
"It's show time!"
Gadis itu berdesis dengan sengaja pada Irsan yang terbelalak sempurna menatapnya.
Dia juga bergerak sesuai irama musik sang DJ, berputar pada satu tiang dengan gerakan sesen sual mungkin dengan resleting rok hampir terbuka setengahnya.
Jangan kira dia senekad itu untuk membuka semua pakaiannya di depan umum secara gratis pula, tidak ada di kamusnya berbagi sedekah apalagi mengadakan acara amal di klub pada pria pria hidung belang yang akan senang melihat tubuhnya. Semua harus berbayar kecuali dia sedang memainkan triknya.
Tidak hanya pria pria yang tengah mencari hiburan yang terbelalak dengan terus berteriak juga bertepuk tangan melihatnya, para lady's yang tengah bersantai ria dibelakang pun ikut bersorak namun dengan heran.
"Padahal jadwal nya kan masih dua jam kedepan. Kenapa ada yang sudah beraksi?"
"Gue gak tahu! Kayaknya itu member mabok parah, yang show malem ini cuma kita berdua kan."
"Hm ... Kita berdua dan si Rico."
Kedua penari strip tis yang tengah bersantai karena belum jamnya bekerja itu kembali masuk, mereka tidak peduli sama sekali.
Irsan lebih terbelalak tajam dan melepaskan Ines begitu saja. Terlihat rahangnya yang tegas semakin keras karena menahan amarah yang semakin mendidih karena melihat pria pria menatap Cecilia dengan haus. Tangan mengepal dengan sorot mata tajam ke arah Cecilia. Entah kenapa dia bisa semarah itu bak kebakaran jenggot.
Cecilia terus bergerak mengulur waktu, dia bisa mati berdiri kalau Irsan tidak melakukan apa apa. Itu juga akan jadi pembuktian apa si tiang listrik benar benar tidak suka padanya atau sebaliknya. Dia terus berputar putar pada tiang, jangan salah. Yang dilakukannya itu bukanlah tarian strip tis yang memang ada di klub Xxx Nine itu secara ilegal, yang dia lakukan hanya pole Dance, walaupun orang awam akan berfikir itu sama saja, karena gerakannya memang sama sama mengundang setan dan iblis. Padahal itu hanya perpaduan seni tari dan gerakan senam dan tentu saja dengan bantuan tiang.
Nita bergegas menerobos sekumpulan orang orang di yang berkumpul menatap sahabatnya. Dia juga takut jika Cecilia gagal melakukan kenekatannya sendiri. Tapi tidak bisa dipungkiri, dia mengakui kehebatan sahabatnya itu.
"Ce ... Bener bener tuh anak udah gila! Tapi keren juga idenya bikin tuh tiang listrik tau rasa, kalau dia gak bereaksi juga! Mampus lo Ce."
Anjim banget si Irsan cuma berdiri kayak orang bego ngeliatin gue! Apa dia nunggu gue bener bener telan jang atau dia bener bener gak suka sama gue. Cecilia membatin, dengan terus berpegangan pada tiang lalu berputar putar membuat rok mininya ikut berputar dan tersibak begitu saja memperlihatkan paha putih nan mulus miliknya, sampai tiga kali putaran Irsan masih tidak juga bereaksi.
Cecilia melepaskan satu tangannya, dengan kedua kaki membelit pada tiang, perlahan lahan tubuh melengkung ke belakang, dada busungnya naik turun karena dia mulai kelelahan, dengan kepala nyaris menyentuh panggung.
Grep!
Tubuh Cecilia seketika merasa melayang ke udara, lalu terbalik dengan pandangan sedikit mengabur saking cepatnya. Lambungnya sedikit tertekan hingga dia merasa mual dan barulah membuka kedua matanya. Hanya lantai yang bisa dia lihat saat ini, da jiga berganti dengan paving blok berwarna gelap. juga pergerakan seseorang yang membawanya bak sekarung beras.
"Hey! Gue belum selesai!!"
Teriakan demi teriakan bersorak dan berakhir dengan tepuk tangan, lalu suara suara itu terdengar semakin jauh. Diakhiri dengan suara bariton yang membuatnya terdiam seketika.
"Kau benar benar gila! Gadis gila! Kau jalaang ... Apa kau semurahan itu hah!"
Bruk!
Cecilia kini ambruk kelantai, tubuhnya masih limbung hingga nyaris terjatuh, beruntung dibelakangnya ada sebuah mobil yang menahan tubuhnya.
"Aduh!!" Gadis itu mengaduh, memegangi perutnya dan juga kepalanya yang masih pusing. Pandangannya mengedar, dia sudsh tidak berada di dalam lagi, melainkan dipelataran parkir di luar. Lalu menatap pria yang kebakaran jenggot didepannya.
Irsan ... Hahha, gue tahu lo gak bakal diem aja liat gue tadi, gue makin yakin kalau lo suka sama gue.
"Aduuh padahal gue belum melorotin rok gue." ucapnya dengan memegang resleting yang ada di bagian bokongnya. Dan tentu saja dengan hati bersorak sorai penuh kemenangan.
Irsan membalikkan tubuhnya dengan kasar, lalu menaikkan kembali resleting hingga ke penuh ke atas tanpa satu patah katapun, hanya tatapan tajam dan geraham keras yang terlihat, Cecilia berpegangan pada sebuah mobil saat Irsan membenahi roknya.
"Kau sengaja memancing kemarahanku Cecilia!"
"Siapa yang memancing? Memangnya aku tahu kau akan marah? Aku lagi show ... You know show?" sahut Cecilia dengan menoleh ke arah belakang.
"Kau!!!" sentaknya dengan kembali membalikkan Cecilia menghadap ke arahnya. Hingga Cecilia berjingkat dan bersandar. "Brengsekk ... Sialan!" desisnya kemudian.
"Kenapa kau harus marah? Aneh, tidak punya perasaan apa apa tapi marah sebegininya." Ucap Cecilia dengan mengerdikkan bahunya.
"Berapa harga yang harus aku bayar agar kau tidak melakukan hal menjijikan itu? Katakan. Berapa mereka membayarmu Cecilia?"
Cecilia tersentak kaget, lagi lagi ucapan Irsan sangat kasar. Tapi dia juga mengulum senyuman.
"Kenapa kau repot repot bertanya? Ooh ... kau ingin membayarku sekarang?"
"Brengsekk!" Irsan mengepalkan tangan dan memukul mobil. Membuat Cecilia tersentak lagi.
Irsan menarik pergelangan tangan Cecilia dan membuka pintu mobil, mendorongnya hingga masuk dan menutup pintu mobil dengan kasar. Setelahnya dia berjalan ke arah sebaliknya dan masuk kedalam. Dia bahkan tidak ingat pada ines yang masih di dalam, langsung menanjap gas keluar dari sana.
"Apa kau benar benar mengujiku Cecilia! Katakan berapa mereka membayarmu?" Pertanyaan yang sama dengan nada marah yang sama pula.
"Tidak ada! Itu gratis." Cecilia terkekeh kecil.
Seketika Irsan menginjak pedal rem dengan kuat hingga berbunyi cekitan. Cecilia yang belum sempat memakai seat belt tersentak serta terhuyung ke depan dia memejamkan matanya.
"Aaaakkhh! Sialan."
Namun aneh karena dia ternyata tidak sempat membentur dasboard maupun kaca mobil. Melainkan tangan kekar yang menahan tubuhnya.
Cecilia membuka kedua matanya, lalu menoleh pada Irsan yang kini jaraknya sangat dekat. Keduanya terdiam untuk sesaat. Sampai akhirnya Cecilia memundurkan tubuhnya lagi.
"Jangan asal ngerem! Gimana kalau aku nabrak kaca mobil. Wajahku yang cantik ini!" ucapnya dengan mengelus kedua pipinya, tentu saja dengan hati yang semakin berdebar debar.
Irsan mendengus kasar, dia menarik seat belt.
"Pakai! Jangan asal bicara!"
Cecilia berhasil memasangkan seat belt tapi mobil tidak bergerak juga. Dia menoleh lagi ke arah Irsan. Terlihat pria itu menghela nafas berat. Dengan kedua tangan mencengkram kuat kemudi mobil.
"Bisakah tidak melakukan hal seperti itu lagi Cecilia?"
Cecilia tidak berhenti mengulum bibir, ditambah suara Irsan lebih turun dari tadi.
"Kenapa. Itukan pole Dance!"
.
.
Nah kan mulai konslet lo tiang listrik. Wkwkwk emang enak. Emang si Cece paling jago deh bikin kesel. Othor aja sampe jantungan nih.