
"Kau benar! Berarti aku salah bicara."
"Heh ... Mana bisa salah bicara! Berarti kau tidak kenal siapa dia. Dasar cewe sundel. Munafik. Gue paling gak suka sama orang munafik. Kalau mau ya kayak gue. Apa adanya aja. Udah jelas jelas dia cuma mau harta mu aja iya kan?"
"Kau juga sama kan?"
"Iya ... Tapi aku gak sembunyi dibalik kata cinta. Enggak kayak dia."
Kemarahan Cecilia jelas tidak beralasan, dia seperti membicarakan dirinya sendiri. Namun entah kenapa seolah dia tidak terima jika Ines mempermainkan Irsan, bahkan mengambil mobil yang selalu digunakannya.
"Gimana caranya dia bisa ambil semudah itu!"
"Itu memang mobilnya Cecilia! Sudah diam tidak perlu marah marah. Itu hanya mobil."
"Hanya ...!" Cecilia menepis tangan Irsan yang sejak tadi memegangnya dan tidak melepaskannya. "Ok baiklah itu hanya mobil! Tapi dia kurang ajar! Apa kau tidak marah saat dia bilang menitipkanmu padaku? Kau pikir kau barang? Guci dari dinasti ming? Kau tidak marah padanya karena kurang ajar?" Seberondongan pertanyaan yang membuatnya kesal, bukan hanya itu Cecilia merasa lebih direndahkan. Dia tidak pernah kalah dari siapapun, tapi rasanya saat Ines mengatakan hal itu dia tidak terima karena dia bahkan tidak sempat menyerangnya dengan kata kata bahkan tindakan. "Kayak orang bego tahu gak rasanya."
Irsan semakin mengulum senyuman, Cecilia yang kesal dan terus marah hanya karena hal itu membuatnya semakin menggemaskan, terlihat sekali jiwa penuh persaingan dan tidak ingin kalah apalagi mengalah dari dalam dirinya.
Sampai tidak terasa mereka justru sampai ujung lorong, dimana terdapat tangga darurat dan sebuah tempat fitnes, juga area kolam renang yang memang menjadi fasilitas yang diberikan kepada semua penghuni apartemen. Namun keduanya sangat jarang sekali ke tempat itu.
Irsan mengernyit lalu menoleh pada Cecilia yang saat ini sudah terdiam karena melihat tempat di depannya, "Kau mau berenang?"
"Enggak?"
"Fitnes?"
"Mana ada aku fitnes pake baju begini! Kau juga." ujarnya menarik ujung kerah kemeja Irsan.
"So ... Bukankah seharusnya kita kembali ke unit kita?"
"Ya ... Ngapaian juga kesini! Ini lantai berapa sih! Kenapa kita dilantai ini?"
Irsan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat mengingat bahwa mereka berdua keluar dari lift hanya karena melihat Ines. "Ku fikir kita dilantai lima!" tukasnya.
Cecilia menggelengkan kepalanya, "Bukan? Kita masih dilantai 8, tempat ini dilantai 8. Terus ngapain kita kesini. Ini gara gara si sundel tadi."
"Ines!" Irsan sedikit terkekeh.
"Bodo lah namanya siapa! Aku bilang dia sundel." Jawabnya dengan mendengus.
Irsan kembali menarik tangan Cecilia, menggenggamnya lembut sembari berjalan ke arah sebaliknya. "Kita kembali saja!"
"Heh ... Kau memang benar benar mencintai si sundel itu ya! Sampai sampai gak marah apalagi kesal. Coba kalau sama aku. Kau pasti mencak mencak gak jelas kayak di rumah sakit."
Irsan tetap mengulum senyuman, keputusannya membiarkan Cecilia tetap berfikir kalau Ines itu kekasihnya benar benar tepat saat ini, selain bisa melihatnya marah marah tidak jelas, walaupun dia tidak tahu apa itu hanya kemarahan karena merasa kalah saing atau kemarahan karena cemburu dia tidak peduli.
"Itu sangat beda! Kau memang membuatku pusing dengan acara main mainmu. Kalau ini hanya mobil dan aku tidak rugi."
"Dasar aneh! Jelas jelas rugi, kau tahu harga mobil itu di pasaran sekarang. Hah?"
"Aku tahu! Tapi tidak apa apa juga! Uang bisa dicari lagi."
"Woh ... Bijaksana sekali kau ini sama si sundel itu!"
Irsan menghentikan langkahnya, lalu berbalik ke arah belakang dimana Cecelia terus menggerutu. "Bagiku itu tidak ada artinya, aku tidak mengejar uang. Toh uang tidak bisa menjamin kebahagianku."
"Salah! Bagiku uang adalah kebahagian."
"Lalu aku? Apa artinya aku bagi mu?"
"Kalau aku bilang kau jangan tertawa."
"Apa memangnya?"
"Tapi jangan marah. Janji?"
"Kenapa jangan marah! Kau mengatakan hal yang buruk padaku?"
"Enggak! Tap---"
"Katakan saja. Apa aku bagimu?"
"Eeemm .... Tiang listrik!" ujarnya lalu tertawa dan berlari masuk kedalam lift dan buru buru menekan pintu lift agar segera menutup.
"Kurang ajar!" Irsan berlari mengejarnya ke dalam lift namun terlambat karena pintu lift sudah tertutup. "Sialan ... Apa maksudnya dengan tiang listrik!"
***
Irsan kembali ke unitnya sendiri setelah terpisah dengan Cecilia begitu saja, dia terus kefikiran ucapan Cecilia mengenai dirinya. Bisa bisanya dia mengataimu tiang listrik. Maksudnya apa coba. Ujarnya dengan membuka kancing kemeja miliknya dan melemparkannya ke tempat pakaian kotor.
Tak lama Ines masuk dengan membawa beberapa paper bag berisi makanan dan juga kopi yang dia pesan dari coffe shop milik Irsan sendiri.
"Taraaaa!! Ini sebagai rasa terima kasihku padamu yang udah kasih mobil itu buat aku." ujarnya mengacungkan kedua paper bag.
Irsan yang baru saja keluar dari kamar dan sudah mengganti pakaiannya tentu saja kaget melihat adik sepupunya itu masuk tanpa terdengar apa apa.
"Apa kau gila! Kau memesan coffe dan makanan ini di tempatku. Kau pasti menjual namaku lagi agar tidak membawa. Lalu kau mengatakan ini tanda terima kasih?"
Ines terkekeh, "Aku bayar Irsan! Kau boleh cek pegawaimu nanti. Oh ya ... Jadi kau benar benar sudah memiliki perasaan pada gadis itu kan. Seleramu bagus juga. Cantik."
Irsan mendengus, mengambil kopi dari tempatnya lalu menghirupnya perlahan lahan. "Bukan urusanmu! Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau bukan? Walaupun kau tidak melakukan apa apa sebenarnya."
"Tidak melakukan apa apa gimana! Orang kau nya saja sudah kecintaan, membuatnya cemburu malah kau yang mengamuk. Kan aneh." Ines menarik kursi di meja makan dan mendudukan bokongnya.
Namun dengan cepat Irsan mencekal lengannya dan membuatnya kembali berdiri. "Apaan ih!"
"Lihat aku baik baik! Apa menurutmu aku seperti tiang listrik?"
Ines mengernyit dengan pertanyaan aneh itu, dia menatap Irsan dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya bergantia.
"Katakan. Apa aku seperti tiang listrik."
"Siapa !yang mengatakan hal itu! Aneh aneh saja."
"Tinggal katakan saja!" sentak Irsan mulai tidak sabar.
"Ish ... Kenapa kau ini? Kedua matanya mungkin harus diperiksa. Kau ini tidak seperti tiang listrik. Ungkapan macam apa itu,"
Ines kembali duduk dan menyeruput kopi miliknya yang masih terasa panas hingga dia harus meniupinya terlebih dahulu.
Sementara Irsan kembali mendengus lalu menghadap lemari kaca yang menjadi pembatas ditengah ruangan. Menatap bayangan dirinya sendiri dengan kedua alis yang terus berkerut tipis.
Ines yang menatapnya pun kembali menggelengkan kepalanya, dengan terus memakan makanan serta kopi miliknya.
"Tapi iya juga sih! Mirip tiang listrik."