I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.160(Mampus!)



"Masalah ini sudah aku katakan berkali kali, ayah tidak salah dengan pilihannya. Bukankah ibu sendiri tahu resiko menjadi istri seorang dokter? Terlebih dulu ayah sedang merintisnya dari 0 bu, tanpa bantuan siapapun termasuk dari kakek. Begitu juga aku dengan pilihanku, kenapa ibu tidak juga mengerti akan hal itu. Dan soal Cecilia ... Jangan salahkan dia bu! Dia tidak tahu apa apa, dia saja tidak tahu kalau aku pemilik rumah sakit ini. Dia tidak tahu seberapa banyak uangku Bu. Jadi tolong, kali ini ... Jangan ulangi lagi apa yang pernah ibu lakukan dulu."


Embun tersentak, dia tidak menyangka dengan apa yang Irsan katakan. "Gadis itu pasti mengadukanku padamu dan mengatakan hal yang tidak tidak! Dasar kurang ajar,"


"Tidak! Aku sudah tahu sejak lama, dan diamku selama ini karena aku tidak mau menambah dosaku karena terus mendebatmu Bu. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya aku mengatakannya pada ibu agar ibu mengerti dengan pilihanku. Aku akan tetap menjadi seorang dokter karena itulah cita citaku bu. Aku tidak ingin kita terus bertengkar dengan hal yang sama sejak dulu, bukan saja tentang pekerjaanku, tapi juga masalah pribadiku. Aku ini sudah cukup berumur untuk memutuskan siapa yang pantas aku kencani Bu."


Embun berdecih mendengarnya, "Gara gara cita cita itulah, ayahmu lebih memilih mengorbankan keluargamu, dan kau akan melakukan hal yang sama nantinya, terlebih pada wanita yang hanya akan mengincar hartamu saja. Seperti si Alisa itu."


"Bu!"


"Dan sekarang aku juga tidak suka gadis kurang ajar itu!"


"Bu! Sudah aku katakan berulang kali. Bukan pilihanku yang salah, tapi pemikiran ibu. Ibu tidak bisa menyamakan aku dan ayah, aku tidak akan sampai mengorbankan keluarga Bu. Terlebih seseorang yang mengerti keadaanku. Dan aku harap ibu juga begitu, Ibu fikir kerja kantoran itu tidak sibuk? Sama saja bu. Apa yang ibu lakukan selama 24 jam dalam seminggu, bertemu klien, meeting kesana kemari. Sama saja bu, dan soal Alisa, aku memang tidak bisa menyalahkan ibu, tapi bukan berarti semua wanita seperti itu. Aku yakin itu!"


" Apa kau yakin gadis itu mau denganmu dan tidak peduli hartamu?"


"Ya ...!"


"Kau seyakin itu padanya?"


"Tentu! Dia hanya tahu aku seorang dokter yang bertugas di rumah sakit ini! Dia juga tidak tahu apa apa mengenai latar belakangku."


"Lalu siapa yang akan meneruskan perusahaan kalau ibu sudah tidak ada. Hah?" Sentak Embun marah.


Irsan terdiam, menatap manik sayu dan juga berkaca kaca milik ibunya.


"Tapi tidak mengharuskan aku terjun langsung Bu. Aku sudah menyuruh Carl membantu ibu selama ini, toh aku juga tidak tinggal diam. Tapi aku benar benar tidak ingin terlibat secara langsung. Tolong ibu pahami."


Perdebatan yang sama dengan akhir yang sama pula, tidak ada titik temu di antara keduanya, sama sama mempertahankan ego masing masing. Sampai Ines masuk dan keduanya langsung terdiam.


"Kau panggil Toni! Aku ingin pulang hari ini juga." Serunya pada Ines yamg baru saja duduk di tepi ranjang.


"Bibi ... Bibi harus istirahat, sehari atau dua hari ya. Aku akan menemani bibi di sini." tukasnya dengan mengelus punggung tangannya.


"Kenapa bukan kau saja yang jadi anak kandungku Ines, bukan dia yang tidak pernah mendengar perkataan ibunya yang sudah tua ini." sahutnya dengan menatap nyalang pada Irsan. "Kau juga harus mencari pria yang sepadan denganmu, yang bisa kau andalkan dalam hal apapun, jangan seperti dia yang asal asalan memacari gadis tidak jelas dan kurang ajar itu." Pungkasnya lagi.


Irsan menghela nafas, pecuma saja panjang lebar penjelasannya. Toh Ibunya tetap tidak mengerti dan tetap pada pendiriannya.


"Aku pergi!"


Irsan akhirnya lebih memilih pergi dibandingkan terus mendapat sindiran pedas dari sang ibu, wanita pertama yang seharusnya mendukungnya dibandingkan yang lain. Hubungan itu tetap tidak berubah sekalipun mereka berdebat setiap kali bertemu, itulah sebabnya juga Irsan tidak pernah membalas atau pun mengangkat sambungan telepon ibunya karena malas mendebatnya lagi.


"Lihat anak itu! Persis seperti ayahnya, tidak pernah mau mendengarku."


"Bibi ... Sudahlah, lebih baik bibi Istirahat ya, agar Bibi bisa kembali Fit dan bisa pulang ke singapura."


Tanpa disangka, Embun menepis tangan Ines. "Kau mengusirku?"


"Astaga! Kan Bibi yang bilang tadi kalau Bibi ingin segera pulang ke singapura."


"Sudahlah, kau juga pergi saja! Kalian sama saja. Panggil suster dan jiga Toni. Hanya mereka yang mau mendengarkanku." sentaknya lagi dengan memalingkan wajah ke arah lain. "Sudah sana pergi! Aku tidak mau melihatmu juga."


Ines menghela nafas, dia bangkit lalu keluar dari ruangan VVIP itu. Menarik nafas lalu menghembuskannya juga menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku gak paham harus gimana lagi!"


"Astaga jam berapa ini?" gumamnya mengerjapkan mata. "Kok Doksay gak balik balik sih! Apa terjadi sesuatu sama tuh Gardu listrik ya."


Cecilia menggeliatkan kedua tangan ke atas, ke kiri lalu ke kanan karena seluruh badannya terasa pegal setelah tertidur dengan tidak nyaman. Dia bangkit dari kursi dan berjalan ke luar.


Sepi


Lorong rumah sakit tampak sunyi, hanya bunyi bunyi dari berbagai mesin yang terdengar sayup sayup dari kejauhan. Cecilia menoleh ke belakang, lalu ke kiri juga ke kanan.


"Serem amat ya!"


Cecilia terus berjalan hingga melewati station nurse, dimana para suster yang tengah bertugas berkumpul di sana.


"Maaf ... Apa kalian tahu dimana pacarku. Maksudku Dokter Irsan?"


Tampak Suster suster yang seusia dengannya mengernyitkan alis. Mereka kaget tiba tiba ada yang mengaku ngaku pacar dokter Irsan. Tidak ada yang menjawabnya sampai Cecilia berdecak kesal sampai ada suster senior keluar dari ruangan Suster yang berada di belakang meja Station.


"Kau mencari Dokter Irsan?"


Cecilia mengangguk dengan semangat, "Iya ...!"


"Dokter Irsan sedang di ruangan operasi, baru saja datang pasien darurat."


"Ya ... Masih lama dong."


"Aku tidak tahu, tergantung kondisi saja!" ujarnya melengos pergi.


"Tunggu! Apa kau tahu dimana ibunya di rawat? Maksudnya ruangannya?"


"Oh ... Nyonya Embun? Di lantai 7, kamar VVIP."


Cecilia mengangguk, dia mengayunkan langkah menuju tempat dimana Embun tengah beristirahat. Dia penasaran dengan keadaannya, dia juga ingin bertemu dengan Ines yang pasti ada di sana.


"Kamar VVIP ... Kamar VVIP." gumamnya saat melewati pinti kamar kamar di lantai 7. Lantai yang lebih sepi lagi.


"Nah ini dia! Tapi kok Ines gak ada!" ujarnya dengan melongo kedalam ruangan yang bisa dia lihat di kaca pintu. Dia hanya melihat Embun terbaring seorang diri diranjang. Perlahan lahan dia mengendap ngendap masuk. Embun terlihat tidur dengan nyenyak, Cecilia bankan melambaikan tangan di depan matanya dan Embun tidak bereaksi.


Dengan perlahan juga dia mencabut selang yang terpasang pada tabung cairan infus yang menggantung di tiang disamping ranjang, menggantinya dengan tabung infus yang dia temukan di atas meja.


"Nah begini kan!" gumamnya dengan menusukkan jarum pada infus yang baru.


Namun tiba tiba saja Embun membuka matanya dan langsung melihat Cecilia dengan tajam,


"Apa yang kau lakukan di sini? Kau mau meracuniku dengan memasukkan racun dalam infusku?"


"Mampus!"


.


Haduhhh ... Udah dibilangin jangan kemana mana! Ini yang ditakutkan Doksay. Cari masalah aja sih, eeh salah ... kali ini masalah yang nyari lo Ce. Wwkkw.


3 bab lagi hari ini. Gimana puas dong. Puas lah yaa. hihihi. Sampai ketemu besok Cecelover.