
"Ibu?"
Irsan menatap Ibunya yang berjalan kearahnya, tidak terjadi apa apa dan terlihat bugar seperti biasanya, dibelakangnya wanita paruh baya yang setia mengikutinya kemana dia pergi. Tebakan Cecilia benar, ketidak beresan yang terjadi saat ini.
"Dengar. Ini bukan kesalahanku. Ini ide murni ibumu." desis Carl dari belakang.
"Mana Cecilia?" tanya Embun yang heran karena Irsan datang seorang diri.
"Apa maksudnya dengan semua ini?"
"Astaga!!" Embun mengurut dada. "Carl?"
"Aku sudah menjalankan sesuai perintahmu." sahut Carl takut.
Sedetik kemudian, Irsan menoleh ke arah belakang di mana Carl berdiri. Tinggi tubuh dan posturnya jelas hampir sama, namun jika harus berhadapan dengan Irsan yang selalu serius itu sudah tentu Carl akan menciut takut.
"Apa Carl? Katakan padaku."
"Jadi begini....!"
BUGH!
"Apapun yang jadi alasannya! Aku tidak peduli, sudah berapa kali aku katakan jangan lakukan apa apa tanpa sepengetahuanku. Brengsekk!"
Darah mengucur dari hidung Carl saat Irsan menghantamkan pukulan tepat di hidungnya, bahkan kepalanya sampai menengadah ke atas menahan darah yang terus mengalir.
"Irsan!" seru Embun.
"Apa ...? Ibu juga keterlaluan, apa ibu tidak berpikir jika sepanjang perjalanan kemari aku angat khawatir. Hah?" sentaknya marah. "Tapi ibu dan si brengsekk ini ... Astaga!" Lanjutnya dengan meraup wajahnya kasar.
"Ibu melakukan semua ini untuk mu!"
"Apa yang ibu lakukan ... Aku tidak peduli!" masih meraup wajahnya dengan kedua tangan. "Tolonglah Bu ...!" lirihnya kemudian.
"Ibu ingin menikahkan kalian di sini? Apa ibu salah? Ibu hanya ingin kalian cepat menikah, kau sendiri bagaimana? Kau bahkan tidak melakukan apa apa ... Terlalu sibuk tidak jelas." terang Embun kesal. "Kau lambat. Sangat lambat! Dulu aku melarangmu salah ... Sekarang merestuimu bahkan menyiapkan ini semua juga semakin salah."
Kedua mata tajam terbeliak sempurna, "Apa yang ibu katakan? Tempat ini?"
"Ya ... Ibu siapkan tempat ini untuk pesta kalian nanti malam. Bahkan semua orang sudah sedang dalam perjalanan kemari."
"Apalagi ibu!" desis Irsan tak percaya.
Suster memberikan sapu tangan pada Carl, dia menerimanya lantas menutup hidungnya yang masih mengeluarkan darah,
"Itu semua benar, bahkan pastur yang akan menikahkanmu sudah datang sejak tadi. Dan semua yang direncanakan oleh Ibumu hancur berantakan karena kau datang sendiri." sela Carl, dengan terus menahan sapu tangan di hidungnya. "Kalau tidak ... Kau bisa pilih salah satu dari turis itu. Atau warga lokal saja bagaimana?" terangnya lagi dengan kesal.
Irsan menoleh kearahnya. "Diam kau. Brengsekk!"
Carl mundur satu langkah ke belakang, "Jangan kau fikir aku takut padamu dan tidak bisa membalasmu, tapi aku menghargai Ibumu yang sudah tidak sabar melihatmu melepaskan kelajanganmu."
Irsan masih menyorotinya dengan tajam, terlihat rahang kuatnya semakin tegas dan bergemelatuk saking kesalnya pada Carl.
"Sekali lagi kau bicara. Ku patahkan semua gigimu."
Carl memejamkan kedua mata dengan kepala mengangguk angguk, "Lanjut lanjut ... Lanjutkan dengan ibumu saja."
Embun memijit keningjya yang berdenyut bahkan dia hampir limbung jika tidak dipegangi oleh suster di belakangnya. "Bagaimana kalau sudah begini."
Semua orang berdatangan, begitu juga seorang pria paruh baya dengan janggut panjang merumbai melebihi dagunya, dan membawa sesuatu ditangannya.
"Nyonya ... Kapan pemberkatan akan di mulai?"
Kepala Embun semakin berdenyut saja, bagaimana semua akan dimulai jika mempelai wanita saja tidak ada. Begitu pula dengan Carl yang menggelengkan kepalanya.
"Sayang sekali aku tidak berniat menikah hari ini. Kalau tidak, sudah ku tarik salah satu dari mereka untuk menggantikanmu yang bodoh!" Desisnya pelan, namun langsung kembali mengatupkan bibirnya saat Irsan mendelik ke arahnya.
"Astaga. Ibu pikir pernikahan itu main main. Ibu tidak bisa melakukan hal ini, aku tidak habis fikir kenapa Ibu melakukan hal ini."
Irsan menoleh kearah suara yang tidak asing, begitu juga Carl dan Embun. Sesosok pria yang berjalan dengan kaca mata hitamnya, disampingnya seorang wanita cantik dengan rambut tergulung ke atas.
Carl mengulas senyuman saat melihatnya, begitu juga Embun. Namun tidak dengan Irsan, pria berusia matang itu berdecak.
"Kau juga bersekongkol dengan mereka Zian?"
Zian membuka kaca mata hitamnya, "Tidak ... Justru aku kemari karena mendapat undangan pernikahan. Tapi ternyata belum mulai juga. Ku pikir aku terlambat. Iya kan Baby?"
Agnia mengangguk dengan kedua mata yang melirik kesegala arah mencari sahabatnya. "Cecilia bener bener gak ada?"
Zian tertawa, begitu juga Carl atas kebodohan Irsan atau kurang matangnya rencana.
"Kau harus berguru padaku soal ini Irsan!"
"Benar Zian, ajarkan dia agar tidak lambat seperti keong, kalah oleh gadis cantik ini." tunjuknya pada Agnia denga kedua alis naik turun,
"Kau hanya perlu sedikit kenekatan saja, jangan kalah dengan gadismu yang super nekat." tambah Zian yang membuat Irsan semakin berdecak.
"Kalian saja yang menikah kalau begitu!"
"Irsan!" teriak Embun lagi yang kini terduduk karena kepalanya yang semakin pusing. "Apa kau akan menikah setelah aku mati?"
"Bu ... Tapi tidak begini caranya, bahkan aku tidak memepersiapkan segala sesuatunya."
"Tunggu apa lagi, semua sudah siap! Kau hanya perlu membawa Cecilia." ujar Embun lagi.
"Cepat lakukan atau aku batalkan kerja sama dengan perusahaanmu!" timpal Zian dengan menyenggol lengannya.
Irsan berdecak, jangankan senang atau bahagia. Dia seperti ditekan dan diancam semua orang yang ingin melihat dia menikah.
"Biarkan aku yang melakukannya sendiri."
"Kapan? Kapan kalau harus kau yang bergerak. Hah?" Embun mencoba berdiri namun kembali terduduk karena lututnya mendadak lemas. "Ayo Zian ... Ajarkan dia bagaimana caranya!" ujarnya lagi dengan menunjuk ke arah Zian yang tidak hentinya tertawa.
"Hubby! Jangan tertawa terus. Kasian dokter Irsan." bisik Agnia yang ikut bingung haruskah tertawa atau ikut sedih karena dipastikan Cecilia tidak tahu soal ini.
"Bu ... Ibunya Cecilia bahkan masih di rumah sakit. Apa ibu tidak memikirkannya."
"Banyak alasan saja kau ini!" Carl berjalan ke arahnya lalu menunjuk kesebuah faviliun. "Ibunya Cecilia ada di sana, rencana ini sudah siap. Hanya tinggal menunggu kau saja yang bodoh."
"Benarkah?"
"Kau tidak percaya?"
"Kau tidak patut dipercaya!" Dengus Irsan menepiskan lengan Carl yang berada di bahunya.
"Kau benar ... Ibunya Cecilia rencananya sedang dijemput, mungkin saat ini masih di perjalanan." Carl terkekeh dan buru buru melangkah menjauh darinya.
"Ayo tunggu apa lagi! Semua orang menunggu di sini."
Irsan terus menggelengkan kepalanya, semua yang dilakukan oleh ibunya sendiri benar benar tidak masuk akal.
Embun semakin lama semakin berang, dia melemparkan sepatu yang di pakai ke arahnya. "Lihat dirimu, kau bahkan hanya diam saja! Kau tidak ingat bagaimana Zian menikahi istrinya dulu? Bahkan usia kalian sama tapi kau benar benar tidak ada pergerakan,"
Carl dan Zian saling tertawa dengan menyikut lengan satu sama lain saking lucunya reaksi Embun tapi Irsan terlihat datar datar saja.
"Ibu tanya sekali lagi! Kau mau menikah sekarang atau tidak!!"
.
.
Silempeng tiang listrik bikin gemes ye kan.wkwkk.