
...Hai hai halo... Hihihi, yang udah gak sabar nungguin mereka. Nih othor kemana aja yaa, lama beud keburu lupa kita. Yaasshh ... bula Feb yang sibuk, selain pindahan, ada beberapa kegiatan othor yang nyita waktu, selain nyemir rumput dan lempeng lempengin taoge. Othor juga punya kegiatan lainnya yang gak penting juga diceritaain. Wkwkk...
...Ahk iya. Kabar Nita gimana ya. Sejujurnya othor masih belum bisa pindahin Nita ke mari ternyata. ya gitu ... Tapi... Ah ... othor sendiri dilema. Semoga nanti kedepannya bisa ya. makasih... lope lope badag biat kalian yang udah sabar banget....
.
Cecilia merengut kesal, bagaimana tidak. Semua yang disebut orang honey moon itu adalah siksaan baginya. aktifitasnya hanya sebatas ranjang saja. Lagi dan lagi.
Sampai dia kesal dan marah.
"Tahu gini gue mending balik!" ujarnya saat Irsan sudah terlelap disampingnya sementara dia tidak bisa tidur karena tubuhnya hampir remuk setelah berkali kali mendapat serangan.
"Dasar suami kejam! Maniiak ... pedoofil!" gumamnya seraya menatap Irsan yang tertidur pulas.
Dengan hati hati Cecilia turun dari ranjang, langkahnya sedikit berjinjit agar tidak membangunkan pria yang dia umpat dari tadi karena perbuatannya yang tidak memberi jeda membuatnya marah.
Gadis itu mengambil ponsel miliknya, tidak lupa ponsel milik Irsan juga. Dia menukar kembali sim card yang sengaja di tukarkannya di hari mereka akan berangkat.
Dia memang sengaja melakukannya agar tidak ada yang mengganggu, tidak ada yang menyuruhnya datang ke rumah sakit dan menggagalkan honey moon mereka. Tapi rasanya kini dia menyesali perbuatannya itu.
"Tahu gini gak gue tuker nih sim card. Bodo amat deh pulang pulang, lagian juga gak seru. Orang orang itu jalan jalan, shoping, romantice moment. Ini ranjaaang mulu! Kan sebel jadinya!" gerutunya saat selesai menukarkan sim Card miliknya yang tanpa nomor kontak dengan milik Irsan dengan segala notifikasi yang dia arsipkan.
Setelahnya dia kembali naik ke atas ranjang dan menarik selimut dari Irsan dengan kesal lalu dia gunakan sendiri. Namun Irsan yang mulai kedinginan beringsut memeluk tubuhnya dengan erat.
Cecilia membalikkan tubuh menghadapnya, dan menatap wajahnya dengan lekat.
"Ah ... Mau gimana pun gue udah cinta sama nih orang satu!" Ujarnya dengan mengelus pipinya.
"Aku juga!" gumam Irsan dengan kedua mata terpejam.
"Heh!" Cecilia terbeliak sempurna saat tahu Irsan nyatanya tidak tidur.
Gimana bisa dia gak tidur, jangan jangan dia tahu lagi sim cardnya gue tuker. Aduh mampus gue! Batin Cecilia was was, sedikit memejamkan mata berusaha menenangkan diri. Tenang tenang ... Semoga dia gak tahu!
"Apa yang kau fikirkan. Hm? Kau fikir ada yang aneh?"
Cecilia menggelengkan kepalanya lirih. "Apanya yang aneh? Maksudku siapa yang aneh."
Masih dengan memejamkan kedua matanya Irsan mengulas senyuman.
"Gak ada yang aku fikirkan kok!"
"Kau tidak bohong?"
"Enggak, aku gak ..."
"Bohong?"
Lamat lama Irsan membuka matanya lebar dan menatap sang istri deengan tatapan penuh curiga, membuat cecilia menelan salivanya sendiri.
"Kau tahu, jika berbohong kau paling jago?"
"Hey .. Mana ada begitu, aku ini jujur dan apa adanya."
Tangan Irsan mengulur untuk merapikan rambutnya."Benar?"
Gadis itu mengangguk lirih namun dengan bibir yang melengkung.
"Kalau aku bohong, apa kamu akan marah?"
"Tergantung jenis kebohongannya!"
"Jadi apa yang kau sembunyikan. Hm? Jangan membuat masalah yang akan merugikan dirimu sendiri nantinya." tukasnya lagi dengan mencapit sedikit pipi sang istri.
Awalnya mungkin cecilia tidak merasa bersalah, dia hanya kesal sedikit karena terus dikurung di dalam kamar namun lambat laun dia mulai merasa bersalah karena menukarkan sim card, dia bersikap egois dan tidak memikirkan orang lain yang menunggu suaminya di rumah sakit.
"Tugasku bukan hanya sebagai dokter saja sekarang, tapi aku sekarang juga seorang suami dari istri yang cantik, dan aku berkewajiban menjagamu dari hal hal buruk, terutama hal hal buruk yang kau lakukan."
Cecilia terdiam, rasa bersalahnya semakin terasa saat melihat sikap Irsan yang semakin lembut. Pria itu bukan hanya berbicara dengan nada yang rendah, namun juga mengelusnya dengan begitu lembut. bukankah hal itu bukti kasih sayang yang tulus?
Ada yang menghangat di pelupuk mata lentiknya tiba tiba, dan gadis itu menatapnya dengan nanar.
"Janji ya kamu gak akan marah kalau aku salah?"
"Aku sudah bilang tergantung apa yang kau lakukan." ujarnya dengan kembali memejamkan kedua matanya.
Dengan mengambil nafas terlebih dahulu sebelum bicara, akhirnya Cecilia memutuskan untuk bicara jujur saja.
"Aku ... Aku udah nuker sim card punyamu!" cicitnya dengan memejamkan matanya, bersiap menerima segala konsekwensi atas apa yang dia lakukan.
Namun pria yng masih juga memejamkan kedua matanya itu tidak bereaksi, hanya terdengar hembusan nafasnya saja yang hangat.
"Bukankah itu yang kau inginkan? Kita menikmati waktu hanya berdua saja tanpa ada gangguan?"
"Kamu gak marah?"
"Kau tanya aku marah atau tidak?"
"Maaf ... Tapi emang bener, aku hanya ingin kamu punya waktu sama aku aja, kan sebentar. Tapi setelah aku fikir fikir aku egois dan gak mikirin orang lain yang ada di rumah sakit yang juga butuh kamu."
"Sudah aku bilang tadi jika sekarang aku bukan hanya seorang dokter yang harus memikirkan pasien pasien ku, tapi aku juga seorang suami yang harus memikirkan pesaaan istriku. Tapi apa caranya harus begitu?"
Cecilia mengerjapkan matanya tidak percaya, selama ini Irsan selalu datar dan tidak peduli hal hal remeh seperti itu, tapi yang dia lihat dan rasakan saat ini adalah irsan yaang penuh pengertian. Apa kepalanya kejedot, apa dia lagi ngigau, kok gue sangsi ya dia pengertian banget. Batinnya bicara, karena perubahan Irsan yang kentara.
"Kenapa tatapanmu seperti orang yang tidak percaya seperti itu?" tukasnya dengan menarik pinggang Cecilia hingga mereka tidak lagi berjarak. "Kenapa ... Apa tidak boleh? Atau kau ingin aku jadi suami dengan waktu yang kadang tidak teratur dan tidak setiap saat bisa menghabiskan waktu bersama?" ujarnya lagi.
"Apaan sih?"
Kali ini Irsan membuka matanya dengan lebar lagi. menatap ke arah sang istri lalu tersenyum."Kau menukar sim card itu agar aku punya waktu untukmu, aku tidak perlu memikirkan pasien yang mungkin saja membutuhkan bantuanku. Kau sedang bersikap egois dan tidak mau berbagi waktu dengan orang lain. Benar bukan?"
Mampus. dugaan gue bener! Tapi dia kayaknya udah ngira ngira, aneh aja mungkin ponsel yang biasana rame jadi sepi kayak kuburan.
Sejurus kemudian kedua matanya memicing. "Jangan jangan kamu emang udah tahu dan sengaja ya ngerjain aku? Gak ngebolehin keluar dari kamar atau pergi peri. Aktifitas cuma ranjang ranjangan aja itu karena kamu udah tahu kan?""
Bibir Irsan kini semakin melengkung hingga ke ujung dengan manik tajamnya sedikit meredup kembali,
"Memang begitu! Apa tidak boleh, aku hanya membantu tujuanmu agar tercapai saja, kau punya waktu full time bersamaku! Bukankah ini keinginanmu?"
Bugh!
Cecilia memukul dada irsan dengan keras hingga pria berusia 40 tahun itu meringis.
"Nyebelin banget sih!"
"Tidak ... Itu sangat seru, kita impas bukan?" ujarnya dengan kembali memeluk cecilia dengan erat. "Besok pagi kita jalan jalan, setelah itu kita pulang. Hm"
Cecilia akhirnya mengangguk, namun juga dengan kedua alis yang mengkerut. "Awas aja bohong lagi."
"Tidak akan, kita akan benar benar jalan jalan, honey moon yang kau bilang itu. Hm?"