I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.130(Cecilia!)



"Kau yakin tidak memasukkan sesuatu Cecilia?" Irsan membuka kancing kerah kemeja yang dikenakannya, rasanya hawa panas mulai menjalar di tubuhnya. "Kau?"


Sebagai seorang dokter yang jelas sudah berpengalaman, ini tidak membuat membuatnya panik, walau semakin lama gelanyar gelanyar itu menyerangnya dengan hebat. Hormon endorfin, adrenalin dan juga hormon dopamin meningkat dengan cepat, mengalir di aliran darah dan membuat sesuatu di balik celana miliknya menegang.


"Sshiitt. Cecilia!"


Sorot matanya tajam, namun dengan pupil yang melebar, dan juga keringat mulai membasahi, sekuat tenaga dia menahan gairaah yang tiba tiba menuncak


Cecilia hanya menatapnya dengan tersenyum, "Aku gak masukin apa apa kok!"


"Jangan bercanda Cecilia?" sentaknya, dia merasakan tubuhnya semakin memanas dengan darah yang mendesir perlahan lahan namun pasti, membuka kembali kancing kemejanya sebanyak 3 buah.


Cecilia yang duduk dengan menopang kaki terkekeh, menggigit sedikit bibirnya dengan wajah mendamba, dia juga menurunkan kaki yang di topangnya dan membukanya sedikit agar semakin menggoda dan siap diserang tiba tiba.


Tapi Cecilia lupa, yang dia hadapi adalah seorang pria yang sudah puluhan tahun menjadi dokter, bahkan dia dokter bedah terbaik yang memiliki lisensi dan juga sertifikat internasional.


Alih alih menyerangnya, Irsan bangkit dari sofa menuju meja makan yang hanya memiliki 2 kursi, mengambil air putih dan menenggaknya langsung, tidak hanya 1 gelas, dia menenggak lebih dari yang sarankan untuk kebutuhan tubuh, 2 liter sekali tenggak sampai dada dan kemeja yang sudah terbuka itu menjadi basah.


Dia juga membuka pintu balkon dan keluar, mengambil nafas dalam dalam, juga menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, lalu sit up sebanyak 20 kali, push up 20 kali.


Cecilia duduk termangu di tempatnya, tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Bukan serangan serangan yang sudah dia nantikan akan terjadi, namun Irsan justru melakukan cara cara menghilangkan pengaruh obat serbuk yang dia masukkan diam diam ke dalam kopi buatannnya.


"What. Kenapa dia malah olah raga!"


Setelah melakukan olah raga ringan, dia benar benar membuka kemejanya, melemparkannya begitu saja, juga celana panjang miliknya. Menampilkan dada bidang dengan otot otot juga sesuatu yang masih menonjol di balik celana boxer ketat.


Cecilia menelan saliva, menatap tubuh pria 40 tahun di siang hari dengan jelas, dibawah langit cerah nan bersinar hangat. Sampai dia tidak merasa matanya mengedip karena pemandangan duniawi rasa surgawi yang begitu indah.


Ingin sekali dia menyerbunya, menyerangnya dengan tidak sabar dan tentu saja memenangkan siasat licik yang dilakukannya, tapi sekali lagi, dia harus sabar menanti Irsan yang menyerangnya terlebih dahulu, dia hanya duduk menunggu. Menunggu efek obat yang sudah ditakarnya agar hasilnya dasyat.


Irsan menatapnya dari balik jendela, terlihat dia menghela nafas berat disertai tatapan tajam dengan tangan yang berkacak pinggang, semakin gila Cecilia di buatnya, karena Irsan tidak juga datang padanya. Setelah beberapa saat, barulah dia masuk kembali.


Yang membuat Cecilia tercengang adalah saat dia melihat Irsan melewatinya begitu saja, pria itu masuk ke dalam kamar tanpa mengucapkan apa apa.


"Hah! Dia milih ngelakuinnya solo dibandingkan sama gue apa?" duganya dengan mendengus kasar lalu menyusulnya masuk.


Irsan tidak ada di dalam, namun suara gemericik air terdengar dari kamar mandi. "Kan bener, dia milih ngelakuinnya sendiri di bandingkan sama gue." katanya lagi.


Dengan kesal dia mendorong pintu kamar mandi dan hampir saja terhuyung ke depan karena ternyata pintu kamar mandi tidak di kunci. Kedua matanya terbeliak saat melihat Irsan.


"Apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan kesal.


Irsan yang berada di dalam bathtube mendongkak lalu mendengus, tubuhnya hampir tenggalam di bawah air dan menyisakan kepalanya aja. Tak lama dia bangkit dari dalam bathtube lalu menyambar handuk yang dia lilitkan di pinggangnya.


"Kau salah langkah Cecilia!"


Dengan sekali tarikan, Irsan menarik tangan Cecilia keluar dari kamar mandi lalu menghempaskannya ke ranjang. "Jelaskan padaku kenapa kau melakukannya?"


Cecilia terkesiap melihatnya, sorot matanya, dada nya yang basah, rahangnya yang masih bercucuran air. Tubuhnya, ah semuanya yang mengundang gairrah nya sendiri.


"Kalau iya kenapa? Ya ... Aku sengaja ngelakuinnya, karena apa. Kau tahu sendiri jawabannya." marah, gadis itu memutar keadaan, dia marah karena ucapan dan bentakan Irsan. "Kalau kau gak normal, bilang aja terus terang. Biar aku gak kegatelan dan terus berharap kau menyentuhku Irsan!"


"Dasar bodoh!" Irsan terbeliak, lalu mengambil polo tshirt dari dalam lemari dan mengenakannya. Dia juga mengambil underwear lalu terakhir mengambil celana pendek berwarna hitam. Semua dia kenakan di hadapan Cecilia, sampai Cecilia bisa melihat semuanya dengan jelas dan hanya bisa menelan saliva dalam keadaannya yang kesal.


"Siapa yang bilang aku tidak normal Cecilia?"


"Jadi itu benar?"


"Kita pernah melakukannya satu kali, apa kau ingat? Pasti tidak."


"Ya hanya sekali kan! Dan itu gak normal." Cecilia membalikkan tubuhnya, menghadap jendela.


"Karena aku menghargaimu Cecilia. Tidak kah kau juga paham hal itu? Kau ingin aku memperlakukanmu sama dengan pria lain? Yang hanya melakukannya dan mengambil keuntungan darimu?" sahutnya menohok. "Tidak juga kau paham sampai saat ini. Hm? Menggunakan obat perang sang tanpa resep dokter adalah kejahatan, kau bisa menyebabkan seseorang pria dalam masalah. Penyakit janyung, gangguan penglihatan, gangguan ginjal. Dengan kata lain kau memberikan awal datangnya penyakit Cecilia."


"Dih malah kasih kuliah kedokteran, alasan banget! Efek samping obat itu gak parah kayak gitu." Desisnya pelan.


"Kau lupa kalau aku ini dokter Cecilia?"


Suara oktav Irsan kini turun, dia memijit pelipisnya yang masih terasa pusing, efek obat pada normalnya akan hilang sekitar 4 jam, masih cukup lama memang dan dia harus menahannya sedikit lagi.


Cecilia tertegun, dia baru sadar hal itu. Pantesan aja dia minum udah kayak onta, olah raga ringan sampai berendam air. Apa itu cara ngilangin efek obat yang gue kasih.


"Kau tahu Cecilia, bukan aku tidak ingin melakukannya denganmu! Tidak ada pria yang tidak ingin melakukan hal itu denganmu, kau cantik, menarik, tubuhmu, semuanya Cecilia. Tapi, mereka hanya menginginkan tubuhmu saja. Hanya kepuasaan sesaat."


"Lalu kau?" Cecilia kembali menoleh dengan tatapan tajam.


"Aku ingin menjagamu, jadi sabarlah sampai waktunya tiba dan kita akan melakukannya."


"Apa maksudmu! Udahlah, kalau kau emang gak normal. Jujurnya, aku bisa terima kok! Itu lebih baik daripada kau bicara banyak alasan kayak gitu." Cecilia masih tidak mau menerima kenyataan, walaupun sebenarnya dia mulai malu sendiri dengan apa yang di lakukannya.


"Astaga!"


Irsan berjalan menuju lemari lagi, membukanya dan mengambil sebuah amplop berwarna kuning dan menyerahkannya pada Cecilia.


"Buka! Kau akan lihat hasilnya normal atau tidak!" ujarnya lalu beranjak keluar dari kamar.


Sementara Cecilia menatap amplop berlogo rumah sakit yang kini di pegangnya.


"Apa apaan ini! Gue cuma pengen ...!"


.


.Maaf Cecelover, jangan kecewa karena gak ada part hot hotan yaa ... Kaliam juga lupa ya kalau si tiang listrik itu dokter, dia pasti tahu efek obat begituan, wong dia tukang nyaranin orang buat make kok. Masa gak tahu ye kan. Wkwkwk. Peace yaa.


Hari senin nih, yuk vote yuk ah. Biar othor nya seneng.hihi