
Mereka berdua terus membicarakan hal hal yang menurut Zian adalah hal buruk dari pernikahan, lebih tepatnya hal buruk yang dia rasakan sendiri dalam pernikahannya selama ini, menikah bukan perkara mudah, dua kepala dengan pemikiran yang sama, dan selama ini dia sudah banyak mengalah. Tips tips dari nya menceritakan curahan hati secara tidak langsung. Dan Irsan hanya diam mendengarkan, bukti jika dia benar benar sangat serius, jangankan menyelanya bicara, dia bahkan tidak mencibir maupun membalas meledek Zian.
"Keren juga, kau memang harus bertemu orang yang agresif." Zian tidak berhenti tertawa. "Karena mungkin kau terlalu pasif atau dia yang terlalu aktif!"
Irsan mengerdik, dia tidak mungkin mengatakan perihal latar belakang Cecilia yang menjadi seorang sugar baby, bukan karena malu atau apalah.
Keduanya masuk kedalam restoran dimana Agnia berada, Zian mengedarkan pandangannya mencari sosok istri yang berbeda generasi dengannya itu namun belum juga nampak.
Irsan sudah lebih dulu duduk, tangannya kebas karena menggendong Biru yang tidak mau di gendong ayahnya sendiri. Sampai Zian melihat seseorang yang dia cari berada paling ujung.
"Itu dia istriku! Ayo pergi. Ayo Biru come to mommy!" kedua tangan Zian terbuka ke arah Biru.
Mendengar kata mommy, Biru baru beringsut pindah gendongan, bahkan dia melupakan flaminggo yang sejak tadi di mainkannya. Irsan lega dibuatnya dan buru buru memasukkan kunci mobilnya ke dalam saku celana.
Zian lebih dulu menghampiri ibu dari putranya, dan mengecup pipinya lembut.
"Baby ... Kau sendirian. Mana Cecilia?"
"Dia belum datang, mungkin akan terlambat karena dia ditelepon rumah sakit katanya Ibunya mencarinya."
Zian mengangguk pelan lalu duduk disampingnya, memberikan Biru pada pangkuannya.
"Biru tidak mau berhenti menangis dari tadi, aku sampai kewalahan. Dia baru diam saat Irsan memberinya boneka flaminggo."
"Benarkah? Sekarang dokter Irsannya mana?"
"Ada di sana tadi!" tunjuk Zian ke arah tempat duduk dimana Irsan duduk sebelumnya namun kini tidak terlihat lagi. "Sepertinya Biru menyukai boneka flaminggo, aku akan membelinya nanti. Kalau perlu seisi kamarnya kita isi dengan boneka flaminggo."
"Dadd ... Ya ...ya ...ya!" Biru terlihat girang mendengarnya, bahkan berulang kali dia mengangguk anggukan kepalanya.
Namun tatapan tajam dari Agnia membuat Zian terdiam lalu terkekeh. "Biru akan senang baby. Bukankah kita akan kembali ke singapura besok."
Agnia menghela nafas, "Gak bisa lebih lama lagi ya ... Aku belum ketemu Nita, Bi Nur, Juga Aya. Aku kangen mereka."
Zian tampak terdiam, dengan memikirkan jadwal jadwal padat dari pekerjaannya.
"Sampai Dokter Irsan nikah aja. Gimana Hubby? Ya ..."
"Ya ... Ya ... Ya ...!" timpal Biru mengikuti ucapan Ibunya seperti burung Beo.
"Tuh Biru aja setuju ... Oke Biru, kita main dulu di play ground di sana nanti?"
"Ya ... Yaa ... Mam main main!"
Zian menghela nafas, ahli pernikahan dan tips tips untuk Irsan nyatanya lebih dulu dia rasakan. Irsan menghampiri mereka lantas langsung mendudukkan beban tubuhnya. Sementara seorang pelayan datang untuk memberikan buku menu, Zian mengambilnya dan melihat lihat isinya.
"Dokter Irsan kapan nikahnya? Soalnya aku akan tinggal disini sampai dokter Irsan menikah." celetuk Agnia yang membuat Zian menghela nafas dan Irsan terbeliak.
Irsan menatap Zian yang sibuk melihat menu lalu mengulas senyuman, "Nyata sekali tips mu tadi."
"Baby ... Bagaimana dengan pekerjaanku? Irsan saja belum menentukan kapan dia menikah." tukas Zian yang langsung menyorotkan kedua matanya tajam. "Gerak lambat!" desisnya kemudian
"Aku bukan kau yang menikah tanpa persiapan apa apa Zian!"
Agnia terkekeh, "Denger tuh! Bener yang dikatakan Dokter Irsan, menikah itu persiapkan dengan matang, bukan asal nikah tahu tahu sah."
Zian meletakkan bolpoin lalu merengkuh bahunya lembut, "Apa kau mau kita menikah ulang lalu pergi honeymoon. Hm?"
Agnia mendengus sementara Irsan terkekeh lagi, "Aku tidak ikut ikutan, lebih baik aku pergi dari sini."
"Tunggu sebentar, aku sudah pesankan kau makan. Bukankah kita akan ke klub malam?" celetuk Zian yang langsung terdiam.
Agnia melebarkan kedua pupil ke arahnya sementara Irsan kembali terkekeh. Mmebayangkan posisinya sebagai suami berhadapan dengan seorang istri. Entah apa yang akan dilakukan oleh Cecilia jika hal itu yang terjadi.
Mungkin dia tidak akan melotot, dia akan langsung setuju dan ikut. Batin Irsan seraya menggelengkan kepalanya.
Sementara Cecilia yang baru tiba di pelataran mall langsung menghubungi Agnia, gadis itu terus mengotak ngatik ponsel sembari berjalan, masuk ke dalam lift dan keluar kemudian langsung menuju ke restoran dimana Agnia mengirimkan share lock padanya.
"Ce...!"
Agnia melambaikan tangan ke arahnya, tapi di matanya hanya mengunci sosok pria yang membelakanginya.
"Elah ... Malah bengong!"
Zian mendongkak lalu mendengus pelan lalu berdesis."Gadis penggoda!"
"Hubby!"
"Memang kenyataannya begitu. Taoi beruntung karena dia tidak membawa pengaruh buruk terhadapmu. Kalau iya sudah ku lenyapkan sejak dulu."
Irsan yang tidak terlalu peduli menoleh karena penasaran, lalu kedua maniknya melebar seketika.
"Dia ....?"
"Cecilia ... Sahabatku." tukas Agnia.
"Gadis urakan yang kerap menjerat pria!" gumam Zian setengah berbisik tepat di telinganya.
"Dia ... Kau kenal dia?"
Zian mengangguk, bertepatan dengan Cecilia yang tersenyum sumringah saat tebakannya benar, pria itu Irsan.
"Sayang ... Kok ada di sini?"
Agnia dan Zian termangu, saling melirik satu sama lain. Terlebih saat Cecilia menarik kursi dan duduk di sebelah Irsan dengan wajah berseri seri.
"Kalian? Bentar ...!" Agnia menyerahkan Biru laly bangkit dan menarik Cecelia menjauh.
"Ce ... Lo gila apa gimana sih? Lo sama Dokter Irsan ... Maksudnya lo gak ada kontrak kan sama dia? Please Ce ... jangan main main." resah dan khawatir terlihat jelas di wajah Agnia.
Cecilia terkekeh, "Gue ... sama dia? Dokter Irsan, iya ... Hubungan kami spesial."
"Jangan gila lo Ce!"
Begitu juga Zian dan Irsan yang sama sama tidak menyangka.
"Jangan bilang gadis itu dia?"
"Kau mengenalnya juga, kau tahu dia?"
"Ya aku tahu!" Zian meraup wajahnya tidak percaya. "Bagaimana bisa kau berniat menikahinya Irsan! Astaga....!"
"Ce ... Lo main main! Dia ... Irsan maksudku Dokter Irsan ... Astaga!"
"Emangnya kenapa ... Takut gue porotin dia?" Cecilia tertawa dengan langsung melangkahkan kaki dan kembali duduk.
Ke tiga orang didepan Cecilia tampak masih saling melirik tanpa percaya dengan apa kenyataan yang terjadi saat ini.
Hanya Cecilia yang terlihat santai. Dia melirik ketiganya bergantian dengan senyuman yang tidak pudar sedikitpun. Bahkan dia menahan tawa saat teringat siapa orang bodoh yang di bicarakan Irsan setiap membahas pernikahan dan kerennya Zian.
"Baby ...! Kau yakin temanmu tidak main main. Apa Irsan sudah gila dan putus asa sampai menikahi gadis seperti itu?" bisiknya pada sang Istri.
"Hubby ... Kau fikir Cecilia gak pantas?"
"Bukan begitu. Tapi aku merasa Irsan terlalu gila!"
.
.
Wkwkwkwk ... Gak kebayang muka kaget mereka saat tahu, wkwkwk.