
Cecilia memilih pergi lewat jalan memutar dari pada harus bertemu dengan para polisi. Jujur, dia tidak siap jika harus berkaitan dengan kasus hukum. Sekalipun dia tidak pernah melakukan kejahatan serius namun dia benar benar takut berhadapan dengan penegak keadilan yang selalu tumpul ke atas.
Irsan mempersilahkan polisi untuk melanjutkan penyelidikannya, terutama untuk kasus Dirga yang akan berkaitan dengan gadis yang tinggal bersamanya selama setahun yang dia juga tahu bahwa gadis itu adalah Cecilia.
"Kemana dia?" gumamnya saat melihat Cecilia sudah tidak berada di belakangnya. Dia berdecak lalu kembali melangkah dengan ponsel yang dia tempelkan di telinganya.
'Aku akan terlambat ke rumah sakit! Hubungi Dokter Aji untuk menggantikanku jika ada sesuatu yang darurat.'
Katanya pada seseorang di station nurse yang dia hubungi melalui sambungan telefon tanpa menghentikan langkahnya sama sekali. Dia keluar dari lobby apartemen dengan terburu buru dan segera menuju ke tempat parkir. Dan benar saja, disana sudsh terlihat Cecilia yang tengah masuk ke dalam mobil dengan tergesa gesa.
Irsan berlari menghampirinya dan segera masuk kedalam mobil begitu saja, membuatnya Cecilia yang baru saja mendaratkan bokongnya tersentak kaget.
"Astaga!" ujarnya dengan memegangi dadanya.
"Kau mau kabur. Hm?"
"Eng--enggak ... Kenapa aku harus kabur?"
"Mereka mencarimu didalam, kau pergi begitu saja! Kalau bukan kabur apa namanya?"
"Enak aja! Aku gak kabur, aku gak ngelakuin apa apa." ujarnya dengan cepat memutar kunci mobil dan menyalakan mobilnya.
Namun Irsan memutarkan kunci mobil dan mesin kembali mati. "Kalau kau tidak salah kenapa kau takut."
"Enak aja! Siapa yang takut. Udah ah sini kuncinya, aku harus ke kampus. Ada kuliah pagi." katanya sambil berusaha merebut kunci mobil dari tangan Irsan.
"Apa kau lebih memilih mereka menemuimu di kampus dan semua teman teman kampusmu tahu?" ujar Irsan menohok.
Cecilia mematung dengan tangan yang memegang kunci mobil ditangan Irsan, benar apa yang di katakan Irsan, kalau polisi tidak menemukannya di apartemen, mereka sudah pasti mencarinya di kampus. Dan itu benar benar akan gawat.
"Benarkan dugaanku. Jadi lebih baik kau temui panggilan mereka disini. Resikonya sangat kecil dibandingkan di kampus. Kau akan menjadi bahan gunjingan, terlebih kau bilang kau tidak salah."
"Ta---tapi!!"
"Aku akan membantumu kalau kau benar benar tidak bersalah seperti apa yang kau katakan, dalam artian kau tidak menggunakan obat obatan itu juga, apalagi kedapatan menyimpannya."
Cecilia mendengus mendengarnya, "Kau tahu sendiri aku gak nyimpen barang begituan."
"Kalau begitu, aku akan membantumu." ujarnya lagi, dan kali ini di akhiri dengan Irsan yang mengulas sedikit senyuman.
"Eeeh ...!"
Pria itu kembali membuka pintu mobil dan bergerak keluar, menutup pintu dan berjalan ke arah sebaliknya. Melihat Cecilia tidak juga keluar dia mengetuk kaca mobil.
Tok
Tok
"Tunggu apa lagi! Ayo turun." ujarnya dengan kepala yang sedikit mencondong ke arahnya.
Gadis berusia 20 tahun itu menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri sendiri sebelum dirinya menemui polisi. Ketukan ketiga kalinya terdengar dari luar dengan Irsan yang menuruhnya segera keluar dengan dagu nya. Perlahan. Cecilia pun akhirnya keluar dari mobil.
"Kau hanya akan dimintai keterangan saja! Suruh siapa kau tinggal bersama dengannya sampai satu tahun lamanya."
"Yeee ... Bukan urusan mu juga!"
"Oh ya ... Tapi maafkan aku! Karena mulai sekarang akan menjadi urusanku." ujar Irsan dengan melangkahkan kaki, tidak lupa dia memasukkan kunci mobil milik Cecilia kedalam saku celananya.
Cecilia mengejar langkahnya hingga berjalan bersisian. "Kenapa jadi urusanmu sekarang? Jangan bilang ka---"
"Karena aku yang melaporkannya kau ingat?" sela Irsan dengan cepat.
"Ku kira ...."
"Apa? Kau mengira aku apa?"
"Gak!" Jawab Cecilia di sertai gelengan kepala.
Mereka memasuki lift yang berada di basement yang langsung menuju lobby hotel dan tidak perlu berjalan memutar. Terlihat Cecilia tengah cemas, merekatkan kedua tangannya dengan kaki yang terus bergerak gerak tidak mau diam.
"Kau kenapa?"
"Aku phobia polisi." lirihnya dengan memperlihatkan wajah risau miliknya.
"Phobia polisi. Sejak kapan? Apa baru saja terjadi karena mereka mencarimu" cibir Irsan, mana dia percaya ucapannya begitu saja. Ucapan Cecilia yang memang kerap asal.
"Sejak kecil."
"Mana mungkin! Jangan mengada ngada. Aku serius kalau aku akan membantumu jika kau benar benar tidak bersalah. Ini bukan lagi karena semata mata aku melihatnya sendiri saat Dirga berbuat kasar padamu, bahkan dua kali. Ini tentang generasi muda yang semakin rusak karena obat obatan itu."
"Aku juga serius! Aku phobia kalau setiap melihat polisi."