I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.253(Ramuan)



"Tidak perlu! Kau tidak perlu melakukan apa apa, biar aku yang memilihkan sesuai kriteriamu. Dan pasti yang terbaik hasilnya."


Cecilia menoleh ke arah belakang di mana Irsan duduk, dengan wajah datarnya bicara seolah itu sangat mudah "Kau bilang apa?"


Ines menghampirinya dan duduk disampingnya.


"Kau fikir aku bercanda?"


"Aku tahu, tapi aku tidak menyangka kalau kau mau melakukannya,"


"Itu karenamu, karena kamu sendiri terlalu Obsesi dan hanya berkencan saja yang ada di kepalamu." ujar Irsan dengan menunjuk jidat sepupunya itu dengan cara di tekan. "Sekarang juga kau pulang, ini sudah malam dan kami berdua ingin istirahat." pungkasnya lagi.


Ines mencebikkan bibir ke arahnya, "Bilang saja kau ingin membuat anak ..."


Cecilia terkekeh mendengarnya, "Paling tahu deh kak Ines ini."


Wanita yang menjadi seorang desainer pakaian itu mendengus ke arah keduanya dengan bergantian, dengan cepat dia bangkit dan segera meninggalkan unit apartemen mereka


"Tolong buatkan aku keponakan yang lucu lucu, tapi kalau bisa sifatnya jangan seperti ayahnya itu." serunya sebelum membuka pintu dan keluar.


Irsan berdecak, hampir saja di melemparkan bantal sofa ke arahnya, sementara Cecilia terkekeh dibuatnya,


"Ada benarnya kata kak Ines, karena aku yang bakal pusing nanti jika semua anak yang kita buat mirip denganmu sayang."


Irsan mengangkat bokongnya dari sofa dsn menghampiri istrinya itu. "Kau bilang apa? Hm?"


"Aku bila---"


Grep!


Dengan sekali tarikan saja, Irsan mengangkat tubuh Cecilia dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Sayang turunkan aku, aku tidak perlu dipaksa begini!" Cecilia tergelak saat Irsan membawanya masuk ke dalam kamar.


Irsan membaringkannya di atas ranjang, namun dia sendiri justu kembali bangkit berdiri,


"Tolong jangan kemana mana, aku akan mengganti password unit lebih dulu, aku tidak ingin Ines tiba tiba masuk lagi dan mengganggu kita lagi." ujarnya dengan raut wajah kesal namun menggemaskan.


Cecilia terkekeh melihat pria itu kembali keluar dari kamar hanya untuk mengganti kode otomatis yang terpasang di pintu.


Tak lama Irsan kembali masuk. Dengan cepat dia membuka kan singlet yang di pakainya dan melemparkannya secara asal. Lalu naik ke atas ranjang dimana Cecilia sudah terbaring tanpa busana satu pun,


Gadis itu sengaja membuka satu persatu pakaiannya saat Irsan sibuk mengganti nomor password. Hingga pria itu terbeliak saat datang karena ulah dari sang istri yang sengaja menggodanya.


"Kau paling bisa Cecilia!" ujar Irsan yang kini mengkungkung tubuhnya di bawahnya.


"I'm a sugar baby!" Cecilia terkekeh, sudah lama slogan itu tidak keluar dari bibirnya. "But, Now I'm your."


bisiknya lembut dan langsung meraup bibirnya dengan lembut, memagut dengan benda kenyal yang langsung bersambut hangat.


Keduanya kembali memadu, meneguk kenikmattan sejuta rasa yang sulit terungkapkan oleh kata, hanya desaah dan rintiih yang terdengar mengalun indah diantara keduanya, yang memenuhi ruangan kamar tempat keduanya bersenang senang.


Suara lenguhan bahkan sudah terdengar berkali kali, saat benda tajam milik Irsan kini melesak masuk. Bekerja dengan optimal menuju kemenangan bersama. Dengan harapan dan tujuan yang sama pula. Puncak dari segala rasa yang ada di dunia.


"Aku harap bisa hamil secepatnya," bisik Cecilia disela nafas yang memburu hebat.


"Aku selalu berharap yang terbaik untuk kita ke depannya."


***


"Irsan ... Irsan, astaga! Mereka bahkan langsung menggantinya hanya karena aku masuk semalam."


"Benarkah? Itu bagus Ines, jadi kau tidak bisa lagi menganggu mereka berdua."


"Bibi ... Bibi gitu deh! Aku saja tidak tahu jika mereka sedang melakukan hal ini dan itu semalam."


"Buktinya sekarang putraku mengganti password, ternyata dia juga tidak kecewa dengan ideku yang menikahkannya diaam diam, bahkan seprti yang kau bilang taadi malam, mereka sedang gencar men\=mbuat anak?"


"Bibi ... Pelankan suaramu, semua orang bisa mendengarnya." Ines menggelengkan kepalanya, idenya hanya untuk memberitahu Embun jika anak dan menantunya itu sedang mengharapkan seorang anak bahkan sudah mulai mengecek kehamilan nyatanya adalah ide konyol.


Ya tuhan, harusnya aku tidak memberitahu bibi masalah ini. Batin Ines.


Embun sengaja datang setelah Ines memberitahunya jika dia menemukan alat tes kehamilan di unit Irsan, namun dengan garis merah yang hanya satu garis saja.


Irsan yang mendengar gedoran pintu tidak juga berhenti, kini keluar dari kamar, tentu saja dengan muka bantal khas bangun tidur.


"Astaga ...!" ujarnya saat melihat siapa yang datang. "Apa kalian tidak punya pekerjaan lain? Jam berapa ini?" tukasnya lagi.


"Maaf Irsan, aku tidak mau ikut campur sebenarnya, tapi aku sudah terlanjur mengatakannya pada Bibi. Jadi ya ... Bibi langsung datang. Sebelum Bibi menggedor ke sini, unitku lah yang pertama kali Bibi gedor." Ujar Ines yang langsung melenggang masuk ke dalam.


"Ibu...!" lirih Irsan dengan wajah tidak menyangka.


"Kau tenang saja Nak, Ibu juga tidak akan lama di sini! Ibu hanya akan memberikan ini pada istrimu." ujarnya dengan menunjukan satu botol besar yang terlihat cairan hitam. "Mana dia?"


"Apa itu Bu?"


"Ramuan agar istrimu cepat hamil!" ujar Embun yang melenggang masuk ke dalam kamar guna melihat Cecilia.


Gadis itu tentu saja masih berada di alam mimpi, tidak ada jadwal kuliah hari ini, jadi dia bisa berleha leha dan santai saja di rumah.


"Astaga ... Dia bahkan belum bangun?" cicit Embun.


"Tidak apa apa Bu, dia mungkin kelelahan," ujar Irsan yang tengah membuat teh panas untuk dirinya sendiri dan ibunya.


Sementara Ines sudah lebih dulu mendudukkan bokongnya di sofa dengan ponsel yang tengah dia mainkan. Embun memicingkan kedua matanya, dia tahu arti kelelahan yang di maksud putranya.


"Justru untuk itu aku kemari Irsan, dan ramuan ini akan membantu banyak. Khususnya kau." terang Embun yang menyimpan sebotol ramuan itu di atas meja.


"Bi ... Astaga, putramu itu seorang dokter yang memiliki lisensi internasional, kenapa bibi malah memberikan ramuan itu." tukas Ines menyela di antara mereka.


"Ines benar bu ... Kami saja belum memeriksa lebih lanjut lagi!" Irsan menarik kursi agar Embun bisa duduk dengan nyaman.


Tak lama Cecilia terbangun, setelah mendengar suara suara yang membuat tidurnya terbangun, dengan gontai dia keluar dari kamar dan langsung menuju meja makan.


"Astaga ... Ibu?"


"Iya sayang, ibu datang khusus kesini untuk membantumu agar cepat hamil." Embun menggeser botol di atas meja menjadi lebih dekat dengan Cecilia. "Ambil ini, minum setiap pagi dan malam sebelum tidur. Ini bagus untuk kesuburan kandungan." terang Embun lagi.


Cecilia terbelalak sempurna, menatap botol dengan cairan hitam. "Apa? Ramuan kesuburan?"


"Iya ... Itu agar kau cepat hamil!"


Cecilia yang kaget menoleh pada Irsan yang hanya mengerdikkan bahu.


"Gimana ini sayang?"