
Cecilia justru tersentak kaget saat Irsan menanyakan akan menyiapkan semuanya untuknya. Segala macam pertanyaan tentang apa yang akan disiapkan Irsan, dan apa yang direncanakannya berseliweran di kepalanya.
"Kembalikan semua benda yang pernah kau terima dari Reno, Hm."
"Tunggu ...!" Cecilia bangkit dari kursi, "Setelah ku fikir fikir, sepertinya gak usah dikembalikan, toh Tante Irene juga kayaknya gak mau nerima barang yang sudah suaminya berikan padaku."
Irsan menghela nafas, "Kenapa kau yakin sekali!"
"Tante Irene itu baik, dia bahkan mau mengurus Sila. Bisa kau bayangkan sebaik apa dia kan? Udah gitu dermawan lagi." Cecilia terkesan membela, namun memang itulah faktanya.
"Jadi?"
"Jadi ya gimana nanti, aku akan jual apa yang bisa aku jual ..." ujarnya kembali duduk, menggeser kursinya semakin dekat dengan Irsan.
Irsan hanya mengangguk saja, mengernyit ke arahnya saat Cecilia mencondongkan wajah.
"Kau tidak akan pergi ke pemakaman Reno?"
"Mungkin nanti, gak sekarang. Aku gak mau cari ribut sama tante Irene. Apa boleh?" tanya Cecilia dengan tatapan genit khasnya, terus menatap lekat wajah Irsan.
"Tentu saja boleh!"
Cecilia semakin memajukan wajahnya, berharap Irsan kali ini menciumnya, susah sekali memang menggoda Irsan akhir akhir ini.
"Kenapa. Kau kelilipan?"
Cecilia mendengus, lagi lagi usahanya gagal. "Iya kelilipan gajah."
Irsan menggelengkan kepalanya, dia lantas bangkit dan menyampirkan jubah putih di tempat gantungan, Sementara Cecilia mencebikkan bibir.
"Kau ingin mencoba sesuatu?"
"Hah. Apa itu? Fiesto, sutro atau apa?" ujarnya menyebutkan merek merek pengaman.
"Kau ini! Otakmu perlu dibersihkan." mencubit kedua pipi Cecilia hingga gadis itu meringis.
"Otakku ditambah omonganmu yang menjurus!"
"Aku belum selesai bicara Cecilia, kau sudah menyela saja, Yang aku maksudkan itu makanan. Ada makanan enak di sekitar rumah sakit! Kau harus mencobanya."
Cecilia terkekeh, fikiran kotornya selalu muncul tidak kenal waktu dan tempat. Atau bahkan fikiran kotor itu terus muncul karena Irsan tidak menyentuhnya sama sekali.
"Salah ya!" desisnya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau ini ayo pergi!"
***
Keduanya keluar dari rumah sakit, berjalan bersampingan namun tidak berpegangan tangan, Irsan sangat profesional, urusan cinta dan pekerjaan bisa dia bedakan dengan baik. Namun tentu tidak dengan Cecilia, memiliki pacar yang bisa dia perlihatkan pada orang orang, lebih tepatnya dia ingin semua orang tahu jika dirinya memiliki pacar.
Berkali kali mencoba merengkuh lengan Irsan berkali kali pula dia harus mendengus karena ada saja alasan Irsan menampik tangannya. Tanda tangan rekam medis yang disodorkan perawatlah, cek suhu saat melewati ruang gawat daruratlah, bahkan membantu membetulkan posisi selang infus saat seorang pasien yang mengenakan kursi roda lewat di depannya. Cecilia harus menelan ludah berkali kali, merasakan susahnya memiliki pacar yang berprofesi seorang dokter.
Kedua sampai di pelataran parkir, Irsan berjalan ke arah kemudi sementara Cecilia terpaku ditempatnya dengan wajah kesal.
"Kenapa?"
"Ternyata gini ya kalau punya pacar seorang dokter." dengusnya pelan, membuka pintu mobil lalu masuk.
Irsan masuk di pintu satunya lagi, menatap Cecilia yang kini mencebik.
"Memangnya kenapa. Kau menyesal?"
"Aku dilarang posesif, karena pacarku bukan cuma milikku aja, tapi juga milik masyarakat."
Irsan menggelengkan kepala, mengambil tangannya lalu mengenggamnya, "Ada ada saja bahasamu itu, dengar Cecilia, aku adalah priamu, tapi pria mu ini adalah dokter, jadi kau ha---"
"Ya ya aku paham ... Aku ngerti kok! Cuma kan aku juga pengen mereka tahu kalau aku ini pacar mu. Selama ini aku selalu disembunyikan, kali kali pengen dong, biar aku tahu rasanya dibanggakan didepan banyak orang."
Irsan terkekeh, menghidupkan mesin kendaraannya namun tidak juga melaju.
"Kau ini ada ada saja, tanpa kau beritahu pun. Mereka akan mulai ribut tentang kita."
"Kenapa?"
"Ya karena aku tidak pernah membawa seorang wanita di ruangan praktekku selain pasien Cecilia."
"Hm ... Apalagi semua wanita senang bergosip," ujarnya yang kini melajukan kendaraannya.
Mereka menuju satu tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit, yang membuat Cecilia tersentak kaget karena dia juga mengenal tempat itu.
"Ini kan soto Maknyuss."
"Kau tahu juga?"
"Banget! Aku gak nyangka kamu sering makan di sini juga?"
"Ya lumayan ... Sotonya enak."
"Apa jangan jangan kau ... Maksudku kita pernah ketemu di sini tapi kita sama sama gak sadar."
"Mungkin!"
Cecilia menangkup kedua tangannya jadi satu, dengan wajah berbinar dia menatap Irsan, "Fixs ... Kita jodoh."
Senyuman terulas tipis di bibir Irsan saat mendengarnya, "Benarkah? Kau merasa kita pernah bertemu di sini atau di tempat lain juga?"
"Kayaknya iya deh, atau waktu aku kecil dan kau lewat giti kayak di film film." Cecilia terkekeh. "Aaah ... Jangan jangan kau lihat aku ingusan lagi." tambahnya lagi.
Irsan tergelak dengan selorohan gadis cantik yang kerap blak blakan dan percaya diri, sifat terbukanya, juga kadang konyol membuat hidupnya sedikit santai.
Kau benar benar menggemaskan Cecilia, bagaimana kau bertingkah seperti ini. Konyol sekali sampai berfikir aku melihatmu waktu kecil dan ingusan.
"Berarti ini bukan sesuatu yang baru bagimu, apa perlu kita ganti tempat?"
"Gak usah, di sini aja."
Keduanya turun dari mobil, tanpa Cecilia duga. Kali ini Irsan lah yang berinisiatif menggenggam tangannya saat mereka masuk, bahkan merekat di sela sela harinya.
"Heh?"
"Bukankah kau ingin semua orang tahu kalau kau punya pacar yang bisa kau banggakan?"
"Iihhhhh ... Pleasee makin meleleh aku nih." sahutnya memukul pelan bahu Irsan, "Tapi tetep aja ... Kau ini gak inisiatif, kenapa harus aku yang duluan ngomong."
Irsan hanya terkekeh, lalu mereka sama sama duduk dan memesan soto kesukaannya.
Drett
Drett
Lagi lagi dering ponsel berasal dari station nurse rumah sakit, Irsan mengoyak ngatiknya sebentar lalu kembali memasukkannya ke dalam kemejanya.
"Cecilia."
"Aku tahu! Kau harus pergi kan?"
Irsan mengangguk, "Maaf ...!"
"Ya udah pergi sana, aku akan mulai terbiasa nanti."
"Atau begini saja ... Kau ikut denganku lagi ke rumah sakit,"
"Gak apa apa! Aku di sini aja, aku juga akan ke tempat Nita nanti."
Irsan mengangguk, setelahnya dia beranjak pergi karena ada panggilan dari rumah sakit dan harus meninggalkan Cecilia.
Setelah Irsan pergi, Cecilia menghubungi Nita dan menyuruhnya menyusul di tempat langganan mereka,
"Punya pacar kayak yang gak punya, saben hari pasti gini lagi." dengusnya sendiri.
Tak berselang lama, Nita dan tentu saja Sila datang, mereka mengernyit karena di atas meja sudah tersedia dua nasi soto.
"Lo udah pesen aja gak nunggu gue!" Nita menarik kursi dan langsung duduk, begitu juga Sila yang ikut duduk disampingnya.
"Itu gara gara Irsan, tadi dia yang ngajakin gue ke sini. Tapi dia malah pergi ke rumah sakit lagi."
Nita terkekeh, "Kasian banget lo! Makanya cari jodoh itu yang kayak suami Si Nia ... Bos ... Bos Ce, jadi dia bisa mangkir kapan aja dia mau, gak di suruh suruh orang apalagi ini ... Lo harus tahan banting karena bakal sering di tinggalin. Pasien lebih utama dan lo harus ngertiin itu, ibarat kata. Dokter siap melayani 24 jam"
"Itu dia masalahnya, gue aja gak dia sentuh sentuh ... Apalagi dilayani."