I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.246(Alarm kebakaran)



Cecilia bersikeras, mengabaikan kemarahan irsan kala itu tidak berguna dia tidak ingin dilarang larang apalagi dicegah. Setelah gulungan kain basah oleh bensin Cecilia menyalakan pematik api yang dia temukan disaku jaketnya. Suatu kebetulan yang sangat menguntungkan. Hingga gulungan kain itu terbakar dengan cepat.


Dengan cepat gadis itu naik ke atas besi penyangga yang berada di gerbang lalu melemparkan potongan kain yang terbakar itu tepat di teras rumah. Apinya tidaklah besar, namun cukup berguna untuk menyalakan alarm kebakaran.


Irsan meraup wajahnya dengan kasar, melihat kelakuan istrinya yang sangat diluar nalar. Perbuatan yang tidak patut dilakukan dan juga membahayakan, tidak hanya akan mengganggu kenyamanan sang empunya rumah juga kenyaman lingkungan perumahan elite itu. Namun irsan tidak bisa mencegahnya begitu saja, api yang menyala membakar gulungan kain kini sudah padam dan asap yang mulai membumbung tinggi hingga sampai pada lubang lubang kecil diatas plafon rumah.


Cecilia turun dan terkekeh saat usahanya berhasil, bunyi alarm kini menyala, disertai air yang tiba tiba muncul dari tempat yang sudah dipasang sebaik mungkin oleh Carl. Tapi bukan hanya itu saja, kini Cecilia harus menghadapi kemarahan Irsan yang terus menatapnya.


Bunyi alarm yang terus bergaung itu cukup menjadi perhatian irsan, dia terus memperhatikan jalanan yang sepi itu dan bersiap siap jika terjadi sesuatu.


"Kau membuat masalah besar sayang." tukasnya menarik tangan Cecilia dan juga membuka pintu mobil lalu menyuruhnya masuk ke dalam.


"Masuk! Jangan membantah lagi!"


keduanya cukup memantau apa yang terjadi didalam mobil saja, Cecilia terus terkekeh sementara Irsan masih panik sendiri dengan terus melihat ke arah teras rumah Carl, air memang sudah mematikan api dan juga asap dari potongan kain yang tidaklah besar itu, namun bunyi alarm kebakaran masih memekik gendang telinga.


"Astaga sayang, kamu panik ya? Maaf tapi kita gak ada pilihan lain," tukas Cecilia mengelus pipi Irsan yang masih terlihat khawatir.


"Kau membuat masalah besar Cecilia, bagaimana bisa mempunyai ide yang sangat konyol dan berbahaya ini, bagaimana kalau rumah ini terbakar?"


"Ya ampun, api sekecil itu gak mungkin membuat rumah besar ini kebakar sayang, kau ini..." cecilia masih terkekeh namun tidak dengan Irsan yang mendengus kesal.


Dan tujuan Cecilia akhirnya berhasil, pintu rumah terbuka dan seseorang yang mereka tunggu keluar dari sana. Keduanya terkaget, saat Irsan yang keluar hanya mengenakan celana pendek saja. Beberapa security pun mulai berdatangan, Carl membuka pintu gerbang dengan remot ditangannya, hingga tiga orang security masuk dan menghampirinya.


Cecilia dan Irsan saling menatap dengan sama sama terdiam satu sama lain, memperhatikan mereka hanya didalam mobil saja, beruntung karena kaca mobil itu gelap gulita, mereka hanya tinggal menunggu Carl yang mengenali mobil hitam yang terparkir di depan gerbang.


Karena tidak ada yang perlu di khawatirkan, para petugas keamanan itu akhirnya kembali pergi, dan Carl terlihat berkacak pinggang menatap potongan kain yang terbakar. Dia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, seolah mencari tahu apapun yang mencurigakan, dan tatapannya berakhir pada mobil hitam yang terparkir sempurna.


Carl berjalan ke arah mobil dimana Irsan dan Cecilia bersembunyi, dia mengetuk pintu mobil dengan keras.


"Aku tidak menyangka, dokter yang tahu aturan dan taat norma hukum melakukan hal semacam ini." tukasnya dengan berdecak kesal.


Irsan akhirnya memilih keluar dari mobil, merasa jika ide konyol itu kini berguna dan tidaklah buruk. "Itu karena kau tidak mengangkat ponselmu Carl!"


"Astaga ... Jadi benar kau yang melakukannya? Aku tidak percaya itu." Carl memijit pelipisnya yang berdenyut tiba tiba.


"Aku yang ngelakuinnya!" Cecilia baru keluar sesaat kemudian,


Carl semakin memijit pelipisnya yang terasa sakit saat melihat gadis bar bar di depannya, "Aku tidak merasa aneh kalau kau yang melakukannya karena kau bar bar, tapi Irsan membiarkanmu melakukannya? Astaga ...." keluhnya lagi.


"Kau tahu kenapa aku tidak mengangkat telepon? Kau pasti tahu Dokter Irsan." Carl beranjak pergi dan kembali masuk ke dalam rumah.


Irsan dan Cecilia mengikutinya dengan berjalan masuk kedalam rumahnya, rumah besar yang hanya dihuni oleh asisten rumah tangga dan sesekali ditinggali Carl saja.


"Ada apa kalian malam malam kemari dan mengganggu kenyamanan dengan melakukan hal itu?" tanya Carl yang tidak berhenti berdecak maupun menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin tahu dimana Nita?" seru Cecilia tanpa basa basi lagi,


"Nita? Kenapa kau bertanya padaku? Aku tidak tahu dia kemana. Aku tidak pernah bertemu dengannya." kilahnya dengan memakai kaos yang teronggok di sofa.


"Irsan ... Istrimu galak sekali."


Irsan hanya mengulas senyuman, dia diam memperhatikan saja sejak tadi. Selalu tahu jika istrinya mampu melakukan apa pun termasuk menyelesaikan semuanya.


"Heh ... Jangan diam saja, bantu aku!" Carl menendang kaki Irsan dengan kuat. Namun justru kakinya yang sakit sebab mengenai ujung tumit sepatu yang dikenakan oleh Irsan. "Aaahggh sial!"


"Jawab saja dengan jujur, jangan berbohong!" tambah Irsan.


"Astaga ... Kalian benar benar pasangan yang cocok. Sudah aku katakan aku tidak tahu soal Nita. Keberadaannya bahkan aku tidak pernah bertemu dengannya sejak lama." terang Carl.


"Kalau gitu kau lacak dia. Kau bisa melakukannya."


"Sudah aku katakan kemarin aku akan melakukannya bukan?" ujarnya pada Irsan.


"Lakukan sekarang aja! Gak usah nunggu nanti, kita tungguin kok di sini."


Carl tampak terdiam membisu, membuat kecurigaan Cecilia semakin kuat jika dia memang tahu sesuatu.


"Tidak ada alatnya di sini!"


"Jangan bohong Carl! Kau justru membuatnya semakin curiga, istriku sudah lama mencari keberadaan Nita tapi dia tidak menemukannya dimana pun. Itu sangat aneh bukan?" tukas Irsan yang membuat kedua mata Cecilia berkaca kaca.


Carl tampak diam, menatap Irsan dan Cecilia secara bergantian, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Lalu menghela nafas dalam dalam.


"Aku akan melakukannya. Tapi beri aku waktu."


"Lakukan sekarang Carl, jangan buang buang waktu!" Cecilia berteriak dan membuatnya kaget.


"Sayang ... Tenanglah." Tangan Irsan mengelus kedua bahunya lembut, mencoba menenangkan Cecilia yang sentimental.


Kedua matanya tampak sendu menatap sosok pria yang entah kenapa dia terus curigai mengetahui tentang sahabatnya.


"Carl. Ada apa?"


Ketiganya menoleh pada sumber suara, seorang wanita keluar dari kamar dengan hanya mengenakan baju tidur tipis yang sangat menerawang. Carl tersentak kaget, Irsan apalagi. Dia langsung membuang wajahnya ke arah lain saat melihat tipisnya pakaian berwarna merah yang membalut tubuh seksi.


"Astaga ... Kenapa kau keluar? Tunggu aku di dalam yaa. Aku sedang kedatangan tamu." Carl menghampirinya dan menyuruhnya untuk masuk.


Tenggorokan Cecilia tercekat saat itu juga. Dia menoleh pada Keduanya yang tengah bicara.


"Kau ...?"


.


.Hari ini semua kembali beraktifitas, khususnya pada emak emak dengan kesibukannya pak pik pek nyiapain bekal anak anak, wkwkw, selamat hari senin Cecelover, othor juga udah mulai masuk lagi nih. Semangat, jangan lupa dukung terus novel novel othor yeee... Lope lope kalian.