
Sepersekian detik mereka saling menatap, sampai Cecilia menarik tangannya perlahan. "Ayo makan, nanti ayam nya dingin. Jadi gak enak!"
Irsan menghela nafas pelan lalu menatap piring berisi nasi dan juga ayam miliknya.
Keduanya makan dalam diam, serta berada di fikirannya masing masing. Namun tiba tiba Cecilia menolehkan kepalanya ke arah jalan dan langsung bangkit dari duduknya, mengelap bibirnya dengan tisu.
"Kau bilang Ines ingin kita bertemu dengan Satya dan menjelaskan semuanya?"
"Hah ... Ya!"
"Ayo pergi!" Cecilia dengan cepat keluar dari warung tenda itu, dengan terus menatap mobil berwarna putih yang baru saja berhenti di depan kafe.
Irsan keluar setelah membayar makanannya, dia menghampiri dan menarik lengan Cecilia yang akan menyebrang.
"Ada apa? Bukankah kita harusnya naik ke mobil saja."
Gadis berusia 20 tahun itu menggelengkan kepalanya. "Satya ada di sini."
"Benarkah?"
Irsan menoleh ke kiri dan ke kanan mencari seseorang yang bahkan dia tidak tahu bagaimana sosoknya. Sampai pandangannya mengikuti arah pandang Cecilia.
"Itu Satya?"
"Hm ... Aku bahkan tahu jenis mobil yang di pakainya." jawab Cecilia yang terus menatap mobil putih itu.
"Syukurlah kita bertemu dia di sini! Ayo pergi temui dia dan jelaskan semua kesalah pahaman ini." Ujar Irsan yang menarik pergelangan tangan Cecilia dan bersiap menyebrang.
"Tunggu!" Cecilia mencegah langkah Irsan disaat yang tepat.
Hingga Irsan sontak kaget saat melihat pria yang bernama Satya itu keluar dari mobil lalu bergegas ke arah pintu mobil sebelahnya dan membuka pintu. Pria itu mengulurkan tangan pada seorang wanita dengan perut yang besar yang baru saja keluar dari mobil.
"Kau yakin itu Satya?"
"Hm ...!" ujarnya dengan melirik ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu.
"Kau yakin? Tapi dia bersama wanita lain, apa dia?"
"Dia berselingkuh dari Ines ... Ah tidak, dia selingkuh dari istrinya." ujar Cecilia yang mengambil sebongkah batu yang dia temukan di dekat tenda, gadis itu melangkah dengan cepat lalu menyebrang.
"Kau pasti salah, mana mungkin dia berselingkuh, kita bahkan kita tahu apa dia istrinya atau bukan. Kau jangan gegabah Cecilia." ujarnya mengikuti langkah Cecilia.
"Menurut pengalaman ku itu benar, dia punya istri dan berkencan dengan sepupumu."
Trak!
Batu dia lemparkan begitu saja mengenai kaca mobil milik Satya, hingga Satya dan wanita yang tengah hamil itu menoleh.
"Hey ... Apa yang kau lakukan pada mobilku?" Satya yang baru saja akan masuk bergegas kembali saat melihat kaca mobilnya pecah.
"Kau?"
"Ya ... Ini aku!" sahut Cecilia yang berdiri dengan berkacak pinggang. "Kau kaget?"
"Aku tidak punya urusan denganmu! Pergilah." Satya yang terlihat tersentak itu menghalangi wanita dibelakangnya agar tidak melihat ke arah Cecilia dengan jelas.
"Sayang ada apa?"
"Tidak ada. Ayo kita masuk."
Cecilia berdecih saat mendengar wanita itu memanggil Satya dengan sebutan sayang begitu juga dengan Irsan yang terbeliak. Pria itu bahkan mengepalkan tangan saat tahu Satya mengkhianati sepupunya.
"Jadi kau sudah menikah. Luar biasa!"
"Sayang ada apa. Apa maksud perkataannya?"
"Gadis itu mengada ngada sayang, jangan dengarkan dia." Jelas Satya.
Prang!
"Dasar bedeebaah! Kau fikir kau siapa. Kau fikir kau ganteng, kau keren karena melakukan hal itu Satya?" Cecilia mengambil pentungan milik security yang kebetulan berada disana lalu memukulkannya pada kaca mobil milik Satya. Membuat orang orang akhirnya berkumpul melihatnya, sebagian bahkan mem videokannya.
"Dengar ya kau!" tunjuknya menggunakan pentungan pada Satya dengan tatapan tajam, "Gak usah menyangkal lagi, akui perbuatanmu pada istrimu." kemudian mengalihkannya pada Istrinya Satya, "Dan kau harus tahu sebrengsekk apa pria yang itu, jangan sampai menyesal nanti." ujarnya lagi setelah memecahkan semua kaca mobil hingga hancur berantakan.
Setelah itu Cecilia melemparkan tongkat sebesar lengannya begitu saja, hingga Satya yang marah mengambil dan mengayunkannya ke arah Cecilia yang hendak berbalik.
"Cecilia!"
Irsan berlari dan menarik Cecilia hingga tubuhnya hampir terjerembab, lalu dia menangkap pinggangnya dan berbalik melindunginya.
Bugh!
Tongkat yang diayunkan kuat oleh Satya itu mengenai punggung Irsan. Satya sontak kaget dan melemparkan tongkatnya, sementara Istrinya berteriak.
Cecilia terbelalak sempurna saat Irsan yang melindungi dirinya dan justru terkekeh menatapnya.
"Aku baik baik saja." ujarnya menahan nyeri yang lumayan membuat kepalanya berdengung.
Cekrek
Cekrek
Sampai Irsan kembali berbalik ke arah Satya dan melayangkan pukulan tepat mengenai rahangnya.
Bugh!
"Jangan pernah berani menyentuh wanitaku pengecut!"
"Dan ini untuk Ines."
Bugh!
Satya terhuyung hingga terjatuh dengan bibir sobek dan juga berdarah. Menatap nyalang kearah keduanya,
"Dasar pria brengsekk. Cuma berani sama perempuan." Ujar Cecilia yang kembali mengambil tongkat.
"Jangan. Lebih baik kita pergi dari sini!" cegah Irsan dan mengambil tongkat dari tangan Cecilia.
"Ta--tapi ...!"
"Ayo!"
Keduanya berlalu begitu saja meninggalkan Satya, pria itu bangkit dan menoleh pada sang istri yang hanya diam menangis.
"Sayang ... Maafkan aku!"
"Jangan ... Jangan sentuh aku Mas." jawabnya kemudian dia pergi meninggalkan Satya.
"Aaaagghhk!"
***
"Kau tidak apa apa kan?"
Cecilia bertanya pada Irsan saat mobil mereka berhenti di basement apartemen.
"Hm ... Aku baik baik saja!"
"Makasih udah ngelindungin aku tadi." Cecilia menatapnya nanar, sementara Irsan hanya diam.
"Seharusnya kau tidak melakukan hal itu Cecilia, merusak barang orang lain. Bagaimana kalau dia melaporkanmu pada polisi."
Cecilia terkekeh kecil, "Dia tidak akan seberani itu sayang."
"Kenapa kau selalu gegabah, kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan,"
"Menurut pengalaman. Dia tidak akan melakukannya, dia yang salah kok. Udah berselingkuh, tapi masih menyangkal, kalau dia lapor polisi. Yang ada dia hanya buka aib dirinya sendiri. Belum saat ini dia pasti sibuk meyakinkan Istrinya."
Irsan menghela nafas, lalu keluar dari mobil begitu saja. "Ya baiklah yang punya banyak pengalaman."
"Heh ... Kenapa dia marah lagi. Harusnya kalau udah bertanya kau baik baik saja kan dia balik nanya gue," Cecilia menghela nafas lalu ikut keluar. "Drama banget gue, udah tahu punya pacar tiang listrik." ujarnya lagi bermonolog.
"Sayang ... Tunggu!"
Keduanya masuk ke dalam lift dan langsung menuju lantai lima.
"Pulang dan istirahatlah! Aku akan menemui Ines dan bicara padanya."
"Aku ikut!"
Irsan menggeleng, "Aku bilang pulang dan istirahat Cecilia."
"Oke fine ... Aku pulang." ujarnya mendengus.
Irsan mengulas senyuman tipis sembari mengelus pipi Cecilia lembut. "Menurutlah demi kebaikanmu juga."
Cecilia hanya mengangguk pasrah, melihat Irsan berbalik dan pergi. Namun dia segera menarik dan melingkarkan tangannya di pinggangnya.
"Tunggu."
Keduanya berdiri beberapa saat dengan Cecilia yang memeluk Irsan dari belakang. Pria itu mengulas kembali senyuman lebih lebar lagi serta menepuk nepuk tangan Cecilia.
"Makasih."
Irsan berbalik dan memegang pundaknya. "Jangan lakukan hal yang bisa membuatmu kesulitan sendiri. Hem."
.
...Aaahhh babang tiang listrik lama lama nyetrum othor juga. Wkkwwk. Iya kan... Iya gak? Iya dong cecelover. Si Cece kebangetan aja kalau sampe gak berhenti mikirin Si Reno dan rekeningnya....
...Btw hari senin nih, selamat beraktifitas kembali dan jangan lupa vote kalau kalian suka. Hihihi....