
"Apa yang terjadi!"
Seorang pria yang membawa sesuatu di tangannya itu tanpa sengaja menoleh ke arah Irsan.
"Hah itu dia ... aku ke sini untuk menemuinya, aku mengenalnya dan Aku ingin bicara dengannya!"
"Maaf. Tapi anda tidak diperbolehkan masuk dengan membawa benda yang dilarang!"
"Apa ... dilarang apanya sudah aku jelaskan dari tadi ini bukan milikku, aku tidak tahu ini milik siapa. Lagi pula ini bukan senjata!" tukasnya.
" Sudahlah tidak usah mengelak lagi kau!" timpal Security yang mendorongnya dengan kasar.
"Hentikan!" Irsan melerainya. Hingga pria itu kembali menghampirinya.
"Senior. Maksudku Dokter Irsan?"
Irsan mengernyitkan dahi dengan terus menatap pria didepannya.
"Kau lupa padaku. Tristan. Juniormu!"
"Ahh ya Tristan."
"Kebetulan aku ke sini mencarimu, Profesor yang merekomendasikanku dan menyuruhku datang." terangnya.
"Ah ... Benarkah?" tukas Irsan.
"Ya ...! Apa Profesor tidak mengatakannya padamu?"
Irsan menggelengkan kepalanya, toh dia tidak peduli juga siapa yang akan menggantikan Dokter Aji, yang jelas harus orang yang berdedikasi tinggi.
"Ok baiklah. Mari ikut denganku!"
Tristan menoleh ke arah security, "Kalian lihat aku sudah mengenal dokter Senior. Dan aku Tristan, Dokter Tristan. Juniornya." serunya dengan bangga lalu melangkah mengikuti Irsan.
"Hah aku tersanjung kau masih mengenaliku dokter senior. Padahal kita tidak pernah bertemu sejak lama, aku baru kembali dari luar negeri, dan profesor Sam menghubungiku kemarin, dia mengatakan kau membutuhkan Dokter di Rumah sakit ini, saat mendengar namamu, aku sangat antusias sekaligus mati gaya!" Celotehnya panjang lebar sementara Irsan hanya diam tanpa suara.
"Kau tahu Senior."
"Sudah berhenti bicara!" sentak Irsan.
Tristan menggelengkan kepalanya dengan jari telunjuk yang bergerak naik turun disertai beberapa decakan.
"Ini yang membuatku mati gaya!" desisnya dengan terus mengikuti Irsan.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan prakter Irsan, Tristan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Kenapa kau tidak langsung masuk tadi? Bukankah kau membawa surat rekomendasi yang bisa kau tunjukan pada mereka?" tanya Irsan yang masih berdiri.
"Mereka menghalangiku, kau tahu. Hanya gara-gara benda ini!" sahutnya dengan menunjukan benda yang dia pegang.
Irsan mengernyit. "Apa itu?"
"Entahlah aku saja tidak tahu. Aku menemukannya di tong sampah. Kira-kira Senior tahu apa ini?"
Irsan mendekat, melihat benda yang berada di telapak tangan Tristan.
"Entahlah, ini semacam garpu! Tapi bukan juga garpu. Aku tidak tahu."
"Heh!"
"Ah maaf. Aku tidak sopan dengan Senior. Maafkan aku Dokter Senior, aku memang begini. Dan justru itu aku heran kenapa Profesor malah merekomendasikanku untuk di bekerja di sini denganmu, padahal sejak berada di kampus kita tidak pernah satu paham. Kau yang pendiam aku yang pemberontak, kau yang taat aku yang membangkang, selalu begitu. Jadi kita tidak akan pernah cocok kan!"
Beruntung sekali praktek yang sudah berakhir, hingga mereka lebih leluasa bicara.
"Rumah sakit ini mewah sekali. Kau hebat Senior, bahkan profesor Sam mengakui hal itu dan bekerja denganmu." pungkas Tristan lagi dengan menyisiri seluruh ruangan.
"Tidak perlu berlebihan, Dokter Sam sudah memilihmu karena dia paling tahu yang terbaik, jadi tidak perlu menjilatku!" tegas Irsan.
"Senior ini. Aku tidak menjilatmu, justru aku merasa hebat bisa bekerja di sini, terlebih denganmu. You are my role model Senior! Aku bahkan mengikuti Jejakmu dengan mengambil spesialis bedah dalam."
"Kau hebat, usiamu masih muda tapi sudah berdedikasi tinggi!" puji Irsan.
Tristan berdecak, "Muda apanya! Aku sudah tua."
Kini Irsan yang berdecak, kalau Tristan saja merasa tua, bagaimana dengannya. Fikirnya.
"Kau memang tidak berubah Tristan!"
Tristan terkekeh, lantas dia memperhatikan benda yang ada di tangannya. "Kau tahu Senior, benda ini kemungkinan besar adalah benda yang dipakai oleh dua orang yang tidak bertanggung jawab untuk merusak ban mobil kesayanganku!" ujarnya menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Kenapa? Karena ujung ini terlihat seperti alat pembuka botol tapi ujung ini sangat runcing sehingga bisa dikatakan seperti sebuah pisau kecil!" telaahnya sendiri. "Eeh ... tidak ... garpu kecil yang sangat tajam."
"Kau tahu dari mana kalau alat itu digunakan untuk merusak ban mobilmu?"
"Sangat mudah, orang-orang tidak bertanggung jawab itu hanya orang-orang payah. Mereka bodoh kalau hanya menutup CCTV yang menyorot langsung tepat pada mobilku, dan kau tahu sialnya apa?" Tristan tertawa. "Mereka tidak tahu aku memasang kamera di dalam mobilku. Kamera yang selalu on 24 jam."
"Jadi kau tahu siapa mereka?"
"Tentu saja! Dua wanita bodoh yang terlihat pintar. Sayang sekali, mereka cantik dan menarik. Tapi tidak punya otak yang memadai!"
"Lalu kau sudah menemukan mereka?" tanya Irsan lagi penasaran.
"Belum ... Tapi segera! Aku bisa menjebloskan mereka berdua kedalam penjara atau aku bisa memeras mereka berdua!" ujar Tristan tertawa.
Irsan berdecak, dari dulu Tristan memang selalu frontal dalam soal apapun. Urakan dan sedikit nakal, namun prestasinya patut di acungi jempol. Walau sifatnya begitu. Tapi juniornya paling rajin dikampusnya dulu.
Saat Irsan bahkan sempat menjadi Dosen alumni dan menjadi Dosen pembimbing dirinya, walau setiap kali kesempatan mereka selalu berargumen. Irsan yang tidak pernah peduli dan Tristan yang kristis soal apapun, terlebih soal kesenjangan sosial di antara mahasiswa jalur beasiswa dan jalur previllege. Padahal Irsan sendiri tahu jika keluarga Tristan cukup terpandang, dia juga mahasiswa jalur previllage tapi selalu membela kaum mereka yang mendapatkan beasiswa dengan keterbatasan finansial.
"Lalu apa yang akan kau pilih!"
"Aku sedang memikirkannya, Kau ada saran Senior. Saranmu pasti akan aku lakukan!"
Irsan tampak terdiam, memeras bukanlah hal yang baik
"Tapi tidak saran untuk memaafkan mereka begitu saja Ya!" tambah Tristan, seolah tahu apa yang di fikirkan Irsan tentang dua wanita yang dia bayangkan.
"Baiklah ... Kalau begitu kau bisa melaporkan mereka ke polisi kalau kau tidak mau berdamai!"
"Tentu saja tidak, kalaupun mereka mengganti biaya kerusakan mobilku. Mereka tetap harus menerima konsekwensi dari perbuatannya!"
"Terserah kau saja ...!" tukas Irsan yang kini memilih duduk di kursi miliknya.
Tristan terkekeh, tak lama dia mengeluarkan ponsel pintar miliknya dan menggoyang goyangkannya. "Dengan bukti ini sudah cukup untuk menjebloskan wanita wanita bodoh itu ke dalam penjara agar menjadi efek jera!"