I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.176(Ide bodoh)



Cecilia mengerjap ngerjapkan kedua mata, lalu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan terus menatap pria yang kini melingkarkan kedua tangan di pinggangnya. Memastikan jika pria itu adalah Irsan dan dia sadar betul dengan apa yang dia dengar.


"Kenapa?"


"Apa ini benar benar kamu. Aku hanya minum tiga gelas tequila, dan aku masih sadar. Tapi ... aneh...."


"Apanya yang aneh hm?"


"Pria sepertimu bicara apa barusan. Bener bener aneh."


"Itu tidak aneh, yang kau lihat adalah aku dan yang kau dengar adalah seluruh isi hatiku selama ini Cecilia, kau bukan saja mabuk, tapi kau juga secara tidak sadar melukai ku."


Cecilia mengernyit, "Apanya yang aku lukai, justru sebaliknya,"


"Kau pergi dari tempat yang aku sediakan untukmu, apa itu tidak melukaiku. Dengar Cecilia, kau hanya perlu turuti perkataanku ... Aku menyuruhmu tinggal berarti apa pun yang terjadi kau harus diam, jangan pergi apalagi pergi seperti ini. Hm? Mengertilah Cecilia, aku selalu takut jika hal ini terjadi, aku tidak seperti orang lain yang memiliki banyak waktu, bisa pergi kapan saja meninggalkan pekerjaannya. Sedangkan aku. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku jika kau tiba tiba pergi, aku akan kelimpungan mencarimu, aku akan panik bahkan mungkin membuat pekerjaanku berantakan. Tapi aku tidak bisa berbuat apa apa. so please ... Jangan pergi seperti ini lagi."


"Ya itu karena ...."


"Aku tidak tahu apa yang terjadi jika kamu pergi jauh dari ku, cukup sudah bagiku kehilangan seseorang yang begitu berarti dalam hidupku. Aku tidak ingin jatuh di lubang yang sama."


"Jadi kau akan mengejarku kalau aku pergi?"


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari ku walau hanya satu jengkal saja."


Cecilia terkekeh dengan wajah yang kian tersipu dengan rona kemerahan. "Posesif ya."


"Terserah apapun itu, aku juga sudah tahu jika ibu yang menyuruhmu pergi, tapi asal kau tahu kalau ibu ku tidak punya hak apapun mencampuri urusan pribadiku, apalagi sampai mengusirmu, aku akan bicara padanya nanti." tegasnya lagi.


Cecilia mengangguk, "Sekarang kau takut kehilangan aku?"


"Tentu saja! Dasar gadis nakal."


Cecilia mencebikkan bibirnya, "Berarti kamu sangat mencintaiku?"


Irsan mengangkat tubuhnya dalam satu tarikan, hingga gadis itu kini berdiri diatas kursi, membuatnya sejajar dengan tubuh Irsan yang tinggi,


"Aaarrggh!"


"Apa semua yang aku katakan dari tadi masih kurang jelas. Hm?"


Cecilia yamg terkaget kini justru terkikik saat melihat Irsan dengan wajahnya yang serius, kedua matanya membola tajam.


"Iya ... Iya, nakutin banget!"


"Sekarang kita pulang, aku akan membawamu ke tempat dimana seharusnya kau berada. Hm."


"Terus ibumu?"


"Itu urusanku, kau hanya perlu diam dan menungguku. Kuliah yang rajin dan berhenti minum alkohol." ujarnya lagi dengan mencubit hidung Cecilia.


"Itu karena aku stress, aku marah, aku kesel, aku kecewa!"


"Anak?" desisnya dengan mengusap perutnya yang rata. "Mana mungkin!"


"Itu baru kalau. Kau tidak ingat kita melakukannya tanpa pengaman?"


Cecilia yang masih setengah mabuk itu mengernyit, lalu terkekeh membayangkan dirinya hamil dan memiliki seorang anak. "Apa kau akan percaya saat itu juga kalau yang aku kandung adalah anakmu?"


"Tentu saja! Apa kau gila bertanya seperti itu, atau ada pria lain yang menyentuhmu selain aku. Hm?" Irsan tampak berang.


"Ih ... Itu kan kalau juga. Mana ada yang nyentuh aku selain kamu sekarang, ditambah, selama kontrak dengan Reno, dia tidak pernah benar benar menyentuhku seperti kau menyentuhku."


Irsan menaikkan kedua dahinya, "Apa kau sedang membual Cecilia? Dasar pemabuk, bicara seenaknya tanpa mengerti hatiku."


Cecilia terkekeh lagi, menangkup wajah Irsan kembali. Dan menariknya sedikit."Maaf sayang!"


Jarak keduanya yang teramat dekat itu tentu saja memudahkan Cecilia maupun Irsan, ditambah kini keduanya berdiri sejajar.


"Aku ingin menciummu!" Lirih Cecilia.


Irsan berdecak, mencapit dagunya dengan telunjuk dan juga ibu jarinya. "Dasar nakal ... Kau tidak pernah bisa menahan diri sepertinya."


"Kau benar! Aku seperti maniiak didepanmu." jawaban Cecilia amat jujur.


Sedetik kemudian Irsan menarik dagu Cecilia dan menyambar bibirnya dengan lembut. "Maniaak yang cantik,"


***


Derasnya hujan malam itu tidak membuat Irsan mengurungkan niatnya untuk membawa Cecilia kembali, di bawah payung yang dia bawa. Keduanya berjalan dibawah hujan menuju mobil Irsan yang terparkir sembarang di pinggir jalan, akibat kepanikan yang melandanya saat tahu jika Cecilia pergi dari apartemen karena ibunya.


Panggilan ke 113 dari Ines membuatnya harus meninggalkan pasien yang tengah dia periksa, beruntung ada Dokter Aji yang mau menggantikannya saat itu.


Walau Irsan tidak akan ragu meninggalkan rumah sakut jika berkaitan dengan keluarganya atau pun wanita yang dia cintai sepenuh hati itu, namun ada kode etik kedokteran yang harus dia patuhi, sebagai seorang Dokter, juga kemanusiaan yang sudah ditekuninya sejak lama.


Irsan merengkuh pundak Cecilia yang kini memakai jas milik Irsan, dia juga menyelusupkan kepalanya di dada Irsan.


"Kau yakin mau bicara dengan ibumu tentang hubungan kita dan juga aku yang begini ini?" tunjuknya pada dirinya sendiri. Pakaiannya juga Tampak berantakan, jangan di tanya tentang wajahnya, wajah cantiknya sembab karena terus memangis, kesedihan dan kebahagian yang tidak dapat di pisahkan.


"Ya ... Aku yakin! Dan dia harus mau menerimamu."


"Aku bisa sendiri soal itu!"


"Benarkah. Apa yang akan kau lakukan?"


"Bagaimana kalau aku tinggal bersamanya saja di sana?"


Irsan menghentikan langkahnya, walau nyatany hujan masih belum reda, "Jangan gila Cecilia!"


"Aku gak gila sayang, aku akan tinggal bersama ibumu, kalau perlu kau tidak usah datang menemuiku atau ibumu! Bagaimana...."


"Itu ide yang sangat bodoh!"