
Irsan kembali ke rumah sakit setelah dari restoran mall baru itu. Wajahnya memerah karena terus membayangkan Cecilia yang terus berulah dan membuat masalah, berkeliaran di dekatnya dan membuatnya sulit bernafas.
Marah? Tentu saja, emosinya akan meningkat drastis jika berkaitan dengan Cecilia, namun entah kenapa. Alih alih menghindar saat bertemu, dia juga justru serba ingin ikut campur dalam masalahnya.
"Kenapa aku terus membayangkan gadis jalaang itu, bahkan membantunya! Harusnya aku pergi dan tidak usah peduli saat melihatnya, dia hanya sumber masalah." ucapnya dengan mengendorkan dasi yang melilit di kerah kemejanya. Nafasnya terasa sesak, atau dia sendiri yang terlalu kencang memasangkannya.
"Dokter tidak apa apa?" Seorang suster membuka pintu dan mengagetkannya.
"Ah ... Kau! Membuat kaget saja!" Irsan menghempaskan tubuh di kursi miliknya. Menyimpan kaca mata yang bertengker di pangkal hidungnya serta memijitnya pelan.
"Butuh sesuatu?"
"Tidak! Aku hanya istirahat sebentar, apa dokter Aji sudah datang?" tanyanya pada suster yang kini tengah membereskan berkas berkas pasien di meja Irsan.
"Sudah, dia sudah menunggu dari tadi."
"Hm ...!" gumamnya dengan menganggukkan kepalanya sekali. "Beritahu aku jika jam prakteknya sudah selesai." sambungnya lagi.
"Baik Dok! Kalau begitu aku permisi." Suster membuka pintu, dan melihat Dokter Aji telah berdiri di hadapannya. "Dokter Aji. Kabetulan, beliau sudah datang dan menunggumu." sambungnya lagi.
Dokter Aji mengangguk, dia mundur beberapa langkah untuk memberi jalan. Setelahnya dia baru masuk ke dalam.
"Sampai kapan kau akan terus begini Irsan?" serunya sambil mendudukkan bokong di kursi.
Irsan pura pura tidak mendengar, dia memejamkan kedua mata dengan kepala yang disandarkan disandaran kursi.
"Apa gajimu sebagai dokter kurang? Kenapa kau selalu berkeliaran hanya untuk jualan kopi." seloroh Aji dengan melipat kedua tangan di dada, menatap rekan satu profesi yang juga sahabatnya.
Irsan berdecih, namun dia tidak mengeluarkan satu kata pun, bahkan tidak mengubah posisinya sedikitpun.
"Kau tahu? Kau sudah menjadi pusat perhatian seluruh pegawai di rumah sakit, dan sebentar lagi. Mungkin para petinggi di rumah sakit ini akan menegurmu. Dan saat itu aku tidak bisa membantumu lagi."
Irsan membuka mata dan menatap Dokter Aji yang duduk di hadapannya, dia juga mencondongkan tubuhnya dengan kedua sikut yang bertumpu di meja.
"Kau terlalu banyak bicara, seperti ibu ibu saja. Kau ingin meninggalkan penjual kopi ini?" Irsan kembali berdecih, "Lucu sekali jika hanya gara gara menjual kopi, para penguasa di rumah sakit ini menegurku. Tidak ada larangan seorang Dokter berjualan kopi, toh aku tidak berjualan saat operasi kan? Atau berkeliling ruangan dengan membawa kopi buatanku."
Aji berdecak, "Astaga ... Lihat ucapanmu! Berandal tua."
"Heh kau bilang apa barusan? Berandal tua." Irsan melemparkan bolpoin ke arahnya. "Aku hanya sedang bosan dengan pekerjaanku di sini, biarkan aku bersenang senang dengan hobiku membuat kopi." ketusnya dengan kembali melempar bolpoin ke arah sahabatnya.
Aji mengambil dua bolpoin yang dilemparkan Irsan lalu menyimpannya kembali di atas meja dengan terkekeh. "Makanya carilah istri atau minimal pacar yang bisa kau ajak main main, haruskah aku mengatur kencan buta untukmu?"
Irsan bangkit dari duduknya, berdiri menatap keluar jendela kaca dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celananya.
"Menurutmu?"
"Oh ayolah, kali ini akan beda dari yang lain, aku akan atur waktunya. Dan kali ini aku harap berhasil, hati mu yang sedingin gunung es cepat mencair. Lebih tepatnya lagi, kau sendiri yang harus berusaha mencairkan hatimu." Aji terkekeh, "Ini usahaku yang ke 52 kalinya. Aku harap wanita ke 53 ini cocok denganmu."
Aji bangkit, dia terus terkekeh sampai dia sendiri menghilang di balik pintu. Irsan menghela nafas. Sulit baginya mencari seseorang yang cocok dengan hatinya setelah seluruh hati dia berikan pada seseorang.
***
Cecilia keluar dari lift, menenteng kantung berisi make up yang dia curi. Tidak ... Tidak, dia sudah membayarnya, bahkan berlipat ganda dengan rasa malu saat ketahuan Irsan.
"Gue bego! Gimana sih bisa bisanya Irsan ada di sana, mana sekarang dia tahu keahlian gue yang lain lagi." gumamnya dengan menepuk kepalanya sendiri.
"Jadi lo bersenang senang dan menghambur hamburkan duit sementara gue kesulitan?" seru Dirga yang berdiri mematung di depannya.
Langkah Cecilia terhenti, dia menatap Dirga yang berantakan itu dengan tajam. "Iya ... Terus lo mau apa? Duit duit gue, kenapa lo repot. Mau gue hambur hamburkan atau enggak bukan urusan lo lagi."
"Lo blokir kartu kredit gue! Lo blokir akses gue. Itu jadi urusan gue brengsekk!"
Cecilia kembali berjalan, dia tidak peduli pada Dirga yang menatapnya tajam. Namun Dirga menarik lengannya hingga langkahnya kembali berhenti.
"Ce ...!"
"Apa? Lo sendiri yang bikin gue jadi begini, lo gak malu sekarang ngerengek rengek soal duit sama gue?"
"Gue butuh duit sekarang Ce ... Please kasih gue! Gue butuh banget."
"Buat apa? Beli barang gak guna itu! Otak lo udah rusak Dirga, makin rusak karena lo make barang itu!" sentak Cecilia, dan dugaannya benar jika Dirga memakai barang terlarang seperti yang dikatakan Irsan, bahkan segala tindakannya dibawah pengaruh obat obatan itu, namun Cecilia tidak menyadarinya dengan cepat.
"Mending lo rehab Dir! Dari pada lo nanti nyesel."
Brak!
Dirga mendorong Cecilia hingga tubuhnya terhuyung dan menabrak tong sampah di belakangnya, kantung berisi make up berserakan keluar.
"Aaww ...!!"
"Gue gak butuh nasihat to lol dari lo, gak guna! Gue butuh duit, gue butuh barang itu!" ujar Dirga merebut tas dari Cecilia.
"Dirga! Anj ... lo gak ada hak buat ambil duit gue!"
"Gue gak peduli!"
Dirga mengambil dompet milik Cecilia, mengambil uang cash yang hanya tinggal beberapa lembar di dalamnya. "Gue balikin nanti kalau gue udah ada duit, lo tenang aja."
"Brengsekk lo Dirga!!"
"Menurut lo cuma gue yang brengsekk? Lo sendiri?" ujarnya dengan melemparkan dompet tepat di wajah Cecilia.
"Lo pelacurr dan lo sama brengsekknya dengan gue!"
Dirga beranjak pergi meninggalkan Cecilia yang bahkan masih terduduk di lantai, dia menghela nafas berat dengan menatap Dirga yang melambaikan tangan ke arahnya sembari masuk ke dalam lift.
"Itu duit terakhir gue!!"