I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.203(Nita!)



Cecilia masih menggenggam kunci mobil pemberian Embun dengan erat, entah apa yang harus dia katakan dengan sesuatu yang mengejutkan dan tidak dia bayangkan sebelumnya. Bahkan perhatian kecil dengan memberikannya sarapan yang tidak dia bisa duga. Embun tersenyum manis di hadapannya. Mengelus punggung tangan miliknya dengan lembut.


"Kau tahu satu yang menyadarkan Ibu, semakin Ibu memikirkan kepedihan Ibu dimasa lalu semakin keras juga Irsan pada Ibu. Sifat kami memang sama, jadi Ibu harap kau bisa menjaganya dengan baik, Ibu yakin hanya kau yang bisa membuatnya luluh dan benar benar memaafkan Ibu."


Wanita paruh baya itu menatapnya dengan nanar, dan Cecilia masih saja terpaku dengan bibir terkatup rapat. Tatapannya, sentuhan lembutnya, seolah dia melihat ibu kandungnya sendiri.


"Ibu juga sudah memutuskan untuk tinggal di negara ini sementara waktu, ibu akan tinggal di rumah lama Ibu. Kau bisa segera tinggal di unit itu nanti. Ibu juga akan mengurus putra ibu sebelum nanti kau yang akan benar benar mengurusnya."


Cecilia yang terpaku, mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Embun.


"Bu ...!" lirihnya dengan suara bergetar, seolah yang dia panggil adalah ibunya atau hanya harapannya terlalu besar.


Tatapan Cecilia berubah nanar, entah apa yang dirasakannya kali ini yang pasti sesuatu yang menghangat tiba tiba hadir di dalam hatinya. Perasaan yang selama ini tidak pernah dia rasakan, perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata kata.


"Ayo sana pergi, bisa bisa kau ini terlambat karena terua bengong disini. Ibu juga akan pergi sebentar lagi." Embun mengelus bahu Cecilia.


Gadis itu menyerbu ke arahnya, memeluknya dengan erat juga menitikkan air mata. Ah ... Kali ini sisi feminimnya memang sering keluar, sensitif dengan hal hal yang berkaitan dengan perasaan. Hal.yang tidak pernah dia lalui sejak lama bahkan dia hindari sebisa mungkin.


"Makasih ya Bu ...! Ibu baik banget," gumamnya dengan mencondongkan tubuh masih memeluknya karena Embun sedikit lebih pendek darinya.


"Justru Ibu yang terima kasih padamu,"


"Aku masih gak nyangka kalau Ibu bisa nerima aku yang begini ini."


"Kau yang bilang sendiri bukan, kalau cukup berdamai dengan masa lalu. Ibu sedang mencoba melakukan hal itu, dan seharusnya kau juga melakukannya. Masa lalu lebih sulit dibandingkan Ibu, jadi kau harus lebih keras berusaha, tidak usah khawatir hal yang lainnya."


Cecilia mengurai pelukan, juga menyusut air matanya dengan cepat, "Ibu gak takut denger yang macem macem lagi dari orang yang nilai aku buruk?"


"Mungkin Ibu akan kesal kalau mendengarnya"


"Ibu ..., tuh kan!"


"Ibu akan marah padanya, enak saja dia menjelek jelekkan calon menantu Ibu, yang bisa menjelek jelekkannya hanya aku." cetus Embun dengan terkekeh.


"Hah ...?"


"Kau ini, sudah sana. Bukankah kau asisten Dosen? Mana ada asisten dosen yang terlambat."


Sekali lagi Cecilia memeluknya erat, "Makasih ya bu! Aku seneng banget hari ini karena ibu. Aku akan menemui ibu nanti kalau ibu udah di rumah,"


Embun mengangguk, melambaikan tangan pada Cecilia yang mengayunkan langkahnya menjauh. Rasa bahagia menyelisik dalam hatinya, baru kali ini rasanya dia benar benar menjadi seorang Ibu.


"Sepertinya punya anak perempuan lebih menyenangkan dibandingkan anak laki laki yang kaku dan datar, mana pernah Irsan mau memelukku begitu. Ya kan Sus?"


Suster yang sejak tadi berdiri dibelakangnya pun mengangguk, "Nyonya sekarang punya anak gadis juga, Non Cecilia sangat menyenangkan."


***


Cecilia tiba di kampus dengan mobil pemberian Embun, sepanjang perjalanan dia tidak hentinya tersenyum, bahkan bernyanyi nyanyi. Berkali kali mendapat masalah namun berkali kali juga mendapat kebahagiaan. Hidupnya benar benar naik turun semenjak mengenal pria yang semakin memenuhi ruang kosong di hatinya selama ini. Bukan kebahagian semu yang selama ini dia dapatkan.


Cecilia berjalan menuju ruangan kelasnya, dengan kedua manik menyisir mencari seseorang yang sangat ingin dia temui.


"Lo lihat Nita?" tanyanya pada seorang pria yang hendak keluar.


Gadis berambut panjang itu berdecak, dia merogoh ponsel dan menghubunginya. "Direjeck lagi. Anjim tuh anak!"


Cecilia menyimpan barangnya di atas meja, lalu keluar dari kelas dan mencarinya. Hampir semua orang dia tanyai tentamg keberadaan sahabatnya itu namun tidak ada yang tahu juga.


"Tuh anak ngerepotin, gue cari kemana mana kagak ada batang hidungnya!" gumamnya dengan kembali menghubunginya lewat sambungan telepon namun tetap mendapat penolakan.


"Ce ... Lo nyari si Nita?" seru seseorang dari arah belakang,


"Heem ... Lo lihat dia?"


"Noh mojok dikantin, cepet deh lo kesana sebelum dia bikin lo bangkrut."


"Hah. Apaan?"


"Dia lagi makan banyak banget!" Temannya melengos dengan tertawa sampai terpingkal.


"Sialan lo, gue kira apaan!"


Cecilia pun bergegas menuju kantin, dan benar saja. Gadis berambut pendek sebahu tengah duduk di pojok kantin dengan dua porsi bakso di meja, dua gelas air jeruk. Namun dia hanya terdiam menatapnya tanpa menyentuh makanannya sedikitpun.


"Nit?"


Nita mendengus tanpa ingin menatap ke arah Cecilia yang kini menarik kursi dan duduk di hadapannya, dia langsung melahap bakso yang belum tersentuh itu dengan rakus.


"Heh ... lo fikir bakso itu gue pesenin buat lo?"


"Lah ... Habis buat siapa kalau bukan buat gue?"


Nita mengerdik kasar, "Buat temen gue!"


"Temen lo kan gue?"


"Emangnya temen gue cuma lo doang, enggak kali banyak!" tukas Nita dengan kesal. "Lo udah gak asik semenjak lo punya Irsan. Faham lo."


Cecilia yang menyeruput es jeruk itu hampir tersedak. "Kok lo gitu sih, juatru gue mau minta maaf sama lo. Gue gak ada magsud buat bikin lo gak nyaman sama ucapan gue tentang Carl, tapi gue bener bener gak suka lo terlibat perasaan sama dia. Gue khawatir Nit."


"Terus kalau gue bilang gue gak suka lo berhubungan sama Irsan lo mau apa? Lo juga gak suka kan kalau gue ngomong kayak gitu. Sama Ce ... Lo jangan egois dong. Lo fikirin aja kebahagian lo saat ini, gak usah mikirin gue sama Carl,"


"Nit!"


"Apa? Terserah lo mau ngomong apa, gue juga gak larang larang lo kan. Jadi lo gak bisa larang larang gue kayak gini, gue malah dukung lo ... Tapi lo gak dukung gue." Ketusnya dengan marah.


"Gue dukung apapun itu tapi please jangan Carl ... yang lain aja, gue khawatir sama lo." terangnya berkali kali namun Nita tidak juga mengerti.


"Karena Carl seorang player sama kayak kita? Picik banget sih lo Ce ... Lo berharap gue ketemu siapa. Ustad?"


Nita bangkit dengan kesal lalu beranjak pergi meninggalkan Cecilia.


"Nitaa!"