
Nita terbelalak sempurna sama halnya dengan Cecilia, namun pandangan mereka berbeda arah.
"Siapa sih?"
"Elah ... Noh yang onoh!" ucap Cecilia yang memegang kepala Nita lalu menggesernya ke satu sudut. "Nah lo lihat kan?"
"Itu pacarnya dokter Irsan kan?"
"Huuh ... Sama siapa dia kira kira?" Cecilia memberikan pertanyaan itu pada Nita.
"Ya mana gue tahu! Bisa aja klien, atau juga temen. Udah yuk ah cabut! Kita kemari bukan buat kepo in orang," Nita kembali berjalan acuh dan meninggalkan Cecilia, alih alih menerka nerka.
Cecilia berdecak seraya mendelik ke arah Ines dan juga seorang pria tampan di sampingnya. "Dia gak cuma ambil barangnya Irsan aja, tapi dia juga main serong sama yang lain. Bukan cuma gue yang munafik, dia lebih munafik dibandingkan gue."
Sementara Nita yang diam di depan room, kembali menoleh ke arah Cecilia. Petugas yang berdiri menunggu pun sudah berlalu pergi.
"Ih si Cece ... Ngapain sih ngurusin tuh orang! Dia ngajak gue kesini malah rempong ngurusin orang." Nita kembali berjalan dan menarik lengannya saat Cecilia berbalik hendak masuk ke arah mereka.
"Jangan macem macem lo! Awas lo bikin ulah."
"Apaan Nit! Gue cuma mau mastiin doang. Mereka itu klien, temen biasa atau ada main." sahutnya menepis cekalan Nita.
"Ce ... kita bisa lihat disini kali! Gak mesti masuk dan merhatiin mereka dari dekat, pura pura mesen makanan padahal merhatiin mereka! Lo jangan ngadi ngadi."
Ucapan Nita justru jadi ide untuk Cecilia, tekadnya semakin bulat untuk masuk dan memperhatikan mereka, memastikan mereka berdua ada main atau tidak. Cecilia mengibaskan rambutnya lalu menoleh ke arah Nita.
"Lo mau ikut enggak terserah! Gue bakal masuk dan ngopi ngopi cantik." ujarnya berjalan memutar ke arah pintu masuk kafe.
"Sial si Cece ... Gak kasih pilihan lain apa!" gumam Nita yang terpaksa ikut melangkah mengikutinya.
Mereka masuk ke dalam, Cecilia memilih tempat duduk yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Begitu juga Nita yang terus memperhatikan keduanya yang kini tertawa.
"Dih! Centil banget!" gumam Cecilia yang melihat Ines yang anggun dan tertawa menutupi mulutnya. Keduanya pun terlihat akrab satu sama lain.
"Kayaknya bukan klien deh!" bisik Nita, tugasnya memang terlihat seperti mengompori.
"Gue juga bilang apa! Gue bisa tahu dari jauh kalau mereka ada main dibelakang Irsan."
"Feeling lo kuat Ce!"
"Heeh anjim jangan salah!"
"Apa karena kita juga kayak gitu ya, jadi bisa lihat dengan mudah." tukas Nita terkekeh, kedua tangannya sibuk membulak balikkan buku menu sementara kedua mata menyalang ke arah Ines dan juga teman prianya.
"Anjim lo! Kita bersertifikat! Inget itu ... Ada kontraknya kita mah! Gak maen belakang belakangan."
"Kita! Lo tuh yang maen tikung, ada kontrak tapi lo juga sama Irsan. Apa namanya coba."
Cecilia menyoroti sahabatnya yang justru menyudutkannya dibanding mendukungnya dalam kasus tiang listrik.
"Lo malah nyudutin gue! Kita disini buat nyelidikin mereka. Bukan bahas ke- ****** -an gue. Parah lo!"
Nita hanya terkekeh karena ucapannya membuat sahabatnya kesal.
Ines tidak sengaja beradu pandang dengan Cecilia yang terus menatapnya nyalang, dia mengulas senyuman tipis dengan fikirannya yang positif namun membuat Cecilia kembali emosi.
"Anjim. Lo liat senyumnya Nit! Nyepelein kita apa."
"Iya Ce ... lebih tepatnya ngeremehin lo! Bukan gue." sahut Nita yang kemudian memanggil pelayan.
Brak!
Cecilia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Ines dan juga teman prianya itu. Membuat Nita terperanjat dan menyusulnya.
"Ce lo mau apa?"
"Gak bisa di biarin! Gue bakal labrak tuh si sundel. Berani beraninya dia ngeremehin gue. Kalau dia bukan pacarnya Irsan gue bodo amat!"
"Astaga Ce!"
Pria yang berada di samping Ines pun mengernyit, lalu berbisik.
"Kau mengenal mereka honey?"
"Ya ... sedikit." Ines bangkit dari duduknya lalu mengulas senyuman.
Sial ... Gadis ini pasti mikir yang enggak enggak.
"Hai ... Kau disini juga?" tanya Ines.
"Gak usah so manis lo! Gue udah tahu segimana busuknya lo."
"Hei ...! Yang sopan kalau bicara nona." Teman pria Ines ikut bangkit dari sofa.
"Sorry ... Gue gak bisa sopan sama si sundel ini! Lo tahu dia udah nipu lo! Ah ... Tidak tidak ... Dia bukan cuma nipu lo! Tapi juga nipu pacarnya yang lain." ujar Cecilia dengan lantang, dengan kedua tangan mendekap di dadanya.
"Jaga omonganmu! Kau salah faham!"
"Oh ya ... Bagian mana yang gue salah! Sorry gue tahu dan gak bisa diem aja. Lo fikir lo keren bisa nipu dua cowo sekaligus. Atau bahkan lebih."
"Lancang!"
Plak!
Ines yang tersulut emosi mendaratkan tamparan keras di pipi Cecilia, dia tidak terima dengan tuduhan Cecilia, ditambah teman pria yang baru saja dikencani nya mulai mengernyit ke arahnya.
Tidak tinggal diam, Cecilia membalas tamparannya. Bukan hanya sekali melainkan dua kali. Hingga keduanya saling menyerang dengan menjambak rambut satu sama lain.
Rambut panjang nan indah berantakan sudah kala keduanya saling berteriak dan juga tarik menarik, membuat semua orang yang berada di sana melihatnya.
"Heh ... Sialan lo!"
"Lo salah paham!"
"Mana ada anjim salah paham! Mata gue gak buta!"
Sampai Nita menarik Cecilia begitu pun Ines yang ditarik oleh kekasih yang baru dikencaninya seminggu.
"Nes ... Hentikan! Semua orang memperhatikan kita sekarang!"
"Dia yang duluan! Dia menuduh tanpa bukti."
"Heh sundel! Lo masih gak mau ngaku. Bukti apa? Semua udah jelas." ujar Cecilia yang merapikan rambutnya dan juga berusaha melepaskan dirinya dari cekalan Nita.
"Ce ... Lo jangan bar bar dong! Malu maluin lo!"
"Diem lo Nit!"
Cecilia kembali menyorot ke arah teman kencan Ines yang memegangi Ines yang juga masih berusaha berontak.
"Asal lo tahu ya, wanita ini munafik! Dia bakal nipu lo. Karena dia baru aja nipu cowonya. Gue udah peringatin lo ya. Lo bakal nyesel." Ujar Cecilia yang kembali berjalan keluar lalu pergi begitu saja.
Sementara Ines saat ini terduduk dan menangis. Wajahnya dan rambutnya berantakan. Jelas Cecilia lebih bertenaga dibandingkan dengannya, gadis itu memang bar bar.
"Nes ... Apa benar semua yang dia ucapkan? Apa kau sudah memiliki pacar dan menduakan ku?"
Ines semakin keras menangis, dia tidak hanya merasa malu saat ini, namun juga sudah menduga kencannya akan kembali gagal. Dan kegagalannya kali ini disebabkan oleh Cecilia dan juga Irsan.
"Irsan!!!"
Ines mencari ponselnya, dan mengabaikan pertanyaan dari Satya.
"Nes! Jawab pertanyaanku!"
"Satya please! Aku hubungi Irsan dulu dan dia akan menjelaskan semuanya."
"Irsan. Jadi benar kau memiliki pria lain?"