I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.191(Nungguin?)



Hari mulai terik, dimana sinar matahari sedang berada di puncaknya, Cecilia yang baru saja keluar dari ruangan bergegas menyusul Nita yang sudah lebih dulu lebih dulu berada di kantin. Cecilia berjalan dengan bersenandung ria, mulutnya terlihat bergerak kecil melantunkan entah lagu apa, dengan dua jari sibuk bergerak dilayar ponsel yang di pegangnya.


Ce ... Buruan!


Sebaris pesan singkat dari Nita yang baru saja dia buka. Cecilia memasukkan kembali ponsel miliknya dan berjalan ke arah kantin untuk menyusul sahabatnya itu. Namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya dari belakang.


" Nona Cecilia?"


Cecilia pun menoleh ke arah suara, seseorang yang berdiri memanggil namanya.


"Sssuster?" Gelagapnya saat melihat wanita paruh baya yang selama ini selalu menemani embun kemanapun dia pergi.


"Betul Non."


"Ngapain Sus?"


"Nyonya Embun sudah menunggumu di mobil." tunjuknya ke arah gerbang pintu masuk.


Cecilia yang memicingkan mata melihat ke arah gerbang, "Hah nungguin aku. Seriusan?"


"Betul nona. Nyonya menunggu Anda di mobil.


"Ngapain nungguin aku?"


"Nyonya berencana mengajak nona Cecilia untuk makan siang bersama." jawabnya dengan mengulas senyuman.


"Hah ... Tunggu. Suster yakin gak salah ajak orang? Kenapa ibu pengen makan siang sama aku?" ujar Cecilia yang tampak ragu, ini benar benar aneh sekali. "Tapi aku mau ke kantin kok." lagi lagi Cecilia melongo dibuatnya, saat mendengarnya ajakan Embun yang tiba tiba.


"Tapi Nyonya sudah nunggu dari tadi, Non."


"Kayaknya enggak deh. Bilangin makasih untuknya. Soalnya aku juga udah punya janji makan siang bersama temanku.."


"Maaf Nona ... Hanya sebentar saja, kasian Nyonya Embun."


Cecili masih memberikan jawaban yang sama. "Kayaknya nggak deh, temenku udah nunggu soalnya." katanya lagi dengan melirik jam di pergelangan tangannya.


"Maaf Nona ini perintah nyonya, Tuan Irsan pun sudah mengetahuinya dan dia akan segera menyusul jika urusannya sudah selesai." Suster terus meyakinkannya agar bisa ikut, kalau tidak ya sudah pasti dia yang akan terkena imbasnya.


"Benarkah?"


"Iya Non, silahkan tanyakan sendiri pada Nyonya kalau Non Cecilia tidak percaya ucapanku."


Setelah berfikir sebentar, akhirnya dia mengangguk,


"Oke siapa takut!"


Akhirnya Cecilia kembali berjalan ke arah sebaliknya, dia mengurungkan niatnya pergi ke kantin di mana Nita sudah menunggunya. Gadis itu mengikuti langkah suster yang telah lebih dulu berjalan beberapa langkah saja di depannya.


"Suster. Suster yakin gak kalau ibu benar benar sudah berubah?" Tanya Cecilia dengan menyamai langkahnya.


Namun suster itu tidak menjawabnya, di hanya menoleh ke arah samping lalu tersenyum.


Benar saja mobil hitam terparkir di depan gerbang, seseorang keluar dari pintu kemudi lalu berlari kecil untuk membukakan pintu.


"Lho biasanya ada ... Siapa?" Desisnya tepat ke arah Suster.


"Toni sudah tidak bekerja lagi dengan nyonya."


"Oh!" Gadis berusia 20 tahun itu hanya beroh ria, saat suster mengerti pertanyaannyabyang tidak jelas itu.


Pria yang tengah mematung memegang pintu mobil itu pun mempersilahkan Cecilia masuk. "Silahkan Nona."


Walau sedikit ragu akhirnya Cecilia masuk juga kedalam mobil, wanita paruh baya yang duduk dengan elegan mengulas senyuman ke arahnya sampai Cecilia menghempaskan tubuh di sampingnya.


"Kuliahmu sudah selesai?"


"Kalau belum, aku gak akan disini dong!" jawabnya dengan ketus.


Namun aneh, Embun tetap tersenyum mendengarnya walau Cecilia bersikap tidak sopan padanya.


"Ayo kita jalan! Resto biasa ya." titahnya pada sang supir yang baru saja masuk setelah suster duduk.


"Apa kamu masih tidak yakin kalau ibu sudah berubah?"


"Menurut ibu gimana? Apa aku harus langsung percaya setelah sebelumnya aku dengar sendiri ucapan menyakitkan dari ibu? Walau aku percaya seseorang pasti berubah suatu saat nanti, tapi gak secepat itu bu." Ungkap Cecilia terus terang, sungguh dia memang tidak yakin atas perubahan yang ditunjukan Embun.


Embun menghela nafas, "Sebenarnya ini juga sulit bagiku, tapi aku ingin mencoba berdamai dengan putraku dan sudah pasti denganmu juga."


"Lebih baik terus terang saja bu, itu akan lebih mudah menurutku, ketimbang ibu harus berpura pura nerima aku. Aku gak akan marah, aku juga gak akan ngelakuin apa apa. Aku segini adanya, dengan masa lalu aku yang buruk, aku memang bukan dari keluarga baik baik, keluargaku berantakan semua." Cecilia terkekeh, "Tapi aku gak bisa nyalahin mereka bu. Aku juga gak bisa marah kenapa aku dilahirkan di keluarga itu. Dan asal ibu tahu, aku juga sedang berdamai dengan masa lalu." terangnya lagi, tidak ada kesedihan di wajahnya, dia juga tidak tahu kenapa mengatakan semua itu pada Embun.


Embun menatapnya dari arah samping, dia memang sedikit kagum padanya bahkan sejak di rumah sakit saat mendengar Cecilia menceritakan bagaimana sikap dan sifat putranya.


"Sebenarnya aku dan Irsan punya kesamaan, yaitu kehilangan figur seorang ibu!" Cecilia menoleh ke arah Embun yang tengah menatapnya tanpa jemu. "Kami hanya dilahirkan tapi gak dapat kasih sayang yang seharusnya menjadi hak kami dari seorang ibu. Apa ibu tahu itu, kehilangan figur Ibu menjadikan watak kami keras. Tidak ada yang mengajarkan kami bagaimana caranya berlaku dengan kelembutan. Dan aku faham kenapa Irsan sulit sekali mengungkapkan apa yang dia rasakan. Apa ibu tahu sesakit apa seorang anak tanpa kasih sayang seorang ibu?"


Kedua manik coklat milik wanita paruh baya itu berkaca kaca mendengarnya, sampai membuat bibirnya bergetar.


"Awal nya aku gak tahu tujuanku saat daftar fakultas psiokologi, sedangkan psikis aku saja terganggu sejak kecil, tidak hanya kehilangan kasih sayang, hidupku keras sampai hampir mati ditangan ayah sambung, aku sudah berjuang sejak kecil bahkan saat anak seusiaku sedang menikmati dunianya sendiri. Menjadikanku seperti sekarang ini, jadi aku tidak mudah percaya begitu saja dengan perubahan mu Bu." Cecilia terkekeh.


Membuat Embun terdiam seribu bahasa, dia tidak bisa menjawabnya, namun di sisi lain kekagumannya kembali muncul.


"Aku bicara seperti ini agar ibu tahu ada banyak alasan seseorang terjun di dunia seperti yang aku lakukan. Aku tidak minta ibu mengerti, jelas ibu sudah tahu semuanya tentangku, tapi tidak tahu alasanku melakukannya bukan?"


Embun masih terdiam, sungguh dia tidak bisa berkata kata saat mendengar semua yang diucapkan Cecilia. Sampai Cecilia menepuk jidatnya sendiri.


"Mampus, bagaimana aku bisa mengerti tentang kesehatan mental orang lain jika nanti jadi psikolog atau bahkan tenang ahli kejiwaan? Sementara mental aku gak baik baik aja!"


.


.


Gelagapan sampe gk bisa ngomong gak tuh bu gardu listrik. Ati ati aja bentar lagi jadi gardu jemuran gara gara Cece. Wkwkwk.