
Embun termangu menatapnya. Apa yang dikatakan Cecilia membuatnya terdiam, berapa kali dia berusaha menghubungi Irsan dan berapa kali dia mencoba membujuknya pula namun tidak satupun berhasil. Yang ada hubungannya semakin merenggang saja.
"Cih ... Kau hanya mengada ngada. Siapa kau sampai bisa melakukan hal itu. Kau hanya gadis tidak tahu diri yang punya banyak masalah dan juga pintar membual, ku dengar juga orang tuamu hanyalah pengangguran dan miskin!"
"Untuk apa aku bicara gitu! Gak ada untungnya, lagian ya Ibu Embun yang terhormat, kenapa aku harus melakukan hal kayak gitu kalau aku ini gak tahu diri, aku harusnya emang terima aja uang yang Ibu tawarkan kemaren itu sekalian, kalau perlu aku minta dengan harga yang tinggi. Untuk apa aku terus bicara pada orang yang bahkan gak mau mengerti anaknya sendiri." Cecilia mulai kehilangan kendali hanya karena ucapan sarkas Embun yang menyeret keluarganya. "Dan iya aku dari keluarga miskin dan pengangguran, aku gak pernah mengaku ngaku kaya hanya untuk mendapat perhatianmu bu." Ujarnya lagi lalu berjalan untuk mengambil 2 koper miliknya, masih belum puas dengan semua yang dia katakan, dia pun kembali berbalik. "Asal ibu tahu, aku ... Veronica Cecilia. Bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dan lebih kaya sekalipun dari anakmu yang hanya seorang dokter dan memiliki ibu sepertimu!"
"Cih! Apa kau tahu kenapa dengan mudahnya anakku itu memberikanmu satu unit di apartemen ini?" Embun bangkit berdiri sembari berdecih. "Apa kau tahu gedung apartemen ini milikku. Hm?"
Cecilia terbelalak sempurna saat mendengarnya, What ... Apartemen ini punya dia, itu artinya ini juga punya Irsan?
"Kau memang tidak tahu atau berpura pura tidak tahu kalau selama ini kau berhubungan dengan putraku yang jelas jelas memiliki uang. Dan aku yakin kau hanya berpura pura tidak tahu!"
"Aku memang tidak tahu! Aku hanya tahu kalau dia seorang Dokter dan memiliki coffe shop, ternyata dia juga pintar menyembunyikan semuanya."
Embun tergelak, "Kau kaget? Atau hanya pura pura kaget di depanku."
"Terserah Ibu saja! Yang pasti aku memang tidak tahu dan baru tahu sekarang,"
"Apa kau juga benar benar tidak tahu kalau dia juga pemilik rumah sakit?"
Cecilia yang kepalang kagetpun semakin tercengang saja saat mendengarnya. Pantas saja jika Irsan tidak takut jika bertemu Profesor Sam karena dialah pemiliknya.
"Kau tidak menyangkanya bukan. Atau kau senang mendengarnya?"
"Aku senang mendengarnya!" ujarnya dengan mengambil dua koper miliknya dan menggeretnya.
"Tapi aku memilih anakmu bukan dari apa yang dia miliki, tapi dari apa yang dia lakukan untukku, dari apa yang dia ajarkan padaku. Kau fikir aku peduli? Aku bahkan bisa memiliki semuanya jika aku mau. Itu mudah, sangat mudah. Tapi aku gak akan melakukannya karena aku benar benar mencintainya."
Cecilia menggeret koper koper miliknya, dia melangkah ke arah pintu dengan fikiran yang benar benar tidak menyangka, bingung juga tentu saja shock. Dia tidak pernah menyangka sejak awal, bahkan dia selalu berfikir jika uang Irsan sangat terbatas.
"Kau tahu ibu, sekarang aku paham keputusan Alisa memilih uangmu dan pergi dari Irsan. Semua bukan tentang Irsan dan perasaannya, tapi Alisa gak mau memiliki ibu mertua macam dirimu. Yang tidak mengerti dan paham keinginan anaknya, yang tidak mau peduli sama sekali, bahkan gak mau anaknya bahagia, Orang tua egois, kau lebih memilih anakmu sendirian seumur hidup karena tidak akan ada yang tahan menghadapimu dan juga membuatnya kesepian sepertimu." Ujarnya lalu beranjak pergi.
Embun terdiam sampai melihat pintu apartemen tertutup dan Cecilia menghilang dari pandangannya. Hatinya jelas sakit dengan tuduhan tuduhan yang Cecilia lontarkan. Membuat Irsan menjadi kesepian sama dengannya.
***
Sementara Ines yang tadinya lega mendengar Embun yang tidak datang ke unit apartemen kini tersengal sengal karena harus berlari dari basement menuju ke arah lift yang berada di lobby apartemen. Dengan cepat dia menekan nekan tombol pada pintu lift agar terbuka.
"Sialan tuh si Toni, dia yang bilang padaku kalau bibi akan pulang ke rumah dan membuatku lega. Tapi sekarang apa, dia bilang bibi berubah fikiran dan sudah berada di unit. Terlambat sedikit saja, aku pasti kena masalah besar dari si Irsan." gerutunya pada pria yang bahkan tidak ada disana, "Awas aja kalau aku bertemu Toni, ku maki maki dia."
Setelah panggilan telepon dengan Cecilia terputus begitu saja, kini dia harus memastikan bahwa Embun tetap berada di unit dan Cecilia tidak kesana sendirian. Walau Ines tahu jika Cecilia benar benar gadis yang berani menentang Embun secara terang terangan, dia bahkan berani mengerjainya.
Ting
Lift terbuka, Ines masuk kedalam lift dan menekan tombol nomor 3. Dia juga berusaha menghubugi Irsan untuk memberitahunya.
"Semoga diangkat ... Angkat Irsan!" desisnya dengan ponsel yang menempel di lubang telinga.
Panggilan tidak juga terangkat, entah berapa kali dia kembali mendial nomor Irsan namun tetap dengan hasil yang sama. "Nih orang pasti di rumah sakit!"
Ting
Lift terbuka, Ines kembali berlari menuju unit yang kini ditinggali oleh Cecilia. Dia bergegas agar segera sampai.
Deg
Ines melihat Cecilia menggeret koper keluar dari unitnya. Dia pun semakin bergegas menuju ke arahnya.
"Cecilia. What happen?"
Cecilia menatapnya dengan tajam, kalau Irsan memiliki banyak uang, berarti bisa saja mobil yang dia berikan pada Ines hanyalah salah satu dari mobil koleksinya. Terlebih sudah berapa kali Irsan bergonta ganti mobil dan selalu mengatakan jika dia hanya meminjam mobilnya.
"Cecilia?"
"Apa? Katakan pada Irsan untuk gak nyariin aku. Urus saja ibunya dan aku gak mau lagi lihat orang yang suka berbohong itu." Sentak Cecilia pada Ines.
Gadis itu melenggang pergi meninggalkan Ines yang tidak tahu masalah yang terjadi sebelumnya di dalam, yang jelas pasti keduanya sudah bertemu dan kembali berdebat.
Cecilia masuk kedalam lift dengan menghembuskan nafasnya berat. Dia kesal kenapa Irsan harus berbohing padanya tentang siapa dirinya.
"Emang kurang ajar! Dia bikin aku kayak orang bego," ujarnya dengan menekan tombol lift dengan kesal.
Sementara Ines berlari mengejarnya namun sayang karena lift sudah lebih dulu tertutup.
Cecilia bahkan merasakan kedua matanya menjadi perih tiba tiba, tanpa terasa air matanya berkumpul di ujung pelupuk dengan hidung yang sudah memerah menahan sesuatu agar tidak tumpah saat itu juga.
"Sial ... Harusnya kan gue seneng kalau ternyata pacar gue itu kaya raya, hidup mewah dan uang yang selama ini gue cari. Tapi kenapa gue malah nangis dan sedih!"