
Embun masih tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Irsan tanpa dirinya, semua yang dikatakan Cecilia, luka batinnya, tumbuh kembangnya dan juga perkembangan emosionalnya. Wanita paruh baya itu terdiam cukup lama dengan kedua manik yang semakin berkaca-kaca, dan saat Cecilia menyadari hal itu dia hanya mengulas senyuman saja.
"Ibu?" panggilnya dengan lirih. "Kalau aja Ibu bisa memutar waktu, Ibu mau apa?" tanyanya iseng, "Apa Ibu akan memberikan kasih sayang dan memberinya kesempatan?"
Lagi-lagi Embun terdiam tidak bisa menjawabnya, karena tidak pernah terlintas dari dirinya untuk kembali ke masa lalu, terlebih masa lalunya yang menyakitkan.
"Apa Ibu juga akan memberikan wanita itu kesempatan?" tanya Cecilia lagi.
Embun sedikit tersentak saat Cecilia bertanya tentang wanita itu, banyak wanita yang sempat membuatnya terluka karena hubungannya dengan suaminya.
"Kau benar Cecilia. Banyak alasan seseorang untuk melakukan sesuatu, begitu juga denganku. Aku mempunyai alasan kenapa aku melakukan hal ini dan meninggalkannya dulu. Apa kau tahu aku juga terluka?"
"Mohon maaf Ibu. Tapi yang aku magsud adalah wanita itu, wanita yang akan dinikahi oleh Irsan. Aku beruntung karena ibu gak kasih dia kesempatan. Kalau gak mana mungkin sekarang ketemu aku. Iya kan." Cecilia terkekeh lagi.
"Kau benar! Dan hubunganku dengannya pasti tidak akan serumit dan separah sekarang ini." tukas Embun dengan menghela nafas karena ternyata yang di maksud Cecilia adalah Alisha.
"Tapi aku gak tahu lho masalah ibu itu apa? Ibu nggak pernah cerita sama aku. Kalau ibu mau ... Ibu bisa cerita sama aku, aku janji nggak akan cerita sama siapa-siapa. Apa Ibu tahu aku ini dikenal sebagai penyimpan rahasia terbaik. Aku jamin kerahasiaannya dengan jiwa ragaku." katanya dengan terkekeh lagi. Embun berdecak, kali ini decakannya cukup keras. "Kau ini!"
"Nah ini ... persis banget ibu itu kayak Irsan hanya bisa bilang kau ini kau ini kau ini kau ini .... hanya itu yang anak itu katakan!" Cecilia menggelengkan kepalanya. Bahkan raut yang terlihatpun sama. Seolah di tengah melihat Irsan.
Embun menarik bibirnya ke atas saat mendengarnya, mendengar kemiripan dirinya yang lagi-lagi dilontarkan gadis yang dianggap buruk itu.
"Terus kamu kesal padaku seperti kamu kesal pada Irsan saat mengatakan hal itu?"
Cecilia menggelengkan kepala, "Enggak kok bu, aku gak punya alasan buat kesel sama Ibu, ya dikit tapi itu kemaren."
"Cih! Jujur sekali kau ini."
"Ya kenapa harus bohong, kan Ibu yang nanya. Iya kan?" Cecilia menoleh ke arahnya, "Aku justru seneng kalau Ibu benar benar mau nerima aku dan masa lalu ku. Bukan karena ada tujuan yang Ibu inginkan."
Embun membuang wajah ke arah lain, sementara Cecilia terus menatapnya sampai Wanita paruh baya yang masih terlihat segar itu salah tingkah.
Sang supir menghentikan laju kendaraannya di sebuah restoran yang sudah ditunjukkan oleh Embun sebelumnya. Sementara suster yang sejak tadi hanya diam mendengarkan itu menoleh ke arah belakang.
"Nyonya ... kita sampai."
Embun buru buru mengangguk, dia juga langsung membuka handle pintu mobil walau supir belum turun untuk membukanya.
Namun Cecilia dengan cepat mencekal lengan Embun sampai dia kembali menoleh.
"Apa Ibu yakin keluar dengan mata ibu yang berair itu? Basah bu." ujarnya walaupun sebenarnya juga tidak terlalu terlihat karena Embun memakai kaca mata.
Cecilia menyodorkan tisu yang dia ambil dari dalam tasnya, namun Embun tidak serta merta mengambilnya. Dia hanya mengerjap ngerjap mata, tangannya tetap tidak bergerak untuk mengambil tisu yang tersodor untuknya.
Cecilia berdecak pelan. "Tenang Bu ini hanya tisu, aku gak nyari muka sama ibu, untuk apa aku mencari muka. Bukannya Ibu udah nerima aku dengan baik." sindirnya dengan sangat halus.
Mau tidak mau embun menerimanya. Entah kenapa dia jadi kesulitan sendiri kalau harus terus berpura pura baik. Tapi juga menikmatinya karena Cecilia gadis yang menyenangkan.
Dia tidak harus benar-benar bersikap menerimanya atau terus berpura-pura baik karena sikap Cecilia yang selalu jujur dan blak blakan sepanjang perjalanan. Dan tak bisa dia pungkiri lagi gadis di sampingnya itu memang mengagumkan.
Embun kembali menutup pintu yang sudah sedikit terbuka itu, lalu menyusut kedua matanya dari jejak jejak basah.
"Apa yang kau lakukan kalau ia selalu sibuk dengan dunianya dan tidak ada waktu untukmu?" Tanya Embun tiba tiba.
Embun mengangguk anggukan kepalanya pelan.
"Bukannya Ibu juga akan melakukan hal kayak gitu kalau Ibu kangen sama anak Ibu sementara dia sibuk dan gak sempet nemuin Ibu?"
"Irsan tidak pernah melakukannya!" Lirihnya kemudian.
"Kalau gitu, mulai dari sekarang aku yang bakal ingetin dia buat nemuin Ibu. Ya ...!" Ucap Cecilia mengulas senyuman. "Zaman udah canggih, kalau pun gak bisa ketemu karena jauh, kan ada ini?" ucapnya lagi dengan menunjukan ponsel miliknya.
"Kau janji akan melakukan hal itu kalau Ibu udah kembali ke Singapura?"
"Gak usah janji bu, berat. Tapi aku akan melakukannya. Ibu tenang aja, kalau dia gak mau juga, aku akan menyeretnya dan membawanya ke tempat Ibu. Percaya sama aku Bu." Tukasnya dengan tertawa.
"Kau fikir dia mau melakukannya?"
"Ya tentu saja, Ibu fikir dia gak inget sama Ibu? Gak kangen sama Ibunya sendiri, kangenlah pasti Bu. Aku aja yang udah gak mau lihat ayah tiriku tetep kangen sama Ibu, Huhhh!"
"Ibumu ada dimana?"
"Ada di kampung, Ibuku gak mau ninggalin kampung dan ikut aku, dia tetap memilih pria yang jadi suaminya." Cecilia mendengus.
"Bukankah kau bilang tadi semua orang punya alasan?"
"Hhhmmm ... Tanpa bisa kita ngerti alasannya. Iya kan bu?"
Kali ini Embun mengangguk, "Kau benar, seperti aku yang tidak pernah mengerti kenapa Irsan tetap memilihmu."
Cecilia tertawa keras dan lupa kalau dia berhadapan dengan ibu dari pria yang dia cintai.
"Iya juga ya ... Nanti aku tanya deh sama dia. Kalau perlu ditanya depan Ibu biar dia jawab."
"Hm ... Ide bagus!" Tukas Embun yang setuju begitu saja tanpa banyak berfikir dan tidak sadar jika dia semakin menikmati obrolannya dengan gadis yang tidak benar benar dia suka itu.
Keduanya pun keluar dari mobil, Cecilia dengan sengaja melingkarkan tangan pada lengan Embun dan berjalan disampingnya. Embun sempat menoleh sesaat namun juga membiarkannya menggandengnya.
"Makasih ya bu udah mau ngajak aku makan siang!"
"Ibu harus melakukan agar bisa juga makan siang dengan Irsan putraku." Ujar Embun yang kali ini bicara jujur.
Cecilia terkekeh mendengar jawaban sarkas dari Embun, namun dia juga sudah menyiapkan jawaban yang bisa membuatnya sama sama dongkol.
"Gak apa apa, karena itu juga menguntungkan aku, aku bisa kenyang karena aku laper dan ketemu pacar aku. Karena tadi cuma ketemu sebentar di kampus. Makasih ya bu, ibu udah mau nemenin aku dan Irsan kencan hari ini."
.
.
Dahlah kita sama sama nunggu itu gardu listrik rungkad juga sama Cece, walaupun tuh gardu masih egois banget gak mau ngakuin kalau Cece dabest. .. Wkwkk ... Eh Cece makin pinter yaa ampe lupa si Nita dia tinggal gitu aja , gak nyangka juga kalau otak selangkaangannya udah mulai berubah.
3 bab lagi hari ini ... Buat kalian Cecelover.