I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.275(Tanpa gangguan)



Othor lagi dilema ... Mengenai Nita yang pengen othor boyong lagi ke mari karena adanya satu dua hal. Tapi othor lagi nunggu kata editor othor apa, takut di kira nanti kecurangan. Aaahh ... Emang nih banyak tingkah gue, kalah sebelum perang ... Banyak melipir sana sini. Wkwkw jangan di ikutin yaa .., jangan.


Mungkin kalau udah ada jawaban dari editor yang pegang naskah gimana gimana nya ya nanti ya, palingan othor bawa tipis tipis dulu yaa ... Semoga bisa di boyong sambondoroyot nanti. Wkwkwk.


Dah lah curhat mulu kan gue ... Kangen Cece gak sih .. Knagen pasti yaa... cus lah ... gue terlalu banyak baceprot.


.


.


nb. Kalau agak agak lupa baca ulang dari bab sebelumnya deh ya.


.


Lagi lagi gadis yang kini berada dalam kungkungan Irsan pun tidak dapat mengelak apalagi mencari alasan. Jangankan jalan jalan di sekitar villa, makan siang pun diantarkan pula ke dalam kamar.


"Ini sih bener bener hari membuat anak, kamu gak mau ajak aku kemana gitu, cari angin kek, jangan kan buat bikin party, minuman aja gak ada. Yang ada apa ini, kiriman ibu terus dari kemaren, aneh ... Mana tahu lagi ibu kita kemari." ujarnya dongkol dengan segelas ramuan hebal yang sengaja di kirim embun langsung ke villa yang kini mereka tempati.


"Kau fikir ibu tahu dari mana?" tanya Irsan yang menatap punggung polos dari atas ranjang, kulit putih nan mulus yang terlihat di balik pajama berwarna putih yang merawang.


Cecilia menoleh ke arah belakang dimana suaminya itu bersandar dengan dada bidang tlyang terekpos begitu saja, hanya selimut yang dipakainya menutupi bagian perut ke bawah.


"Mana aku tahu, kamu pasti yang kasih tahu!"


"Tidak ... Aku tidak memberitahu ibu."


"Lah terus siapa. Atau mungkin kak ines?"


"Mungkin juga, hanya dia dan Tristan yang tahu kita di sini."


"Benarkah?"


Irsan mengangguk dengan pasti, lalu bangkit dan menarik tubuh istrinya dan kembali mengkungkungnya di bawah selimut.


Gadis itu berteriak, "Hei dasar dokter gila, doyan juga ternyata. Ini ramuan aja masih di tenggorokan , belum nyampe ke usus besar." ujar Cecilia yang mendorong tubuh Irsan dengan sekuat tenaga, lalu dia bangkit dari menjauh.


Sementara Irsan terkekeh dengan menghempaskan tubuhnya menjadi terlentang.


"Aku mau jalan jalan ... Kalau kamu gak mau, tunggu aja di sini, aku bosan mau pergi." tukas Cecilia yang melenggang masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinyn.


"Gadis itu ... Benar benar tidak pernah menuruti apa kataku!" ujar Irsan dengan tersenyum tipis melihat sang istri masuk ke dalam kamar mandi.


Tanpa Irsan sangka, Cecilia menyembulkan kepalanya keluar, "Karena buat aku larangan itu perintah,"


"Dasar kau ini!"


Tawa membahana terdengar dari dalam kamar mandi, sementara Irsan lagi lagi hanya bisa terkekeh dan menggelengkan kepalanya saja saat melihat tingkah sang istri yang selalu ekspresif dengan tingkah yang dia inginkan dan selalu jadi diri sendiri.


Tidak lama dia keluar dari kamar mandi, dengan hanya mengenakan bathrobe dengan handuk kecil yang menggulung rambutnya ke atas.


"Ya tuhan, mas Dokter jadi mesum gini, padahal dulu enggak lho." Cecilia mengerling ke arahnya, sedikit menggigit bibir bagian bawahnya dan membalas tatapan Irsan.


"Ah ... Hentikan itu jika kau tidak mau bermain sayang."


Cecilia tertawa, "Gila ya ... Orang yag tadinya pendiam itu ternyata lebih bahaya dibandingkan siapapun."


Irsan bangkit dari ranjang, dengan selimut yang dia lilitkan pada pinggangnya.


"Siapa yang mengatakan hal itu hm? aku bukan mesum ... Ini wajar karena kau istriku, kalau bukan ... Mana mungkin aku bersikap sefrontal ini." terangnya dengan memeluk Cecilia dari arah belakang.


"Kau benar ... Mana ada kamu kayak gini dulu." ujarnya mengenakan dress sabrina begitu saja di depannya tanpa rasa malu sedikitpun. "Yang ada aku yang capek ngejar ngejar kamu. Sampai ngelakuin hal gila sekalipun."


Irsan mengulas bibirnya, mengecup pundak mulus yang terpangpang nyata milik Cecilia.


"Aku hanya bisa melakukan hal ini padamu." desisnya lembut, bahkan hembusan hangatnya menerpa tengkuk Cecilia dan tiba tiba meremang dibuatnya.


"Ya... Awas saja kalau kamu melakukannya pada orang lain, kamu fikir aku akan biarkan itu terjadi. No way ya ..." ujarnya gelagapan katena menahan dirinya agar tidak terpancing, sudah sejak pagi dan dari pertama datang mereka hanya sibuk beradegan ranjang saja tanpa melakukan hal yang lain dan Cecilia sudah bosan.


"Tentu saja, kau fikir aku bisa melakukannya dengan orang lain. Kau fikir aku semurahan itu."


Kini Cecilia berbalik ke arahnya, dia juga mengalungkan kedua tangan padanya. "Gak apa apa bersikap murahan, tapi hany padaku. Ngerti mas Dokter?"


Irsan berdecak saat Cecilia mengurai kedua tangannya dan kembali sibuk merias iri denagn bergerak kesana kemari karena alat make up dan juga pakaiannya saja masih berada di dalam koper.


Tanpa bosan Irsan hanya bisa menatap gadis yang terus bergerak lincah tanpa lelah, padahal sudah berapa kali dia menggempurnya sejak tadi, dan saat ini malah bersikeras ingin pergi.


"Aku pergi ya .. Deket deket sini kok ... Itu juga kalau kamu gak mau ikut." Tukasnya dengan mengerdikkan bahu.


"Aku harus mandi dulu ... Tunggulah sebentar." Irsan masuk ke dalam kamr mandi.


"Nah gitu dong, dari tadi kek ..."


Dalam guyuran air yang terasa sangat dingin, Irsan mulai heran kenapa ponselnya sejak tadi tidak berdering, tidak ada notifikasi yang masuk padahal daya ponsel selalu dia pastikan penuh data yang tidak pernah kekurangan sedikitpun. Tidak seperti milik Cecilia yang terus berdering sejak tadi, bahkan sejak awal kedatangannya dan juga saat mereka sibuk di atas ranjang.


Sepertinya ada yang aneh hari ini, biasanya selalu saja ada informasi yang di kirim ke surelnya, atau bahkan pesan pesan singkat dari para suster yang minta bantuannya, juga para dokter yang minta arahan padanya. Selama menjalani profesi sebagai dokter, hanya hari ini yang menurutnya hari yang sepi tanpa ada satu pun yang mengganggunya karena mungkin mereka tahu dia sedang cuti tapi ini begitu aneh baginya.


Masih di bawah kucuran air yang mengair segar dari shower, me.buat fikirannya juga menjadi segar dan mampu berfikir dengan tenang. Hingga akhinya dia memutuskan menyudahi ritual bersih bersihnya dan segera keluar.


"Sayang .. Kau lihat ponselku?" ujar Irsan saat baru saja keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya.


"Ponsel? Enggak tuh, bukannya tadi kamu sakuin?" ucap Cecilia yang setia menunggunya di dekat sofa dengan bermain ponsel miliknya. "Emangnya kenapa. Bukannya bagus, jadi gak ada yang bisa hubungi kamu dan nyuruh kamu balik ke rumah sakit." ujarnya lagi tanpa acuh.


"Justru itu .. Aku hanya ingin mengecek saja." ujar Irsan yang mengenakan pakaian yang teronggok di tepi ranjang. Dia menoleh ke arah Cecilia. "Apa aku harus memakainya?"


"Ya tentu ... emangnya kenapa, ini seru ... Kita ini bulan madu gak bisa jauh jauh tapi seenggaknya kita bikin seru dengan baju samaan gini kan, masih untung punyamu cuma kaos oblong, bukan sabrina kayak aku juga kan."