I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.155(Zaman dulu)



"Apa katakan yang jelas!"


Dengan wajah resah dan juga khawatir, Ines masih berjalan mondar mandir. Dia tidak tahu harus mengatakannya atau tidak pada Irsan saat ada Cecilia di sampingnya.


"Tarik nafas." Cecilia memberikan intruksi untuknya agar dia tenang, Ines mengikuti arahannya, dia menarik nafas panjang.


"Hembuskan pelan pelan!"


"Huh! Gak bisa, mana bisa aku tenang." ujarnya seakan baru sadar, jika dengan menarik nafas dan menghembuskannya saja tidak akan membantu keresahaannya.


"Apa. Katakan dengan jelas!" Sentak Irsan yang lama lama tidak sabar juga.


"Itu ... Itu!" Tunjuknya ke arah belakang. "Bibi ... bibi, eehm ... Ibumu sedang kemari! Dia dalam perjalanan. Dia akan ke unitmu. Lebih baik Cecilia ikut aku. Kita ke apartemenku." ujarnya menarik tangan Cecilia.


Irsan tersentak, dia menatap Cecilia lalu kembali menatap adik sepupunya itu.


"Ayo cepat! Atau bibi akan tahu kalau kau ... Kalian tinggal bersama, dan itu tidak bagus sama sekali."


Kini Cecilia yang menatap Ines, lalu beralih pada Irsan dengan bingung. "Bibi ... Maksudnya ibumu?"


Irsan mengangguk, "Ya ... Kau ikut Ines terlebih dulu. Jangan kemana mana sebelum aku suruh."


"Calon mertuaku dong. Kenapa aku gak boleh ketemu dia? Oh kau malu ya ngenalin aku sama ibumu?"


"Bukan begitu Cecilia! Kau tidak tahu seperti apa Bibi, dia sangat kolot, tidak akan mengerti anak muda zaman sekarang." tukas Ines ikut menjelaskan, sementara sang anak yang ibunya akan datang itu hanya diam saja.


"Iyakah?" tanya Cecilia pada Irsan,


"Ya ... Itu benar, jadi kau menurut saja. Diam di tempat Ines sampai ibuku pergi, dia tidak akan lama." jelas Irsan yang juga mendapat anggukan kepala dari Ines.


"Yuk. Cepat!" Ines menarik tangan Cecilia, membawanya berjalan ke arah lift dengan cepat.


Cecilia mendengus, "Ada ada aja gangguan! Padahal ini kencan pertamaku."


"Sudahlah ... Kamu bisa kencan lagi nanti! Akan bahaya kalau bibi tahu kalian sedang bersama, bisa bisa dia mengamuk. Kau tahu, Irsan tidak pernah sekalipun membawa wanita masuk ke unitnya selama ini, termasuk calon Istrinya dulu, hanya kau saja Cecilia. Bahkan kalian tinggal bersama. Akan jadi aneh kan kalau bibi tahu, fikirannya tidak sama dengan kita! Bibi sangat kolot, ya maklum. Generasi tahun berapa kan." terang Ines panjang lebar saat keduanya buru buru maauk ke dalam lift. "Dan kau tahu, walaupun bibi tahu kau dan Irsan tinggal di unit berbeda tapi tetap dalam satu gedung, dia akan tetap curiga."


"Segitunya! Padahal gak apa apa kan tinggal bareng dari pada anaknya gak punya pacar, lama lama berkarat tuh orang. Atau bisa jadi gak normal. Aneh!"


"Ya gak aneh, emang bibi orangnya gitu. Orang tua zaman dulu. Tapi kalau udah sayang, beuuh pasti akan terus dia bela. Jadi kau harus sabar. Jangan keluar dulu sampai bibi pulang ok."


Cecilia mengangguk, "Ribet banget! Tapi ya udah."


"Hanya sebentar."


Lify terbuka di lantai 5, dimana unit Ines berada. Mereka berdua berjalan ke arah unit dengan cepat. Masuk dan kemudian menutup pintu dengan cepat pula.


"Kau tunggu sampai aku atau Irsan kembali, ya!"


"Oke ...!"


***


Sementara Ines kembali keluar, dia memilih kembali ke unit milik Irsan yang kini di tinggali Cecilia juga. Dan juga sudah di pindah tangankan olehnya menjadi atas nama Cecilia.


Dengan resah dia terus melihat ponselnya, sebelumnya dia mendapat telepon dari bibinya itu dan mengatakan jika dia baru saja landing pesawat.


"Gimana apanya?"


"Ya bibi! Sudah sampai mana?"


Irsan menggelengkan kepalanya, "Dia tidak menghubungiku sama sekali!"


"Ya iya ... Kenapa dia harus menghubungi anaknya yang tidak pernah sekalipun membalas pesannya atau menerima teleponnya. Kau dan bibi sama sama keras kepala." Ujar Ines yang langsung duduk di sofa. "Tunggu ... Barang Cecilia?"


"Sudah aku sembunyikan!"


Pyuh!


Ines mengebuskan nafasnya panjang, "Untung saja bibi kasih tahu aku, kalau tiba tiba dia datang ke sini dan melihat Cecilia apalagi kalian... Ah, tahu deh! Aku tidak bisa membayangkannya."


"Tidak usah kau bayangkan, dan hal itu bukan untuk kah bayangkan!"


"Ya aku tahu, kau fikir aku bodoh apa?" ujar Ines melempar bantal sofa ke arahnya. "Aku ini 27 tahun dan masih kalah jauh oleh Cecilia, dia berani mengejarmu sampai dapat. Salut aku padanya, aku harus belajar padanya tentang hal itu."


"Aku harus merapikan kamar!" Irsan masuk kedalam kamar, mencari apapun barang milik Cecilia yang mungkin saja tertinggal atau bahkan dia lupakan.


Pakaian Cecilia sudah dia amankan di dalam lemari dan menguncinya, koper miliknya juga alat alat kecantikan miliknya yang sangat banyak itu. Dia juga menyemprotkan pengharum ruangan di kamar agar parfum milik Cecilia tidak tercium.


Tak lama dia keluar dari kamar, menyiapkan hati dan mental untuk bertemu dengan ibunya yang selama ini tinggal di luar negeri, ibu kandung yang sama kerasnya dengannya, dan hubungan mereka bisa dibilang tidak harmonis.


Ibu yang melahirkannya itu selalu menginginkan Irsan menjadi pembisnis mengikuti jejak kakeknya. Selalu menganggap pekerjaan seorang Dokter itu tidak memiliki masa depan, penghasilannya tidaklah besar dengan jam kerja yang sangat padat, sewaktu waktu harus pergi karena tugas, tidak ada liburan karena harus siaga. Tidak ada waktu untuk keluarga seperti yang di lakukan oleh suaminya, ayah kandung dari Irsan sendiri.


Semenjak bercerai, Ibunya memilih tinggal jauh, ikut mengurusi perusahaan keluarga dan Irsan memilih tinggal bersama ayah dan kakeknya yang berprofesi seorang dokter.


"Bibi kenapa lama ya. Apa bibi pergi ke satu tempat dulu sebelum kemari?"


"Aku tidak tahu! Kau hubungi saja dia."


"Kau ini! Kenapa bukan kau saja yang menghubunginya, kenapa aku? Kau kan anaknya."


"Memangnya kau bukan anaknya juga. Kau juga dibesarkan olehnya. Kau saja!" tukas Irsan yang tidak mau kalah, dia masih bersikeras tidak ingin menghubungi ibunya setelah perdebatannya dua tahun lalu. Dia juga selalu mengabaikan panggilan nomor ibunya.


Sementara kursi roda melaju pelan di dorong oleh seorang perawat, disampingnya juga berjalan seorang pria tegap seusia Irsan.


"Kau yakin dengan informasi yang kau dapatkan?"


"Ya nyonya! Aku sudah memeriksanya dan itu benar."


"Baiklah! Aku sudah curiga saat melihatnya di kafe tadi, sikap wanita itu sangat berbeda. Terlebih ... Siapa namanya tadi?"


"Veronica Cecilia?"


"Usianya setengahnya dari putraku, Sus kita ke unit Ines, aku ingin bertemu dengannya sebelum aku bertemu putraku, aku harus menyiapkan diriku terlebih dahulu." tukasnya tanpa mengalihkan pandangannya.


Alih alih menuju ke unit Irsan di lantai 3, ibunya Irsan justru menuju unit dimana Ines tinggal dengan tujuan menyiapkan diri sebelum bertemu Irsan dan dipastikan kembali berdebat lagi.


Pria tegap itu mengetuk pintu, membuat Cecilia sontak kaget. "Kenapa mereka ngetuk pintu! Biasanya juga langsung masuk."


"Apa dia sudah per----"