
Suster itu terdiam sesaat, "Untuk hal itu aku belum tahu. Kau bisa tanyakan pada Jo nanti."
Nita mengangguk, menepuk nepuk bahu Cecilia dengan lembut."Udah Ce ... Tenang aja! Semua bakal balik normal lagi."
"Tapi tadi kau bilang Mr Orlan terkena alzhemer, terus sekarang enggak!"
"Kami memang selalu berhati hati pada setiap orang yang datang khususnya yang datang dari perusahaan, karena ya seperti yang kalian dengar tadi. Mr Orlan cukup memantau dari jauh, berpura pura sakit agar mereka tidak terus mengusiknya."
"Mereka siapa?" tanya Nita penasaran.
Suster kembali tersenyum, "Itu bukan hal penting untuk kalian tahu. Cukup masalah ini saja dan tidak melebar pada urusan yang bukan ranah kalian."
"Ya udah ... Siapa juga yang mau ikut urusan yang bukan urusan kita. Ya kan Ce ... Gak ada sangkut pautnya sama kita." ketus Nita lagi.
Sementara Cecilia masih terdiam menatap wanita yang berpakaian layaknya baby sitter itu.
Keduanya keluar dari villa milik Mr Orlan, dengan seluruh fikiran yang memenuhi ruang di kepala Cecilia, bahkan rasanya ruang semakin menyempit karena hal ini tidak bisa dia cerna dengan baik.
"Maksud Si botak suka bantuin lo itu bukan karena dia suka sama lo kan!" Seloroh Nita dengan tertawa.
"Sialan lo emang! Gue masih gak percaya aja gitu."
"Gak percaya karena ternyata Si botak gak suka sama lo?"
Cecilia menghentikan langkahnya, "Eeh bego! Lo kesitu mulu dari tadi, gue gak percaya bukan hal begituan, tapi karena Jo ternyata bekerja juga sebagai tangan kanan Mr Orlan. Padahal dia juga asisten pribadi Reno kan. Itu artinya, selama ini dia...!"
"Ya bener ... Ya jelas istrinya tadi bilang apa. Dengan kata lain si botak itu ...!"
Keduanya saling menjeda ucapannya masing masing, lalu menatap satu sama lain.
"Mata mata!" seru keduanya bersamaan.
"Bego juga kita ya."
Cecilia mengangguk, "Apalagi lo! Tapi gue kayaknya harus ketemu sama tuh orang dan minta penjelasan maksud semua ini."
"Ketemu si Jo botak?"
"Lah iya ... Lo fikir ketemu bapak lo! Kadang kadang lo ya." Cecilia mendengus, sementara Nita terkekeh, "Ternyata dunia perbisnisan kejam ya Nit, gue ragu buat buka bisnis baru nanti. Apalagi tuh slogan Mr Orlan. Apa tuh tadi."
"Bersikaplah jahat agar tahu mana yang benar benar jahat mana yang benar benar baik." sahut Nita. "Bener kan. Keren tahu itu."
"Lah keren apaan, tuh si Reno yang jahat mati juga!"
Nita menggelengkan kepala, "Jadi kita harus jadi orang baik Ce."
"Lah orang baik mah dimanfaatin mulu. Tuh Si Nia .. Terlalu baik dibegoin juga kan dulu. Gue juga baik di manfaatin juga sama lo." Cecilia tertawa, disusul oleh toyoran kepala dari Nita.
"Kebalik woi. Kebalik!" Cecilia mendelik ke arahnya. Sementara kini Nita terkekeh. "Eh Ce ... slogan itu cocok buat kita pake. Kita pake aja ya."
"Ya kali...!"
"Dan berarti lo tepat dengan pilihan jodoh lo. Dokter. Bukan businessman kan."
"Hm ... Gak tahu deh kalau Irsan bukan dokter. Gak mau juga kali gue."
"Dih apaan, emang lo nanya dulu apa kerjaannya pas lo godain dia? Yang ada geragasan gitu lo inget gak." Tawa Nita kembali membahana, sementara Cecilia mendengus saja.
***
Irsan tampak mondar mandir di depan apartemen, menunggu Cecilia yang tidak kunjung pulang, hari pun sudah berganti malam, dan Irsan tidak tahu kemana Cecilia pergi.
Bolak balik dia menatap layar ponsel ditangannya yang tidak kunjung berdering, pesan yang dia kirim pun belum juga terbalaskan. Dirinya semakin panik saat tahu jika Cecilia pergi untuk menemui seseorang yang bisa membantunya.
Langkahnya terhenti saat dari kejauhan terlihat sosok gadis yang dia tunggu, berjalan gontai dengan tas terombang ambing ditangannya.
Begitu juga Cecilia yang melihatnya dari jauh, rasa lelah sepertinya hilang begitu saja saat melihat sosok jangkung di depannya.
Tak lama Irsan berjalan dengan sangat cepat menghampirinya dan langsung menariknya kedalam pelukannya.
"Kamu dari mana saja. Membuat semua orang khawatir!"
"Bodoh! Kenapa kau melakukan hal senekad ini Hah? Kau tahu aku panik mencarimu aku khawatir padamu." Irsan semakin mendekapnya dalam.
Begitu juga Cecilia yang kini mengulas senyuman, dia menenggelamkan dirinya di pelukan satu satunya pria yang benar benar mengkhawatirkan dirinya.
"Aku baik baik aja kok!"
"Kau tahu! Aku hampir gila mencarimu."
"Aku tahu. Harusnya aku emang gak ngelibatin kamu dalam masalah ini."
Irsan mengurai pelukannya, kedua tangannya memegang pundak Cecilia. "Kenapa kau harus meminta bantuan orang lain hm? Kenapa tidak datang padaku. Aku akan membantumu, aku akan mengurus semuanya, aku ingin terlibat dalam masalahmu Cecilia. Tidakkah kau pahami itu juga. Hah!" sentaknya kesal, namun sorot matanya teramat meneduhkan. "Sudah aku bilang aku akan menjagamu Cecilia." lanjutnya dengan suara yang lebih lembut.
Cecilia kembali menenggelamkan diri dalam pelukan Irsan, melingkarkan kedua tangan di pinggangnya. "Aku tahu ... Tapi urusan ini harus aku selesaikan sendiri. Aku yang memulainya. Aku tidak ingin membuatmu harus menanggungnya. Ya walaupun setelah ini akan ada banyak masalah lainnya." terang Cecilia dengan menghirup dalam dalam aroma tubuh Irsan yang menenangkan dan membuatnya nyaman.
"Apa yang membuatmu berfikir melakukan hal seperti iti Cecilia. Kau membuka aib mu sendiri pada semua orang. Bodoh sekali."
Cecilia terkekeh, "Gak apa apa ... Toh itu kenyataanya, daripada harus membuatmu melakukan hal konyol dengan mengorbankan lisensi kedokteranmu. Itu benar benar bodoh namanya."
"Kau ini!"
"Benarkan? Bisa bisa aku di demo sama pasien pasienmu. Lebih parah lagi, kamu gak punya kerjaan dan jadi pengangguran. Gak punya duit gimana? Makin susah itu." Kekehnya lagi.
"Jadi yang kau khawatirkan hanya uangku saja, bukan aku?" Irsan melebarkan kedua maniknya, namun juga mengulum senyuman.
"Ya kamu juga. Sayangku ... Cintaku ... Dokterku." selorohnya dengan terus tertawa.
"Dasar kau ini. Ayo masuklah. Aku masih harus mengurus sesuatu." ujarnya mendorong Cecilia ke arah pintu lalu membukanya.
"Mau kemana lagi? Kita baru ketemu, kangen kangenan dulu kek."
"Ada sesuatu yang harus aku urus. Kau masuk dan jangan kemana mana lagi."
"Ya baiklah ... Baik. Aku juga capek." Cecilia masuk ke dalam apartemen yang kini terbuka.
Sementara Irsan merogoh ponsel dan menghubungi Carl.
'Carl?'
'Aku masih di unit milik Ines.'
Irsan mendengus dan juga langsung mematikan ponsel miliknya memasukkannya lagi ke dalam saku celana. Dan memastikan pintu tertutup dan Cecilia tidak keluar lagi barulah dia beranjak pergi.
Da berjalan ke arah unit milik Ines, membuka pintu dan langsung masuk ke dalam.
"Bagaimana?"
"Saham mulai naik, seseorang pasti sudah melakukan penyelamatan!" Ujar Carl dengan mengotak ngatik laptop diatas meja.
"Jadi kita tidak perlu membeli saham saham itu?"
"Kurasa tidak perlu, dan kau tebak ini." Carl membalikkan layar laptop ke arah Irsan. "Gadismu luar biasa."
Irsan mencondongkan tubuhnya, Ines yang duduk didepan Carl pun melakukan hal yang sama.
"Hilang? Kau menghilangkan semua video itu?" ujar Ines. "Kau lihat kan. Semua hilang begitu aja. Apa Cecilia udah pulang?" Tanyanya kemudian pada Irsan.
"Ya ... Dia ada di kamarnya." sahut Irsan dengan menatap Carl penuh curiga. Sebagaimana dia tahu jika Carl ahli dalam soal IT dan dia bisa menghack sistem apapun kalau mau.
Carl yang paham arti tatapan kedua orang di depannya itu menggelengkan kepalanya.
"Bukan aku. Aku belum melakukan apa apa!"
.
3 bab cukup kan buat kalian Cecelover. Hihi. Lope lope badag buat kalian yang dukung othor seluarbiasa ini.
Jangan lupa like komen dan rate 5 kalau kalian suka. Dan buat yang gak suka dan ngerasa novel ini gak cocok dibaca cukup skip aja tanpa kasih rate jelek ya. Othor heran sama yang kasih rate 1 tapi tetep baca ini novel. Wkwkw.