
Bukan hanya Irsan yang dibuatnya heran, bahkan Dokter Siska pun dibuatnya tersenyum, berkali kali dia menggelengkan kepala saat mengingat tingkah laku Cecilia, yang menurutnya pintar tapi juga polos. Operasi Hymenoplasty memang ada, namun tidak banyak dilakukan, maksudnya tidak banyak orang orang yang berani melakukannya.
Kasus paling besar terjadi hanya karena selaput daraa yang terluka karena disebabkan kecelakaan, robeknya membuat berdarah bukan hanya karena melakukan aktifitas sekksual saja, banyak terjadi pada korban kasus pemerkosaan saja.Atau golongan orang orang yang ingin terlihat sempurna di mata keluarga calon suaminya. Dan yang jelas bukan Irsan, pria yang dia kenal pendiam dan tisak banyak ulah, tidak bertingkah apalagi nakal, dia terkenal dingin dan lempeng bak tiang listrik, taat aturan dan irit bicara.
Namun pesonanya justru mampu mengalahkan seorang casanova sekaligus, ditambah kesetiaannya yang dia junjungi tinggi, rasa hormat terhadap wanita dan masih banyak lagi yang tidak diketahui oleh orang lain tapi Siska tahu.
"Hey ... Kau melamun? Apa kau sedang sakit hati karena Irsan akhirnya menikahi gadis tidak jelas itu?" Aji muncul dengan segala ucapan yang menyentaknya kaget.
"Dokter Aji, apa sih ...?"
"Jangan patah semangat Dokter Siska, aku tahu kau lebih baik dari gadis itu, kau bahkan lebih cocok untuk jadi Istri Irsan dibandingkan gadis bar bar itu." ungkapnya lagi dengan menarik kursi lalu mendudukinya.
"Sudahlah Dokter Aji, tidak perlu lagi membahasnya, aku dan Irsan tidak memiliki perasaan apa apa, jadi kau juga harus diam mulai dari sekarang. Aku juga tidak sakit hati apalagi patah hati. Sungguh!" jelas Siska yang memang itulah kenyataannya.
Tidak ada perasaan suka atau pun perasaan lebih pada teman sejawatnya itu, sudah sejak dulu bahkan. Tapi semua spekulasi yang beredar saja yang mengatakan mereka saling berhubungan bahkan sangat cocok.
"Putramu pasti kehilangan dia!" Dokter Aji masih mengucapkan kata kata yang tidak masuk akal.
"Kenapa bisa merasa kehilangan, Irsan bukan ayahnya. Bagaimana bisa kehilangan pada sesuatu yang jelas jelas bukan miliknya, sudah sana pergi. Jangan membuatku pusing dengan ocehanmu itu." Siska mengibas ngibaskan tangan agar Dokter Aji keluar dari ruangannya dan berhenti bicara.
Dokter Aji keluar dengan dongkol, dia belum puas hanya dengan bicara pada Siska, bertepatan dengan keluarnya Irsan dan juga Cecilia dari ruangannya.
Keduanya keluar dengan saling berpegangan tangan, sesekali Irsan berusaha melepaskannya karena melihat suster yang melewati mereka, dia risih dan juga merasa tidak profesioanal dalam pekerjaannya.
Tapi tidak dengan Cecilia, gadis itu dengan sengaja merekatkan genggamannya pada sela jari Irsan, seolah sengaja serta bangga bisa jadi istrinya. Kalau perlu, mengatakan pada semua orang yang berada di rumah sakit kalau Irsan suaminya.
"Dih ketemu lagi orang orangan sawah!" dengus Cecilia saat berpapasan dengan Dokter Aji.
"Sebenarnya aku juga tidak mau melihatmu lagi, kalau bukan karena Irsan temanku, aku sudah pasti menyingkirkanmu dari dulu!" ujarnya dengan melengos, "Dasar wanita murahan!" cicitnya lagi sambil berlalu begitu saja.
Namun langkah Dokter Aji terhenti saat itu juga karena Dokter Irsan menarik lengannya.
"Apa yang kau katakan?"
"Aku tidak mengatakan apa apa, kau pasti salah dengar."
"Jelas kau tahu aku mendengarmu, bukan dia yang harus kau singkirkan, kau lah yang tidak layak melihatnya!" sentak Irsan dengan gumaman yang penuh tekanan, sorot matanya jelas dia marah. Lalu dengan kasar dia menghempaskannya begitu saja sampai Dokter Aji terhuyung ke belakang.
Pria itu kaget, Irsan yang selama ini diam saja dan tidak peduli omongan orang lain justru marah, mampu membuatnya diam seketika. Sementara Cecilia hanya berdecih pada Dokter Aji yang beralih menatapnya, dia bisa melawannya seorang diri sebenarnya, tapi kali ini Irsan sudah lebih dulu bertindak lebih cepat dari pada dirinya.
Irsan kembali berjalan, meninggalkan teman sejawatnya yang terkaget bukan main, tak lama dia merogoh ponsel dan mengetikkan sesuatu.
Ponsel Dokter Aji berdering saat itu juga,, bertepatan dengan Irsan yang kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. terlihat Dokter Aji yang gelagapan dan langsung berlari.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Cecilia dengan terus menoleh ke arah belakang guna melihat Dokter Aji yang berlari masuk ke dalam lift.
"Rumah sakit ini membutuhkan Dokter yang memiliki dedikasi tinggi dan loyal mengabdi pada pekerjaan kemanusiaan! Termasuk cara menghargai orang lain." ujarnya tanpa menghentikan langkahnya.
Cecilia tersenyum, "Kau pasti menyuruh Dokter Sam untuk memanggilnya' iya kan?"
"Aku suruh dia memecatnya sekaligus!" jawabnya enteng, membuka pintu keluar rumah sakit dan bergeser kearah samping, memberi Cecilia jalan agar lebih keluar lebih dulu.
"Hah? Kau yakin akan memecatnya? Bukankah dia berkompeten di bidangnya?"
"Ya ... Tapi dia tidak menghargaimu sebagai istriku!" Terangnya datar dengan menggenggam tangan Cecilia dan membawanya ke arah mobil yang tengah terparkir rapi.
"Tapi kan ... Tapi kan dia!"
"Kamu gak salah makan hari ini kan?" Cecili masih heran melihatnya.
"Tidak, memangnya kenapa?"
Cecilia menggaruk kepalanya, lantas dia mssuk kedalam mobil, sementara pandangannya tidak terlepas dari melihat suaminya yang tiba tiba aneh, "Kesambet apa ya dia?"
Irsan masuk kedalam mobil dan melihat Cecilia yang msih menatapnya heran lalu bibirnya melengkung tipis.
"Kenapa?" Irsan menatapnya.
"Aneh...."
"Tidak ada ada yang aneh Cecilia, kau istriku sekarang, sudah pasti aku yanga kan menjaga harkat dan martabatmu. Hm?" tukasnya dengan mulai menyalakan mesin mobilnya, tak lama dia melaju keluar dari pelataran parkir khusus Dokter.
"Manisnya punya suami seorang patriot, gak cuma cinta tanah air tapi sangat cinta istri, aku akan memberimu hadiah nanti." kelakar Cecilia yang berhasil membuat Irsan tertawa.
"Kau ini ada ada saja!"
Cecilia mengelus pipi Irsan, dia juga terus mengulas senyuman, membayangkan hadiah yang pantas buat suaminya itu.
"Kamu gak mau tanya hadiah yang bakal aku kasih buat kamu?"
"Apa aku harus bertanya?"
"Berarti kamu udah tahu dong apa hadiahnya?" selidik Cecilia, sesuai dengan apa yang sering di ucapkannya selama ini jika dia tidak akan bertanya ketika sudah tahu jawabannya.
Irsan mengangguk lirih. "Tahu ...!"
"Apa?"
"Apa perlu aku katakan?" Irsan mulai mengulas senyuman.
"Bilang aja!" Cecilia terlihat kesal, "Gak seru kalau udah tahu, aku ganti nanti hadiahnya."
"Tidak perlu ... Itu saja!" Irsan mengangguk anggukan kepalanya gemas dengan terus mengulas senyuman dengan tangan yang bergerak seolah mengunci mulutnya.
"Aku akan pura pura tidak tahu."
.
....Wkwkwkkk kaburrrr lagi ah ... Mohon sabar, ini ujian. Othor mau cari aman dari pada di julitin mimin dan kena review kek kemaren, lope lope badag buat kalian yang rela bulak balik demi pantengin karya othor, sehat sehat yaa, bentar lagi masuk sekolah. Eeh ... Bentar lagi sibuk lagi uprak uprek bocah. Hihihi...
.
Oh iyaa othor mau rekomendasiin novel yang gak kalah seruu ini, mampir ke sana yaa Cecelover.
Sedikit sinopsisnya nih, udah pasti seruu deh, cari judulnya atau cari nama othornya yaa.
Amy terpaksa harus menjadi pengasuh Reo Onsi Nagato, anak dari duda Shiro Yuki. Yang ternyata adalah seorang CEO.
Tapi kemunculan sang mantan istri, yang ternyata adalah seorang artis terkenal. Membuat kisah mereka menjadi tidak biasa.
Bagaimana Amy harus bersikap?