
"Ooh ... Pacarmu pasti sudah mengadu."
Irsan berdiri dengan menatap gadis yang bahkan tidak bisa berdiri dengan tegak didepannya, bersama Nita yang lebih parah lagi. Mereka berdua tidak berhenti tertawa, saling berangkulan satu sama lain.
Rasanya akan percuma bicara apapun saat ini, semua yang akan di katakannya pun akan menguap begitu saja keesokan paginya.
Sial ... Aku sudah menunggunya tiga jam dan itu sia sia. Cecilia, kelakuanmu sudah kelewat batas. Tapi aneh, kenapa aku malah menyukaimu. Bahkan lebih menyukaimu sekarang. Oh God, aku benar benar tidak waras.
Melihat Irsan yang hanya berdiri tegak dengan kedua tangan dia masukkan kedalam saku celana, Cecilia mengernyitkan dahinya.
"Kau mau bicara apa? Bicara saja, aku masih bisa mendengar, aku gak mabok. Nih si Nita yang mabok." Cecilia mengibas ngibaskan tangannya lalu menoyor kepala sahabatnya yang tertunduk lesu dengan rambut berantakan. Bahkan dia hanya diam saja saat Cecilia menoyor kepalanya, membuat Cecilia tertawa lagi.
Irsan sendiri mendengus pelan, "Masuk! Dan istirahatlah, besok pagi kau harus ke kantor polisi. Apa yang akan terjadi kalau mereka mengecek kadar alkohol di tubuhmu Cecilia."
Cecilia terkekeh, "Ya ... Pasti ada alkohol di dalemnya lah."
Dia lalu melepaskan dirinya dari Nita, maju tiga langkah sampai jarak mereka sangat dekat, dia juga menengadahkan kepalanya menatap Irsan yang lebih tinggi. Membuat jantung Irsan semakin berirama, ditambah wajah Cecilia benar benar menggemaskan.
"Heh kau tiang listrik. Kenapa kau tinggi sekali!" Cecilia menepuk nepuk dahinya sendiri, "Udah gila gue! Kenapa selalu Irsan yang ada dibayangan gue." desisnya lalu menunduk.
Entahlah Irsan harus tertawa atau marah dengan kelakukannya yang menggemaskan itu, dia ingin sekali mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kamar. Tapi hal itu akan semakin membuatnya menjadi pria yang brengsekk, jadi dia hanya mengepalkan tangan yang dia sembunyikan di dalam saku celananya.
"Kau fikir aku hanya bayangan! Dasar bodoh."
"Kenapa kau diam saja! Kau marah karena aku melabrak sundel kesayanganmu? Menghancurkan kencannya, what ever lah mereka itu apaan! Pokoknya aku sudah bilang, kalau kau milikku." Cecilia bicara sangat lancar saat mabuk, dia menunjuk dadanya sendiri saat mengatakan Irsan miliknya, "Kau juga setuju kan. Aku sudah memergokinya maen serong, jadi kau putuskan dia. Dia gak baik."
"Lalu siapa yang baik. Kau?"
Cecilia mengangguk anggukan kepalanya, "Aku baik. Aku bisa lebih baik dari si sundel itu. Aku bisa kerja walaupun sehari langsung dipecat. Aku juga pintar, aku pintar masak, aku juga pintar di ranjang. Paket komplit kan. Ditambah aku me___"
Huek!
Cecilia hampir muntah, dia menutup mulutnya lalu tertawa, Irsan maju untuk menangkap tubuhnya namun Cecilia kembali mengibas ngibas kan tangannya sembari menahan dirinya agar tidak muntah.
"Gak apa apa ... gak apa apa! Aku hanya minum sedikit tadi." ujarnya dengan melebarkan jengkalan tangannya. "Segini...!" terkekeh lagi.
Irsan mendengus kasar, sementara Cecilia terus tertawa.
"Masuklah! Kita bicara besok."
Irsan melangkah pergi, tidak baik untuk kesehatan jantung dan fikirannya saat ini. Pesona Cecilia membuat debaran jantungnya tidak beraturan, sementara kelakukannya membuat kepalanya pusing.
Kenapa ada gadis sepertinya yang bisa membuatku jatuh cinta sekaligus membuat darah tinggi.
"Hei kau mau kemana? Jangan pergi. Aku belum bilang I Love you!"
"Hey Irsan! I love you."
"Irsan ... Aku mencintaimu. Heh lo gak denger!"
"Bodoh! Aku bilang aku cinta, kenapa dia malah pergi."
Irsan tidak menghentikan langkah kakinya walaupun teriakan Cecilia sangat keras dan jelas ditelinganya. Bibirnya melengkung tipis namun sedetik kemudian kembali datar.
"Dia benar benar mabuk!"
Irsan masuk kedalam lift menatap Cecilia yang menendang nendang udara dengan tubuh sempoyongan dan terus memanggil namanya.
"Apa kau besok akan ingat ucapanmu itu Cecilia! Bodoh, kenapa aku harus mendengarnya saat dia mabuk."
Irsan terpaksa kembali ke unitnya dengan sia sia. Bagaimana bisa dia bicara dengannya saat ini, jelas Cecilia saja meracau terlebih dia mengatakan cintanya dalam keadaan mabuk. Yang kata orang perkataan orang mabuk itu jujur tapi akan lupa keesokan harinya, atau berpura pura lupa.
Dering ponsel terdengar dari saku jaket miliknya, dia merogoh ponselnya dan melihat nomor telefon Ines tertera jelas namun dia enggan mengangkatnya.
Dia hanya membalikkan layar menyala itu diatas meja, entahlah apa yang harus dia katakan padanya saat ini, bicara saja belum.
"Maaf Nes! Aku tidak mungkin membahas masalah dengan orang mabuk. Dia memang keterlaluan menggagalkan kencanmu, tapi aku yang bersalah karena masih terus membiarkan dia tahu kalau kau dan aku benar benar berhubungan hanya karena ingin melihat seberapa jauh perasaannya saja."
Sementara Ines berdecak seraya melemparkan ponsel ke ranjang karena lagi lagi Irsan tidak menjawab panggilan telefon darinya. Satya telah menblokir semua akses telefon dan menjadi semakin rumit, dia tidak tahu dimana tempat tinggalnya, dia juga tidak tahu nick name sosial medianya bahkan emailnya sekalipun. Dia hanya tahu kalau Satya bekerja disebuah perusahaan property. Pertemuan singkat di sebuah situs online dan kencan yang baru seminggu tapi kandas karena ulah seorang gadis gila.
"Pokoknya kalian harus membereskan semuanya sampai kencanku berhasil! Awas saja kau Irsan, kau yang bertanggung jawab penuh atas masalah ini."
***
Sementara itu kedua sahabat yang kelakuannya tidak beda jauh itu masuk kedalam unit apartemen, saling memapah dan langsung masuk kedalam kamar. Cecilia dan Nita ambruk di tempat tidur, masih mengenakan baju yang sama juga sepatu yang menempel di kakinya masing masing. Entah menghabiskan berapa botol minuman, yang jelas keduanya mabuk parah.
"Nit! Barang yang gue mau kasih ke lo ada di lemari, tapi gue lupa dibagian mana! Ini kamar gak sempet gue beresin. Sialan kan tuh polisi polisi ngeberantakin tapi gak beresin barang barang gue lagi." cerocosnya dengan memejamkan mata.
Nita menendang pahanya dengan keras sampai Cecilia bergeser ke tepi ranjang. "Ce ... Gue mau muntah!"
Kedua mata Cecilia menyipit ke arahnya, lalu gantian mendorong Nita sampai dia terjatuh ke bawah ranjang. Gadis itu merangkak ke arah kamar mandi. Cecilia tertawa melihatnya merangkak bak balita, dengan rambut tidak karuan.
"Muntah sana lo sundel! Muntahin semuanya, gue juga udah bilang semuanya sama Irsan tadi." serunya dengan suara yang mulai serak. "Gue bilang ...! Sial ... Gue bilang apa tadi, cinta? Ahhh shitttt!" katanya lagi dengan memegang kepalanya. "Apa gue bener bener bilang I love you sama dia. Kacau parah sih ah!"
Nita keluar dari kamar mandi setelah memuntahkan semuanya, lalu ambruk di atas tubuh Cecilia.
"Iihhhh ... Anjim lo! Gue masih normal bego!"
"Sama. Huh ... Gue juga masih suka batang ege!"