I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.218(Tetap jadi Dokter)



"Terserah kau saja!" sahut Irsan tidak peduli.


Lantas dia membuka berkas perusahaan milik peninggalan kakeknya yang tengah mengalami masalah dan terancam bangkrut di Singapura. Lalu dia menyerahkannya pada Zian.


"Jujur aku tidak faham sepenuhnya tentang dunia bisnis, aku tidak tertarik dan aku tidak peduli. Tapi aku memikirkan Ibuku saat aku menandatangani berkas ini., ini peninggalan dari kakekku dan aku tidak mungkin membiarkannya lenyap begitu saja. Jadi aku percaya padamu Zian!"


Zian tergelak, membulak balikkan lembaran berkas itu tanpa ingin membacanya. "Bukan begini caranya berbisnis, kau harus terlihat tahu segalanya di depan klien terlebih saat kau mengajukan kerja sama dengan pihak lain. Jangan menyedihkan seperti ini. Kau seperti seorang Dokter yang keluar dari ruang operasi dan kebingungan mengatakan pada keluarga pasien kalau pasien telah meninggal."


Irsan mendengus, "Ya ... Aku tahu! Tapi aku yakin aku bisa melakukannya nanti, aku hanya harus mempelajarinya."


Zian menghela nafas, lalu menyimpan berkas diatas meja kembali tanpa peduli tentang isi di dalamnya. "Kau yakin bisa melakukanmya sekaligus, bagaimana caranya. Pagi kau di rumah sakit lalu malam kau di kantor. Begitu?"


"Itu urusanku nanti!"


"Aku tidak mau menandatangani kerja sama ini kalau kau sendiri tidak yakin begitu!"


"Aku akan mengurus semua jadwal di rumah sakit juga di kantor nanti. Kau tenang saja." terang Irsan lagi meyakinkan Zian.


Zian menopangkan kaki kiri diatas kaki kanannya, menatap ke arah Dokter yang selama ini juga dokter pribadinya dengan kedua tangan yang melipat di depan dada.


"Lalu jika kau sedang meeting dan ada panggilan dari rumah sakit saat itu juga. Apa yang akan kau lakukan? Sementara kau sendiri tidak bisa meninggalkan meetingmu dengan klien begitu saja!"


Irsan terdiam, itu memang akan menjadi situasi tersulit ke depannya, apa yang ditakutkan Cecilia juga menjadi kekhawatirannya.


"Jawab Irsan! Pemimpin perusahaan harus memiliki sikap tegas dan cepat dalam mengambil keputusan yang paling tepat. Bukan diam dan diam!" sentak Zian lagi.


Irsan yang memang pemikir dan pengambil keputusan terbaik serta tidak bisa tergesa gesa itu masih terdiam sementara Zian mengulas senyuman saat melihat tangan temannya itu mengepal.


Sementara pintu ruangan disebelah kini terbuka, Agnia keluar dari ruangan yang memang disiapkan untuknya beristirahat, ruangan yang dulu milik Kim sang sekretaris yang memiliki pintu connector dengan ruangan Zian.


"Hubby! Jangan mulai deh. Bukankah kita udah sepakat!" ucapnya menyambar pembicaraan keduanya,


Irsan terbeliak saat melihat Agnia yang datang.


"Nia?"


"Haloow Dokter Irsan. Apakabar?"


Zian mendengus melihat keramahan istri kecilnya.


"Aku baik, kau sendiri? Bagaimana keadaan Biru, kudengar Biru sempat hilang?"


"Iya Dok, kemarin. Untung aja dia ketemu sama temen aku."


"Syukurlah!" Irsan ikut menghela nafas lega mendengarnya.


"Hei ... Ini bukan acara ramah tamah. Baby bisakah tidak terlalu manis didepannya?" Zian kesal karena melihat keakraban mereka berdua.


"Hubby ... !"


Irsan mendengus, "Tidak usah khawatir. Aku tidak akan merebut istrimu, aku sudah memiliki kekasih dan akan segera menikah!"


"Benarkah? Kapan." tanya Agnia penasaran.


"Segera Nia ... Setelah urusanku selesai."


"Benarkah itu? Ada yang mau dengan pria sedingin dirimu?" Sela Zian tidak yakin.


"Kau ini sembarangan bicara, cepat selesaikan urusan kita, agar aku bisa segera mengurus pernikahanku."


Zian tergelak, "Kurasa Wanita itu tidak tahu bagaimana dinginnya dirimu. Kasihan sekali dia."


"Hubby ... Jangan gitu, Dokter Irsan pasti sangat keren!"


Zian menatapnya dengan tajam. "Baby kau berani sekali memuji pria lain di depanku."


"Emang kenyataannya begitu kok!"


Zian beralih menatap Irsan dengan tatapan menyalang, "Kau lihat, bahkan Istriku menyukaimu."


Irsan terkekeh, "Karena itulah kenyataannya! Gadis yang akan ku nikahi saja menyadari semuanya, kau saja yang tidak Zian."


Zian mendengus, sementara Agnia yang duduk di sampingnya terkekeh.


"Sudahlah, aku tidak mau bekerja sama dan membantumu."


Zian kembali menghela nafas, baginya ucapan Agnia ibarat perintah yang tidak bisa dia abaikan begitu saja. Dia akan mengabulkan semua yang menjadi keinginannya termasuk soal perusahaan Irsan.


"Kamu sedang apa?" tanya Agnia kala melihat Zian tengah mempelajari masalah di perusahaan Irsan.


"Aku sedang memeriksa file file perusahaan milik keluarga Irsan."


"Keluarga Irsan. Dokter Irsan maksudnya?"


"Ya baby ... Dokter Irsan."


"Dia juga mengurus perusahan, apa dia gak kewalahan dengan mengurus pasien di rumah sakit dan juga perusahaannya?"


"Aku menyuruhnya kembali bekerja!" jawab Zian tanpa mengalihkan pandangnya pada layar komputer.


"Kembali bekerja?"


"Hum ... Mungkin dia akan merasa terganggu pada awalnya saja,"


"Kalau dokter Irsan jadi kembali ke perusahaan gimana dengan pasien pasiennya, mereka yang sudah terbiasa diperiksa olehnya akan merasa kehilangan dan kecewa."


Zian cukup lama terdiam kala itu


dia langsung menarik pinggang sang istri dan mendudukkannya dipangkuannya.


"Menurutmu bagaimana?"


"Ya kau bantu dengan baik, aku lebih setuju kalau dia tetap menjadi dokter saja, bisa kau bayangkan bagaimana repotnya jadi dia."


"Baby!"


"Pokoknya jangan, lebih baik kau bantu perusahaan tanpa mengajak dokter Irsan ikut bekerja didalamnya."Tukas Agnia lagi.


Irsan terhentak kaget, saat mendengar cerita Agnia yang melarang Zian untuk membuat situasi kacau dengan menyuruh Irsan bekerja di kantornya nanti.


"Kau dengar baik baik Irsan, aku melakukannya karena istriku yang melarangnya! Dan mulai hari ini perusahaan kakekmu sudah aku audit, aku sudah kirimkan orang orang terbaikku ke sana dan melakukan semuanya dengan baik. Aku akan membenahi semuanya untukmu, jadi kau tidak usah khawatir lagi."


"Hah?"


"Iya Dokter Irsan, sejak tadi suamiku ini cuma ngerjain aja, dia emang gitu ... Maafkan dia ya Dokter."


"Maksudnya? Aku tidak perlu ke kantor untuk bekerja."


"Sudah aku bilang Baby, kenapa kau malah mengatakan semuanya sekarang, aku kan masih belum puas melihatnya marah!"


"Hubby, dokter Irsan akan tetap jadi Dokter, dan berhenti bercanda. Kamu tidak lihat wajah Dokter Irsan tegang begitu?"


"Baby ... Tapi kan."


"Pokoknya gak! Udah cukup dari tadi aku dengar kau bercanda terus!" jawab Agnia tidak setuju jika suaminya terus mengerjai Irsan.


Sementara Irsan bisa bernafas lega karena masalahnya sudah selesai, dia tahu dengan jelas bagaimana Zian, pria itu akan selalu membantu teman temannya tanpa imbalan apapun.


"Terima kasih Nia. kau menyelamatkan ku."


"Heh enak saja berterima kasih pada Istri orang, harusnya kau terima kasih padaku, aku yang membantumu."


"Tapi jika istrimu yang melarangmu, kau akan tetap mempermainkanku dengan segala ucapanmu tadi."


Agnia tertawa melihat Keduanya yang kini saling menatap tajam.


"Hubby ... Kalau udah selesai, aku akan ketemu temanku, tapi Biru masih tidur!"


"Pergilah bersenang senang Baby, aku akan menjaga Biru di sini."


Agnia bangkit dan menyambar tasnya, namun kembali duduk di samping suaminya. Sementara Kedua pria itu kembali bertatapan lagi dengan sengit.


"Dokter Irsan mau ikut?"


"Maaf ... Tapi aku sudah ada janji dengan kekasihku. Celetuk Irsan.


"Kenapa kita semua gak sekalian aja makan siang bareng, biar kita tambah seru, nanti sahabatku pun kan datang kan."