I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.103(Diusir)



Cecilia mencegat taksi dengan buru buru, satu taksi yang kebetulan lewat pun berhenti, bergegas dia masuk ke dalamnya.


"Apartemen xx pak."


"Baik Non."


Tidak perlu mengatakan alamat dengan jelas, apartemen mewah itu cukup terkenal dikawasan sana, hanya dengan menyebutkan namanya saja, kita bisa duduk dan cepat.


15 menit kemudian Cecilia sudah tiba di gedung apartemen, gadis itu bergegas masuk setelah memberikan uang pada supir taksi, dia berlari menuju lift, tapi sayang. Lift tidak juga terbuka. Cecilia yang sudah mulai panik dan tidak sabar itu terus menekan tombol lift agar cepat terbuka.


Ting


Lift terbuka, Cecilia masuk ke dalam dengan buru buru walaupun orang yang tengah berada di dalam belum semuanya keluar. Dia sangat tidak sabar ingin cepat sampai.


Sila yang cemas juga terus menghubunginya, membuatnya semakin resah saja. Tak lama dia sampai di lantai 5 dimana unitnya berada, setengah berlari dia menuju unit miliknya.


Terlihat beberapa pria berjas hitam berbincang bincang di depan unitnya, ada Sila yang memegangi tas besar ditangannya dan mulai menangis.


"Anjim telat gue!" gumam Cecilia yang terus melangkah. Namun langkahnya kecil dan dengan kedua mata yang terus berkeliaran mencari seseorang.


"Ini pasti Irene yang nyuruh mereka," gumamnya lagi.


Sampai dua orang diantara mereka masuk ke dalam, langkah Cecilia sempat terhenti. Dia merogoh ponsel dan menghubungi Reno untuk bertanya kenapa dia membiarkan istrinya melakukannya.


Namun tak satu pun panggilannya dia jawab, dan berakhir dengan panggilan yang tidak tersambung alias Reno men non aktifkan ponsel miliknya.


Cecilia berdecak kesal, memasukkan kembali ponsel milkknya ke dalam tas. Dua pria yang masuk telah kembali keluar, dan melemparkan barang miliknya begitu saja.


"Anjim ...!"


Pria yang menunggu di luar ikut masuk, bergantian mereka mengeluarkan semua barang milik Cecilia yang membuat darahnya mulai mendidih.


"Ini gak bisa di biarin!"


Cecilia setengah berlari, Sila yang melihatnya segera menghampirinya.


"Kak ...!"


"Lo gak apa apa kan?"


Sila menggelengkan kepalanya, "Gue udah bilang buat tunggu lo, tapi mereka maksa buat masuk, mereka juga tahu nomor password kak, jadi mereka bisa masuk sendiri."


"Apa Reno ada di dalam?"


Sila mengernyit, "Gak ada kak. Gue gak tahu yang nyuruh mereka siapa."


Cecilia masuk dengan segera, dan menghalau pintu saat satu pria berjas hitam itu hendak melemparkan barang pribadinya keluar.


"Heh ... sini, berikan. Itu punya gue." Cecilia merebutnya, "Kalian fikir kalian siapa bisa seenaknya obrak abrik rumah orang. Siapa yang nyuruh kalian? Suruh berhadapan sama gue." ujarnya lagi dengan lantang.


Dua pria yang keluar dari kamar dengan dua koper di tangannya berdecih, lalu melemparkan koper koper itu tepat di kakinya. Hanya berdecih dengan tatapan merendahkan.


"Kurang ajar! Kalian tuli hah?"


"Sudahlah Nona, kau hanya perlu menunggu saja. Ini tidak akan lama."


Satu pria yang disinyalir adalah leadernya tertawa, "Kau fikir dia melakukan ini karena apa. Hm?" ujarnya lalu melemparkan sebuah surat yang isinya mewajibkan Cecilia mengembalikan semua fasilitas yang dipakainya saat ini.


"Dua kartu kredit, 2 kartu debit, kunci mobil beserta suratnya, 1 unit apartemen. Sisanya kau boleh ambil." ujar pria itu menyulut sebatang rokok, mengisapnya dalam dalam lalu menghembuskannya ke udara.


"What? Kenapa Reno lakuin ini. Gue gak ngelakuin hal yang ngelanggar kontrak ya, asal lo tahu." Cecilia tampak sangat kesal, dia melemparkan sepatu ke arah pria yang tengah mengawasi rekan rekannya membongkar lemari. Gila aja semua dia ambil, cuma baju yang gak dia ambil.


"Ah ... Iya, dan ponsel yang kau gunakan saat ini. Alasannya kau bisa tanyakan sendiri padanya nanti." ujarnya lagi dengan berjalan mendekat, merebut tas yang tersampir di bahunya dan mengambil ponsel dan dompet miliknya.


"Anjim lo semua!"


Pria itu hanya terkekeh, dia tidak mengatakan apa apa lagi, mencabut kartu internal miliknya dan meletakkannnya begitu saja di atas meja.


Setelah semua barang mereka keluarkan, mereka juga memaksa Cecilia dan Sila untuk keluar dari sana.


Pria yang merupakan leader komplotan berjumlah enam orang itu mengganti password miliknya dengan yang baru. Setelahnya mereka berenam pergi begitu saja.


"Kak ... Gimana ini!"


"Sialan! Ternyata bukan Irene yang ngelakuinnya, tapi si tua bangka itu," ujarnya kesal dengan memunguti barangnya yang berserakan. "Apa dia tahu gue punya hubungan sama Irsan. Tapi siapa yang kasih tahu. Anjim ... Apa si botak itu?" ujarnya lagi, dia maish terus menerka nerka siapa yang memberi tahu Reno, dan siapa lagi yang tahu jika bukan asistennya itu. " Bener si botak pasti ini."


"Kak ... Jadi kita kemana sekarang."


" Lo tenang aja, gue bakal kasih pelajaran sama tuh aki aki. Seenaknya aja buang gue kayak gini, gak ada peringatan apa apa dulu."


"Emang bisa kak? Yang ada lo lagi nanti kena masalah lebih gede lagi, udah deh mending kita pergi aja. Biarin aja mereka. Gue punya tabungan ... Kita bisa pake buat nyari tempat sementara kak." ujar Sila yang juga sama sama terkena masalah, bedanya dia mendapat masalah dari Irene, sementara Cecilia dari suaminya.


Namun sama saja, karena semua masalah ini timbul karena ulah Cecilia sendiri. Dan masalah semakin besar saja.


"Lo boleh cari tempat sementara dulu, atau mending lo balik deh ke rumah lo, gue harus urus sesuatu dulu." Cecilia memasukkan pakaiannya ke dalam koper dan menjejalnya hingga koper sulit di tutup.


"Gak bisa kak ... Lo fikir gue bisa pulang? Yang ada nanti Tante Irene dateng ke rumah. Dia pasti udah cecer nyokap gue kak, apalagi gue bisa dibilang kabur. Apa kata nyokap gue kak, belum lagi kata tetangga."


Cecilia menghela nafas, apa yang dikatakan gadis berusia 14 tahun itu memang benar. Dan semua masalah berawal darinya.


"Kak?"


Cecilia berjongkok lalu terdiam sendiri, memikirkan semua masalah yang semakin rumit sampai dirinya tidak lagi memiliki apa apa.


"Kak?"


Panggilan Sila sama sekali tidak di gubrisnya, dia masih terdiam tanpa kata, dengan wajah melas serta kedua mata yang mulai mengabur.


"Gue gak bisa di giniin! Kalau gue hancur ... Dia juga harus hancur!" gumamnya dengan bangkit. "Sil ... Gue pinjem ponsel lo."


Sila memberikan ponsel miliknya dengan suka rela, dia juga sudah kadung terjun dan tetap akan basah walaupun dia sudah berada di tepian. Dan memilih terjun bebas agar bisa menemani orang yang menolongnya.


"Nih juga kak." Sila memberikan tas berisi setumpuk uang padanya, membuat kedua mata Cecilia terbelalak. "Gue gak nyuri kok. Itu gue dapet dari uang saku yang di kasih Irene."


Cecilia mengambil beberapa lembar saja, dan memberikannya lagi pada Sila.


"Lo pegang aja sisanya, kita pasti butuh. Lo tunggu di sini sampai temen gue datang, lo ikut nanti sama dia, gue harus pergi dulu."