I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 25( Pencuri mangsa)



"Sayang sekali. Aku memang tidak tertarik olehmu!"


Raut wajah Cecilia sama sekali tidak berubah saat mendengarnya, bahkan dia semakin mengulum senyuman. Apa yang di ucapkan mulut Irsan berbanding terbalik dengan tatapannya saat ini padanya.


"Benarkah?" Cecilia semakin merapatkan tubuhnya, dia berjinjit lurus pada tubuh tinggi nan tegap dengan wajah yang mendekati wajahnya, meloloskan desahaan manja saat dia perlahan menempelkan bibirnya dengan lembut pada ujung bibir Irsan tanpa Irsan duga.


Membuat degup jantung pria berumur 40 tahun itu semakin kencang, namun dengan kuat dia menahan dirinya. Terlebih saat Cecilia melumattnya lembut. Irsan justru mengepalkan tangannya, karena saat itu juga otak dan fikirannya tiba tiba tidak berfungsi dengan baik. Dirinya terbakar has ratnya sendiri, tergoda akan gadis pemberi masalah, gadis yang dia tahu sendiri bagaimana, gadis penggoda. Namun dia semakin lama semakin lemah, Irsan tidak kuasa menahan gejolak yang kian membara saat Cecilia mendesaah. Gesekan kulitnya membangunkan sesuatu yang telah lama tidur. Hingga akhirnya pertahanannya runtuh dan dia kembali melumatt bibir Cecilia dengan tangan yang merekat diceruk lehernya.


Semakin lama has rat keduanya semakin membara, Irsan menarik tubuh Cecilia hingga menempel di dinding, dengan tangan merekat di pinggangnya serta satu tangan menggenggam jemarinya yang dia tindih di dinding.


Mengetahui tindakan imfulsifnya berbalas dengan sempurna, Cecilia semakin bergelora, bahkan rintihannya teramat memabukkan dan terus menuntut lebih, tangannya menggerayang di dada bidang di balik kemeja.


Hingga decakan demi decakan lolos begitu saja saat kedua benda basah itu kian membelit. Semakin lama semakin panas.


Sekali lagi dia menang, tidak ada yang pernah bisa melawan godaannya, pria pria diluar sana atau bahkan pria sedingin Irsan. Bak sengaja dilahirkan ke dunia hanya untuk menggoda pria, dia lah sang ahli.


"Kau pintar bohong dokter Irsan." gumam Cecilia dengan nafas terengah engah saat tautannya terlepas, membiarkan bibirnya yang masih basah merekah sempurna.


Tugasnya belum maksimal, dia ingin lebih. Bahkan kedua tangannya masih menarik kemeja yang di kenakan Irsan. "Iya kan? Kau sebenarnya tertarik padaku. Apa itu artinya kita---"


Irsan mengelap bibirnya sendiri dengan punggung tangannya, menghapus jejak ciumaan panas yang dia sendiri menikmatinya. "Kau salah, pria bisa melakukan hal macam ini tanpa ada memiliki perasaan apa apa. Dan aku salah satunya!"


"Benarkah? Termasuk saat kau bersama wanita di kamar itu?" Ujar Cecilia mengalungkan kedua tangan di lehernya, juga melayangkan tatapan menggoda dengan bibir sedikit terbuka. Menariknya hingga dada Irsan menabrak tubuhnya sendiri. Dia kembali mendekati wajahnya, perlahan lahan hingga bibirnya hampir menempel lagi. Untuk sepersekian detik, dia terhenti, dengan nafas saling menerpa wajah keduanya. Begitu juga dengan kedua manik yang saling menelisik, menuntut lagi dan lagi.


"Kenapa kau ingin tahu apa yang aku lakukan bersama wanita itu?"


Cecilia mengangkat bibirnya tipis, saat Irsan yang terlihat menunggu gerakannya "Ayolah jujur saja, aku gak akan katakan apa apa pada istrimu!" ujarnya menohok, dia juga menarik kembali wajahnya kebelakang.


Irsan tentu saja gugup, pada pada ucapan Cecilia tentang wanita lain atau bahkan istri yang dia sebutkan, melainkan tindakan Cecilia. Merasakan debaran di jantungnya kian membahana saat dia juga hampir menyambut bibir sensual itu dengan terbuka, seolah kembali siap menerkamnya.


"Iya kan. Hem?" Cecilia mengulum senyuman, dia benar benar membuat Irsan kalang kabut dengan ucapannya sendiri.


"Maaf! Tapi kau salah." Irsan menarik kemejanya dan mundur satu langkah, "Kau fikir aku menginginkan hal ini?" Dia berdecih, "Mangsa yang menyerahkan dirinya pada pemburu! Jelas pemburu itu akan menyantapnya." ucapnya lagi dengan menarik kemeja dan berlalu pergi.


Cecilia menggigit sedikit bibir bagian dalamnya saat Irsan beranjak pergi begitu saja. "Masih aja pura pura gak tertarik! Udah jelas jelas dia juga doyan, pake bilang mangsa dan pemburu. Haa ... Lucu sekali! Gue bukan mangsa, gue juga bukan pemburu. Kali ini, gue hanya akan jadi pencuri mangsa dari pemburu."


Irsan masuk kedalam lift, tanpa melihat ke arah Cecilia yang terus menatapnya dalam. Menghela nafas panjang setelah pintu lift tertutup, dia juga bersandar di dinding lift dengan memejamkan matanya.


"Bodoh!! Kenapa kau tidak bisa menahannya Irsan!" Rutuknya pada diri sendiri, membenturkan kepala bagian belakang berulang kali karena kebodohannya. Namun fikirannya justru kembali melayang pada saat mereka saling membelit dalam, desaahan Cecilia bak alunan merdu ditelinga yang membuat darahnya kian mendesir. "Sial ...!"


Irsan harus terus menahan gejolak dalam dirinya yang kian menyeruak, hanya karena bayangan Cecilia yang agresif dan membuat pertahannya runtuh dengan mudah.


"Ini benar benar gila ... Dia memang menarik tapi dia bukan yang aku cari." gumamnya mengguyur kepala di bawah shower, berharap bayangan Cecilia yang menggoda imannya segera pergi.


Semakin lama dia diam di kamar mandi, semakin membayang wajah Cecilia serta tindakan imfulsifnya. Membuat has ratnya yang tidak tercapai kembali meronta ronta.


"Irsan ... Sial! Hentikan fikiran kotormu, dia hanya jalaang kecil dan tukang menggoda." gumamnya dengan menahan sedemikian rupa sesuatu yang sejak tadi menegang.


Setelah beberapa lama di berada di dalam, akhirnya dia keluar dari kamar mandi, menyambar piyamanya dari dalam lemari dan membaringkan tubuhnya di kasur.


"Jalaang itu!" desisnya sendiri dengan geraham yang bergemelatuk, menarik selimut dan membenamkan dirinya.


Sementara Cecilia berguling guling di atas ranjang, dengan terkekeh sendiri membayangkan ciumaan yang baru saja terjadi. Rasanya memang aneh, dirinya yang tidak akan bereaksi sebelum melihat angka justru menuntut lebih dan semakin lebih saat berciumaan dengan Irsan.


"Kau lihat Irsan, bahkan kau tidak bisa menolakku sedikitpun." ujarnya dengan mengangkat guling dan bicara seolah guling itu adalah Irsan. "Makanya jangan sembarangan bicara, karena aku akan selalu buktikan. Aku tidak suka di remehkan, apalagi oleh pria." kekehnya lagi dengan memukul guling tersebut.


Drett


Drett


Ponsel Cecilia berbunyi, dia melihat nomor yang tidak dikenal di ponselnya. Kedua alisnya mengernyit karena panggilan dari nomor yang tidak ada di dalam kontaknya, Cecilia mengabaikannya, melemparkan ponselnya dan membiarkannya terus berdering.


Cecilia berdecak, dia bahkan bangkit dan terduduk dengan bersandar di sandaran ranjang. Menuangkan wine yang sengaja dia simpan di atas nakas disamping ranjangnya.


Ponsel terus menjerit, bahkan tidak ada jeda sedikitpun.


"Siapa sih! Ganggu aja khayalan orang." ujarnya kembali mengambil ponsel miliknya. Dengan menerka nerka pemilik nomor yang tidak dia kenal itu.


Ting


'Aku harus bertemu denganmu Cecilia!'


Sebaris pesan singkat dari nomor yang dia abaikannya itu.


"Siapa sih?"


.


.


Awas bikin basah yaa... Othor gak tanggung jawab lho. wkwkwkwk.