I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.61(Gara gara gue!)



Irsan melajukan mobilnya menuju kantor polisi, dia ingin tahu bagaimana proses hukum yang akan di lalui Dirga, sebagai pelapor, tentu dia harus tahu sampai mana kinerja polisi. Terutama polisi sudah menghubunginya tadi dan memberitahukan jika Dirga sudah mereka bawa ke kantor polisi untuk di mintai keterangan terkait penyalah gunaan obat obatan terlarang.


Dan yang tidak disangka olehnya sendiri adalah Cecilia terang terangan mengatakan dia masih peduli pada pria yang bisa saja menghilangkan nyawanya pada hari itu jika dia tidak datang tepat waktu. Itulah sebabnya kemarahannya yang mulai reda justru kembali tersulut.


"Aku tahu dia sangat jujur dan ekspresif terhadap perasaannya sendiri! Dan dia tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, bahkan aku sendiri." katanya pada diri sendiri sambil mengemudikan kendaraan roda empat miliknya. "Kenapa aku bisa segila ini hanya karena dia! Dia membuatku frustasi tapi juga jatuh cinta secara bersamaan. Benar benar gila!" gumamnya lagi.


Drett


Drett


Panggilan dari rumah sakit terus berdering, sekilas dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu menepikan mobilnya.


"Aku bahkan baru pergi 10 menit!" desisnya kesal.


Dia mengambil ponsel lalu menghubungi Dokter Aji untuk menggantikan jadwal prakteknya.


'Mana bisa begitu! Aku punya jadwal sendiri!'


'Hanya sekali ini, aku benar benar harus pergi!'


'Kau ingin menyusul gadismu yang terlihat kesal saat keluar dari ruanganmu tadi?'


'Ya!'


'Oke! Baiklah, kali ini saja aku akan membantumu, me---'


Tut


Irsan menutup sambungan ponsel disaat Aji belum selesai bicara, dia langsung melemparkan ponselnya ke atas dasboard mobil begitu saja setelah dokter Aji mau membantunya karena dia ingin pergi menyusul Cecilia yang sedang marah.


"Kurang ajar si Aji! Dia tidak tahu kalau aku yang sedang marah gara gara ulah gadis itu! Lama lama aku bisa terkena hipertensi karena selalu emosi gara gara dia." gumamnya dengan kesal.


Tak lama kemudian mobil berhenti di kantor polisi, dia turun dan langsung masuk kedalam, seorang petugas menyanbutnya karena sudah tahu dia akan datang.


"Bagaimana pak?"


"Kita bicara di ruanganku?"


"Tapi dia tidak tahu yang melaporkannya adalah aku bukan?"


"Tidak! Kami masih memeriksanya di ruang penyidik! Tapi dia tidak mengakui kalau dia pengedar, dia membelinya hanya untuk konsumsi sendiri saja."


"Hm ...!"


"Tapi kami masih melakukan pengembangan lagi!" ucap kepala polisi yang saat ini tengah berkoordinasi dengan badan narkotika.


Keduanya masuk kedalam ruangan, Irsan duduk didepan sebuah jendela kaca yang bisa melihat Dirga tengah di periksa oleh penyidik, raut wajah tampannya sangat datar, dia pun menjawab pertanyaan penyidik dengan tenang. Membuat Irsan mengernyitkan dahinya.


"Apa dia setenang itu?"


"Ya ... dia bahkan kooperatif dalam menjawab semua pertanyaan penyidik! Penyelidikan sementara memang dia hanya mengkomsumsinya sendiri."


"Benarkah?"


"Ini?"


"Ya ... Riwayat psikiater."


"Apa dia memiliki masalah kejiwaan? Apa harus mendatangkan psikiater?"


"Itu memang hal yang berbeda selama dia bisa menjawab pertanyaan dari penyidik, masalahnya dia sangat kooperatif. Tapi memiliki riwayat kejiwaan. Aneh bukan? Ini yang akan kami kembangkan lebih lanjut. Tapi untuk kasus penyalah gunaan narkotika, sebagai pemakai tentu dia hanya akan menjalani rehabilitasi. Untuk saat ini kami masih menunggu kabar dari keluarganya." terang kepala polisi dengan panjang lebar.


Irsan mengangguk anggukan kepalanya, mungkin benar Dirga memiliki riwayat kejiwaan karena beberapa kali dia melakukan kekerasan terhadap Cecilia, tapi juga Cecilia masih bisa sedikit peduli padanya.


"Apa ini maksud dari perkataannya tadi!" gumamnya sendiri.


Setelah beberapa lama mereka mengobrol, akhirnya Irsan pergi dari kantor polisi. Dengan semua pertanyaan dan segala kemungkinan yang dia dapat dari polisi dan juga hasil pengamatannya sendiri.


"Sepertinya memang tidak sesederhana itu!" gumamnya saat melajukan mobilnya dan kembali ke rumah sakit.


***


Cecilia menunggu Nita diluar gedung universitas, alih alih masuk lagi ke dalam dan mengikuti materi kelas teeakhir. Dia lebih memilih untuk menunggu, bahkan rela menunggu setengah jam sampai kelas berakhir dan Nita keluar dari sana.


'Nit mobil lo taro aja di kampus! Gue ada di depan.'


Usai mengirimkan pesan itu ke Nita, Cecilia menyandarkan punggungnya di seat mobil dengan mengambil sebatang rokok yang dia simpan di dalam kotak dasboard mobilnya. Menyetel musik lalu memejamkan mata.


"Hidup harus dinikmati, apalagi masa muda gak akan keulang dua kali! Sebelum gue tobat nanti." gumamnya terkekeh.


Tak lama kemudian kaca mobil diketuk, Cecilia menoleh dan melihat Nita.


"Buka woi ... Elah molor aja lo! Kapan pinternya." ujarnya dengan masuk dan melemparkan satu buku tebal pada Cecilia. "Tuh buku lo! Lo beli beli beli terus buku, dibaca kagak lo! Gue kasian sama negara kita kalau nanti psikolog kayak lo di kasih surat izin praktek!" ucap Nita dengan tersungut.


"Elah sok banget lo mikirin negara kayak yang iya aja lo!" Cecilia terkekeh dan langsung mengemudikan mobilnya, "Lagian nih ya, buku setebel ini mah gue bisa baca cuma semalem doang!" ujarnya lagi dengan terbahak bahak.


"Serah deh! Yang pasti gue gak bisa bantu kalau nanti ujian semester! Lo mau lulus mau enggak kek. Yang oasti gue bakal lulus dan hidup lebih baik. Sukur syukur kayak Si Nia yang sekarang di luar negeri. Gak kayak lo Madesu. Alias masa depan suram." cibir Nita dengan terkekeh.


"Eeeh sialan lo ngadi ngadi kalau ngomong! Gue gak bisa konsentrasi Nit kalau pun gue masuk kelas, masalah si tiang listrik yang gak kelar kelar itu ditambah nih ya ... Lo tahu apa?" Nita mengerdikkan bahu, "Yang laporin Dirga itu dia. Anjim kan!"


"Lah ... Terus?"


"Ya terus gimana Nit? Lo malah nanya gue. Ya pasti gue kebawa bawa lah."


"Ya udah lo tinggal cerita aja gampang kan!"


"Heh dodol ... Itu udah pasti kalau udah ketahuan polisi pasti gue cerita! Apalagi kalau mereka tahu kenapa si Dirga jadi gitu."


Nita menghela nafas, sedetik kemudian menyipitkan kedua matanya. "Ya bukan salah lo juga Ce ...! Itu emang udah nasib, suruh siapa dia belain lo dulu, yang penting lo udah gak make lagi kan?"


Cecilia menggelengkan kepalanya, mengingat masa masa dimana dia terperangkap dalam lingkaran setan dan berjibaku dengan dunia narkotika.


"Gue udah enggak Nit! Sueerrr lo tahu sendiri lah, tapi si Dirga....!" Cecilia menghela nafas saat ingatannya semakin kembali ke tahun dimana tahun itu adalah tahun terburuk baginya. "Gue yang bikin si Dirga jadi pemake Nit! Gara gara gue kan itu."