
Tiga orang yang duduk di dalam mobil itu kini terdiam dalam keheningan. Sesekali Cecilia melirik ke arah Irsan yang dengan rahang yang terlihat semakin tegas, sementara Ines duduk di belakang dengan menatap ruas jalan yang kala itu tampai ramai. Cecilia mengusap lengan Irsan lembut, mencoba membuatnya tenang dan tidak lagi marah atas apa yang dilakukan oleh sepupunya itu.
Irsan menoleh sekilas, hanya sekilas saja dan kembali menatap jalanan yang tengah di belah oleh kendaraan roda empat yang dilajukannya.
"Semua akan baik baik aja kok!" ujarnya pelan pada suaminya yang masih betah membisu.
Cecilia kembali melirik Ines di belakang, "Kak ... Laper gak?"
Mencoba mencairkan suasana yang masih menegangkan diantara keduanya,
"Tidak! Aku mau pulang."
Cecilia kembali terdiam, nyatanya mencairkan suasana di antara orang orang pendiam yang tengah marah lebih susah dibandingkan menjadi asisten dosen yang memberikan materi di depan kelas. Apapun yang dia katakan seolah tidak di dengarkan oleh keduanya, tawaran makan, tawaran untuk pergi mencari angin dan banyak lagi yang terpatahkan oleh jawaban TIDAK dari mulut keduanya.
Mobil melaju kencang menuju apartemen, sulit memang, hingga akhirnya Cecilia memilih untuk diam juga.
Tak lama mobil masuk kedalam pelataran parkir apartemen, Ines melenggang pergi begitu saja saat mobil yang Irsan kendarai berhenti begitu saja. Membuat Irsan berdecak kesal disaat melihatnya.
"Biarin dulu Kak ines sendiri, nanti aku coba ngomong sama dia." sela Cecilia yang mengusap lengan Irsan lagi.
"Terima kasih, jika bukan karena ide konyolmu itu, aku mungkin tidk tahu apa yang akan terjadi pada mereka kedepannya!"
Cecilia mengangguk, itu memang kebetulan saja, namun juga membuatnya lupa jika dia datang hanya karena ingin mencari keberadaan Nita.
"Padahal kita berniat mencari Nita." cicit Irsan yang merasa bersalah.
"Gak apa apa, kak ines juga penting kan."
Irsan menggenggam tangan Cecilia, tidak hanya terus berubah lebih baik, namun banyak hal baik yang dia tunjukan, bahkan rasa peduli yang sangat tinggi pada siapapun yang dia kenal. Termasuk Ines.
"Terima kasih." Ujar Irsan, "Aku gak tahu kalau gak ada kamu."
"Cie baru ngerasa kalau aku emang ngangenin ya." seloroh Cecilia yang membuat Irsan tersenyum tipis.
"Harusnya aku memang tidak tergoda oleh Carl, dan sekarang justru aku malu pada Irsan. Tapi dia jugalah ynsg selalu membuat kencanku berantakan, padahal kencannya saja aku yang membantunya." gumamnya dengan menghembuskan nafas panjang, kesal dan benar benar marah pada kakak sepupunya yang pengacau.
Ketukan di pintu terdengar lirih, Ines hanya menutup telinganya agar tidak mendengarnya, dia tidak ingin bicara dengan siapapun saat ini, apalagi ada Irsan. Sepupunya.
Namun ketukan di pintu berubah menjadi suara pintu terbuka, siapa lagi yang akan masuk jika bukan orang yang tahu password unitnya. Irsan ataupun Cecilia yang sempat tinggal di sana.
"Kak .. Lo udah tidur?"
Benar dugaanya, Cecilia lah yang datang kesana.
"Mau apa? Aku sedang tidak mau bicara apa apa lagi." Cecilia masuk begitu saja kedalam kamar, lalu naik ke atas ranjang tanpa menunggu ijinnya.
"Gue mau ngobrol sama lo"
"Sudahlah, mau ngobrol apa lagi?"
"Gue tahu lo keselkan sama sepupu lo itu? Tapi dia itu sayang banget sama lo kak, gue bisa lihat dari diamnya dia selama di perjalanan."
"Dia kan emang gitu? Pendiam dan gak peduli, selalu membuat kencanku berantakan. Bahkan dari dulu Cecilia." sahut Ines dengan kesal.
"Gak juga, kalau dia gak peduli, dia pasti ngebiarin lo kak. Apalagi dia tahu gimana Carl si brengsek itu. Walaupun gue tahu kalau Carl pasti akan berubah suatu saat nanti kalau menemukan wanita yang pas dimatanya, kayak gue yang akhinya sadar dan tobat, tapi tobat dan sadar itu bukan karena siapapun, tapi karena dirinya yang emang berniat berubah, kalau Carl kayak gitu, udah pasti Irsan gak akan marah lagi kayak gini, lo lihat aja gue kan." ternagnya panjang lebar. "Gue yang begini aja dia terima kok, apalagi Carl yang emang dia kenal dari lama, iya kan?" tambahnya lagi.
Ines terdiam, menatap Cecilia dengan nanar.
"Dia hanya pengen yang terbaik buat lo kak. Pria baik yang bisa ngerhargain lo dan sayang sama lo. Percaya sama gue. Irsan cuma gak bisa gimana cara ngomongnya sama lo. Lo kan sepupunya ... Masa gak tahu!" terang Cecilia dengan panjang lebar.
Ines menolehkan kepalanya dengan tatapan nanar.
"Percaya sama gue kak! Kalau perlu ... Nanti gue ngomong buat cariin lo jodoh terbaik pilihan kakak sepupu lo ya."