhempas ke bawah kungkungannya dengan cepat, kini Irsan yang memimpin, memaju mundurkan senjata yang melesak dalam, hingga terasa sampai ke ulu hati dan membuat peluh membasah tubuh keduanya.


Gerakan itu semakin kuat, sekuat tegangan tinggi yang kini dirasakannya, dengan ritme yang semakin cepat menghujam tanpa melukai, menusuknya penuh tanpa tersakiti.


Sampai suara desahh kini berulang panjang, membungbung tinggi diseluruh ruangan kamar, mengguncang ranjang dengan begitu hebatnya.


Eeeuuhhgg!


Keduanya merintiih menggeram bahkan mendesahh hebat, saling menguat pelukan dengan seluruh peluh yang semakin banyak, dimana penyatuan keduanya tidak bisa lagi dielakkan.


"Aaahhhkkk Shitt! Ooh ....!"


Umpatan umpatan sudah tidak lagi dapat dibedakan, suara suara merdu berlomba lomba saling memburu, begitu pula dengan nafas keduanya yang saling menderu.


Sampai akhirnya aliran hangat terasa di pangkal paha menyeruak hebat yang berpusat pada inti dan siap melayang.


Irsan menggeram, begitu juga dengan Cecilia yang mendesahh hebat saat keduanya kini memuncak, berada di atas angkasa dengan rasa yang sulit di artikan logika.


Geraman panjang cukup lama dengan semburan kali pertama yang mengalir menuju tempatnya bernaung, berdenyut hebat dan juga saling merasai, begitu juga Cecilia, merengkuh pundak Irsan yang semakin melemah hingga ambruk menindihnya.


Nyatanya berat tubuh Irsan tidak membuatnya sesak, bahkan sangat ringan dan tidak berat sama sekali. Sampai dia bisa memeluknya dengan erat, saling bertukar peluh dan keringat.


Irsan mengulas senyuman, membenahi rambut yang berantakan di wajah Cecilia yang basah lalu berguling ke arah samping.


Begitu juga dengan Cecilia, yang mengusap pipi Irsan saat pria itu masih berusaha mengatur gelombang nafasnya.


"Sayang!"


Irsan menghadap ke arahnya, hingga keduanya saling menatap dalam dalam, seolah mencetak wajah masing masing untuk disimpannya di dalam memory terdalam di pusat fikiran dan juga sukma.


"Makasih ...!" Gumam Cecilia yang mengelus wajah Irsan, tersenyum dengan sangat lembut dengan kedua manik berbinar.


"Jangan terima kasih dulu karena aku masih belum selesai Cecilia!"


.


.


Wuhaaaaaa .... Kaburrrrrrrr