
Irsan meraup wajahny dengan kasar saat Cecilia bangkit begitu saja dengn membenahi pkainny sediri, dia juga menyisir rambutnya dengan kesepuluh jari tangannya, lalu merapikan lipstik yang terlihat sedikit berantakan.
Dan terjafdi lagi, kejaian kedua kalinya dimana Cecilia bersikap seperti itu pada pria yang kini sudah jadi suaminya dengan resmi.
"Jangan salah paham sayang, aku benar benar sudah ada janji dengan ketemu Dokter hari ini." ujarnya menenakan sepatnya yang tadi sempat terlepas satu.
Entah apa yang harus Irsan katakan kali ini, dia hanya bisa menghela nafas dengan berat, merasa dipermainkan jelas, merasa kepalanya berdenyut sudah pasti, terlebih karena kali ini dia sudah menginginkannya.
Perasaan yang sejak dulu masih bisa ditahannya kini tidak lagi, hasratt yang dulu menggebu namun bisa dia abaikan kini tidak lagi, sudah tidak ada alasan untuk Cecilia yang biasanya menggoda itu untuk menolaknya, namun kali ini justri dirinya lah yang kerap menghindar.
"Keadaan jadi berbeda ketika kita justru sudsh menikah!" cicit Irsan pelan.
"Sayang ...! Serius deh, aku ada janji. Janji ini emang udah lama aku rencanakan, tadinya memang buat nanti, tapi jadwal berubah."
"Kau sedang main main denganku sayang!" gumamnya masih dengan suara pelan.
Cecilia terkekeh, menangkup wajahnya dengan kedua tangan yang dia tengadahkan sedikit ke atas, hingga tatapan keduanya kini beradu.
"Sayang ... Gak mungkin aku ngelakuin itu, kau tahu seberapa besarnya cintaku padamu ini, bahkan besarnya dunia gak bisa jadi tandingannya!"
Irsan mendengus pelan, lalu menepiskan tangan Cecilia dari wajahnya, "Bisa. Yang kau pakai tandingannya adalah peta globe dunia!"
Ceciiia jelas tertawa, baru kali ini candaan Irsan terdengar lucu, terlebih wajahnya yang justru tidak terlihat bercanda, dengan kedua alis mengkerut serta kdua manik tajam.
"Selain bisa aktif, ternyata kau juga bisa bercanda ya sekarang. Makin gemesin tahu gak."
"Apa aku terlihat bercanda?" sahutnya dengan kesal.
Cecilia merengut menggemaskan dengan kedua manik bersinar terang menatap suaminya, "Tapi aku benar benar harus pergi Mas."
"Ya terserah kau!!" Irsan yang kesal namun juga tidak bisa berbuat apa apa itu bangkit dan menuju meja kerjanya, berpura pura sibuk dengan mencari sesuatu yang dia juga tudak tahu apa yang dia cari.
Cecilia mengulas senyuman lalu kembali menghampirinya, "Aku nanti ke sini lagi! Hanya sebentar kok."
"Terserah!"
Gadis itu mengecup pipinya sekilas, dia tetap memaksa mengecupnya walau telihat Irsan malas meladeninya, pria itu bahkan menjauhkan wajahnya karena kesal, sudah seperti anak anak yang sulit dibujuk jika mempunyai keinginan.
Tapi bukan Cecilia namanya jika tidak bisa menurut begitu saja jika dia sudah memiliki tujuan, sekalipun kali ini benar benar hanya bertemu dokter saja.
Gadis berusia 20 tahun itu melangkah keluar dari ruangan praktek Irsan dan menuju ke arah informasi. Kedua matanya melebar saat melihat skema Dokter beserta jadwal prakteknya.
"Ini dia!"
Setelah mendapatkan apa yang dia cari, dia bergegas mengambil nomor antrian di pendaftaran, dia lupa jika dirinya istri seorang Dokter yang sudah tentu punya jalur khusus ketika akan berobat, tidak perlu lagi mengantri apalagi menunggu namanya di panggil.
Setelah mendapatkan nomor antrian, Cecilia menuju ruangan praktek yang ditunjukan oleh seseorang di tempat dia mendaftar, dengan berjalan penuh percaya diri dan juga bersenandung senandung riang.
Terlihat kursi di ruang tunggu praktek masih sepi, dia pun memilih kursi paling depan agar cepat ketika namanya di panggil. Sampai beberapa waktu akhirnya pintu ruangan terbuka dengan seorang Suster yang membawa semua berkas pasien.
"Nona Veronica Cecilia." panggilnya.
"Betul ... Silahkan masuk."
Konyolnya Cecilia, dia bahkan tidak melihat nomor antrian yang dia pegang. Sampai akhirnya suster hanya bisa tersenyum.
Berbeda dengan Cecilia yang langsung terpaku di tempatnya berdiri saat melihat siapa yang berada di hadapannya.
"Dokter?"
"Cecilia? Kau sakit?"
Cecilia menarik kursi lalu duduk di depan dokter, "Dokte Siska ngapain, perasaan aku daftar jadwal praktek dokter Adrian deh tadi."
Siska mengulas senyuman, "Aku menggantikannya hari ini, biasa lah dokter Adrian ada keperluan lain, jadi kali ini kami bertukar jadwal. Itu sering di lakukan dokter di sini, hanya untuk keperluan yang sangat penting saja yaa. Selain itu ...." Siska menggerakkan tangannya ke kiri dan ke bawah sebagai tanda tidak boleh.
Cecilia mengangguk mengerti, tapi dia tidak mungkin menceritakan kejadian sebenarnya pada Dokter Siska yang sudah pasti akan mengatakannya pada Irsan, Bisa bisa rencananya gagal total.
"Jadi apa keluhanmu?" Tanya Siska dengan melihat resume pemeriksaan yang masih kosong di tangannya, "Tekanan darahmu normal, nafas normal, tidak ada masalah." tukasnya membaca resume awal.
"Kayaknya gak jadi deh, aku dulu pasien dokter Adrian saat dia di rumah sakit xx," Cecilia berfikir lebih baik membatalkannya daripada harus berkonsultasi dengan teman baik dari suaminya, Bisa bisa gawat. Fikirnya.
Siska mengernyitkan dahi, "Kenapa. Kau malu padaku atau kau takut aku membeberkam rahasia pada Irsan? Aaah ... Aku sampai lupa, selamat ya. Kau berhasil menaklukan mesin es itu." Siska tertawa.
Kabar pernikahan rupanya menyebar dengan cepat di rumah sakit, seperti yang dikatakan oleh Irsan jika segala sesuatu yang terjadi akan cepat menyebar di rumah sakit karena tempat itu tempat para wanita. "Dokter wanita dan suster wanita udah pasti punya ikatan batin ya!" tukasnya.
"Ya seperti itulah Cecilia." Siska terkekeh lagi, dokter obygn itu memang ramah sejak mereka pertama kali bertemu di coffe shop. "Jaga Dokter Irsan dengan baik, dia itu sekte pemuja sebenarnya."
"Sekte pemuja. Apaan itu?"
Siska kembali tertawa, "Dia susah sekali jatuh cinta, susah sekali kuga move on. Tife setia dan bertanggung jawab."
Cecilia mengangguk anggukan kepalanya, "Kau benar Dokter Siska."
Mereka bahkan sampai betukar cerita pengalaman pengalaman yang berkaitan dengan Irsan, tertawa sampai terpingkal pula. Siska mengenal Irsan sejak di masa kuliah, menjadi teman yang baik walau kadang semua teman temannya menjodoh jodohkan mereka berdua, tapi keduanya tidak terlibat perasaan, saling menghargai bahkan saling membantu satu sama lain.
"Nah kan ... Aku lupa kalau kau kemari bukan untuk mengobrol saja kan!" tukas Siska pada akhirnya setelah sadar mereka telah menghabiskan sesi konsultasi.
"Mending ngobrol aja, itu lebih seru. Aku tunggu Dokter Adrian aja."
"Ahh ... Kau ini, katakan saja padaku. Aku janji tidak akan menceritakannya pada Irsan. Kau bisa pegang janjiku ini." Bujuk Siska yang tidak mungkin membiarkan seorang pasien kembali menjadwal hanya gara gara dokternya berbeda. "Semua resume ini akan sampai pula pada Dokter Adrian, jadi dari pada kau kembali tanpa hasil apa apa, lebih baik kau konsultasi denganku." sambungnya lagi.
Cecilia terlihat berfikir, sudah kepalang terlanjur memang dan akan butuh waktu lagi jika harus menunggu dokter Adrian.
"Tapi Dokter Siska janji tidak akan bilang apa apa sama suami aku?"
.
Ce ... Ngapain sih? Kwkwkwkwk .... Gak kasian sama noh tiang listrik yang lagi manteng lo putusin gitu aja. Wkwkw. Dukung terus mereka yaa Cecelover, dukung Nita juga di sebelah. Dukung Arlene Dean juga. Dukung semua pokoknya. Hihihi