
Irsan yang sudah berada di ruangan prakteknya di Rumah sakit berdecak setelah berkali-kali telepon genggamnya berdering, ponsel yang dia sengaja dia simpan di dalam kantong jubah miliknya yang tergantung di sudut ruangan itu terus membuat konsentrasinya terpecah.
Dua orang yang tengah duduk berkonsultasi dengannya hanya saling menatap saja.
"Dokter. Silahkan angkat dulu, siapa tahu penting!" ibu pasien sangat pengertian padanya.
Dengan sungkan Irsan mengangguk, "Mohon tunggu sebentar."
"Tidak apa Dok, silahkan." timpal pasien yang sebenarnya juga tidak berani melarang.
Dokter berlisensi internasional itu memang selalu mengutamakan pelayanan pada pasien yang datang, jadi sedikit tidak nyaman ketika pelayanannya dirasa kurang hanya karena gangguan yang tidak tidak.
Carl kini berdecak ketika melihat siapa yang menelepon, 'Ada apa Carl?'
'Irsan kau ada dimana?'
Irsan merasa tidak perlu menjawabnya, kedua alisnya pun mengernyit, satu pertanyaan yang semua orang sudah tahu jawabannya.
'Oh. Kau ada di Rumah sakit?'
'Ada apa Carl? Aku sedang sibuk.'
'Tidak ada, aku hanya ingin menyapamu saja, hari ini aku akan terbang ke Singapura. Jadi sebelu----'
Sebelum Carl menyelesaikan perkataannya, Irsan sudah lebih dulu menutup sambungan telepon itu. Merasa apa yang dikatakan Carl tidak lah penting dibandingkan dua orang yang tengah menunggunya di belakang.
"Maaf, menunggu lama!" ucapnya saat kembali duduk. Kedua orang itu pun hanya bisa mengangguk saja, toh akan percuma jika mengatakan keberatan pada seorang Dokter yang kerap dianggap dewa penyembuh.
Dering telepon kembali terdengar, kali ini dia mengabaikannya saja. Tidak ingin meninggalkan sesi konsultasi dari pasien yang lebih penting, untung saja dia sempat mengecilkan volume nada dering ponselnya tadi.
Terserah lah Carl, tidak peduli padamu, kau mau ke Singapure, atau bagdad sekalipun. Batin Irsan.
Tak lama Sesi konsultasi pun berakhir, dan kini Irsan meregangkan otot dengan menyandarkan pinggungnya di sandaran kursi. Seorang suster yang hari ini menjadi asisten praktek tengah membereskan berkas berkas rekaman medis di atas meja.
"Dok. Ku dengar Dokter Aji di pindah tugaskan?"
"Hm ... Kudengar juga begitu!"
"Apa sudah ada gantinya? Kalau belum berarti Dokter pasien yang selama ini dia pegang dialihkan kemari."
"Entahlah. Mungkin kau lebih tahu sus!" Jawab Irsan acuh.
Sebenarnya juga urusan itu sudah dia serahkan pada profesor Sam.
"Tapi Dirut sudah memberikan info kalau ada Dokter baru yang akan menggantikan dokter Aji." tukas Suster wanita yang terus membereskan berkas padahal terlihat sudah rapi.
Jujur Irsan tidak mau menjawabnya, tapi dia juga membiarkan suster itu terus bicara panjang lebar ini dan itu, mengingat pekerjaan mereka yang sedikit membosankan dan butuh hiburan. Sampai akhirnya suster memilih pergi karena merasa Dokter Irsan tidak menanggapinya sedikitpun, Dokter yang terkenal dengan ketidak peduliannya pada masalah orang lain.
"Bisa dibayangkan bagaimana perasaan istri dokter Irsan, seperti bicara dengan tembok saja!" keluhnya saat keluar dari ruangan.
Setelah memastikan tidak ada lagi pasien, barulah Irsan memeriksa ponsel miliknya. Puluhan pesan dari Carl, pesan dari Ines dan juga Cecilia, dan beberapa pesan dari nomor yang tidak tertera di kontak teleponnya. Dia hanya tertarik membuka pesan dari Istri tercinta, walau isinya tidaklah amat penting namun dia kerap tersenyum melihatnya.
Tok
Tok
Terdengar ketukan di pintu ruangan, tak lama seseorang masuk ke dalam.
"Kau ada waktu?"
"Dokter Sita. Silahkan." ucap Irsan yang menyimpan ponsel di meja. "Ada apa?"
"Kau tahu apa alasan profesor Sam memindahkan suamiku ke Rumah sakit lain?" tanyanya saat menghempaskan bokongnya di kursi di hadapan Irsan, "Menurutku ini aneh, kenapa dia dipindahkan secara tiba tiba tanpa surat peringatan." ujarnya lagi.
Irsan menghela nafas, "Apa masih perlu memberikan surat peringatan padanya? Kau tahu seperti apa suamimu. Jadi bersikaplah profesional Dokter Sita."
"Ya ... Aku tahu itu! Tapi prosedur tidak seharusnya seperti ini."
"Apa masih harus menunggu keluhan dari pasien?"
"Menurutmu apa pantas seorang dokter yang tidak bisa menghargai orang lain masih dipertahankan di Rumah sakit ini? Dedikasi kita dipertaruhkan di sini. Jika suami saja tidak menghargai profesinya sendiri. Siapa yang di rugikan?"
"Maaf kenapa Dokter Irsan sentimentil seperti ini? Apa Dokter tahu sesuatu?"
"Tidak penting bagimu aku tahu atau tidak! Kau sendiri lebih tahu suamimu Dokter. Jadi, jangan mempertaruhkan pekerjaanmu sebagai dokter Anestesi terbaik di Rumah sakit ini hanya karena suaminya tidak kompeten. Aku rasa profesor Sam sudah menimbang hal ini dengan bijaksana." ungkap Irsan dengan tenang dan datar seperti biasanya.
"Ya ... Aku tahu, tapi dia suamiku!"
"Ya, aku tahu dan aku tidak pernah meragukan itu. Dia pasti suami yang baik dan ayah yang baik. Tapi maaf Dokter Sita, dia bukan Dokter yang baik!"
Sita terdiam, dia terlihat menggigit bibirnya dengan wajah yang terlihat sedih.
"Dia hanya dipindah tugaskan. Bukan meninggalkanmu kan?"
Namun Sita tidak mengatakan apa apa, dia hanya mengangguk lalu beranjak pergi meninggalkan Irsan.
Irsan yang datar dan lempeng itu hanya bisa menatapnya. Dokter Sita memang lebih pendiam dibandingkan dokter yang lain apalagi Dokter Aji. Tapi Dokter Sita menjadi Dokter Anestesi terbaik yang dia akui.
"Aneh, kenapa sifat Aji tidak menular padanya!" desisnya dengan kedua bahu yang dia angkat.
Tak lama kemudian pintu kembali terbuka, kali ini yang datang adalah dokter yang paling tahu bagaimana dirinya.
"Kau mengatakan apa pada Dokter Sita? Dia datang ke ruanganku dan menangis setelah dari ruanganmu!"
"Astaga ... Kenapa hari ini orang orang semua aneh. Tidak di rumah dan tidak di sini."
"Ya aku ingin tahu, Dokter Sita terguncang karena suaminya dipindah tugaskan secara tiba tiba!"
Irsan bangkit dan segera memakai jubah putih kebanggaannya.
"Bukankah Dokter Sita ke ruanganmu?"
"Ya ... Dia masih berada di ruanganku sekarang."
"Kalau begitu kau kembali ke ruangan mu dan tanya padanya langsung kenapa dia menangis? Bukan datang kemari dan bertanya padaku." ujarnya lalu melangkahkan kaki keluar dari ruangan.
"Astaga ... Sudah menikah tapi masih tidak berubah juga! Apa Cecilia tahan hidup dengan orang seperti itu!" cicitnya dengan menatap pintu yang kini tertutup.
Irsan melangkah ke station Nurse, kunjungan kamar sebentar lagi, dia harus tahu kamar mana saja yang harus dia kunjungi.
"Dokter Irsan?"
"Ya ...?"
"Di depan UGD ada keributan! Kami tidak bisa masuk ke sana karena takut." ujar seorang suster dengan wajah paniknya.
"Ribut?" Irsan masih santai dengan memeriksa monitor dimeja Nurse.
"Iya Dokter, padahal ada pasien yang harus segera di bawa!"
"Panggil securty! Kenapa memanggilku."
"Orang itu justru ribut dengan dua security kita, Dokter!"
Irsan baru menoleh ke arah samping, dan mendengus lalu beranjak pergi ke ruang UGD. Benar saja, keributan masih terjadi. Seorang pria dengan dua security dan terus berargumen, tampak pria itu membawa sesuatu di tangannya. Irsan menghampiri ke arah mereka.
"Apa yang terjadi!"
.
.
Apa apa ... Wey, ada apa. Wkwkw othor suka keributan. Hihihi
Jangan lupa terus dukungannnya Cecelover