I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.91(Sepupu payah)



"Tolong bantu aku Cecilia." Ines melangkahkan kakinya masuk walaupun Cecilia belum mengatakan apa apa, "Pokoknya, aku ingin dia mendapatkan balasan yang setimpal. Kau bantu aku ya." ujarnya lagi.


Cecilia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, nyawanya saja masih belum terkumpul semua. Gadis itu hanya mengeratkan gigi gigi putihnya saja.


"Tidak ... Jangan lakukan apa apa! Biarkan saja dia, toh nanti akan mendapatkan balasannya sendiri."


Ines menoleh ke arah suara dan terbelalak sempurna saat melihat kakak sepupunya keluar dari kamar Cecilia.


"Kau!" tunjuknya pada Irsan, lalu menunjuk Cecilia, "Kalian?" Menggaruk rambutnya lalu memejamkan mata. "Irsaaaan apa yang kau lakukan di sini. Kau sudah gila, Hah?"


Irsan yang masih mengantuk itu meraup wajahnya pelan, lalu menghampiri adik sepupunya. "Tidak usah teriak bisa kan. Kau tenang saja, aku tidak melakukan apa apa dengan Cecilia, kau tanya saja padanya."


"Lalu kenapa kau tidur disini. Bukan nya kembali ke unitmu sendiri? Kau fikir kau bisa membodohiku?"


"Tenang kak ... Tenang ya, itu emang bener kok! Semalam kami hanya mengobrol dan tidur saja. Gak ada apa apa." jelas Cecilia.


Itu memang benar, setelah aktifitas yang terhenti begitu saja. Mereka hanya saling memeluk dan menceritakan hal hal yang tidak penting, masa lalu Cecilia juga masa lalu Irsan. Tidak ada yang spesial seperti harapan Cecilia juga fikiran Ines.


"Kau tahu kan sepupumu itu kayak tiang listrik?" bisik Cecilia kemudian.


Ines menjatuhkan dirinya di sofa, dengan wajah muram dan juga lusuh, "Terserahlah kalian semalam melakukan apa pun itu. Aku tidak mau tahu, yang pasti aku ingin berbuat sesuatu agar si brengsekk Satya itu menyesal."


"Kak Ines tenang aja! Aku akan bantu." Ujar Cecilia yang menghampiri Ines dan mengusap bahunya.


"Aku tidak setuju! Apapun yang kalian rencanakan, jangan lakukan apa apa."


"Ta---tapi...!"


"Kubilang tidak usah, itu akan lebih baik Ines, dan kau ..." tunjuknya pada Cecilia. "Jangan lakukan apapun demi membantunya atau aku akan marah." ucapnya lagi lalu masuk kedalam kamar guna mengambil barang barang miliknya dan kembali keluar. "Aku harus ke rumah sakit. Ines?"


"Aku ke butik siang ... Kau duluan saja."


Tatapan Irsan kini mengarah pada Cecilia seolah menunggu jawabannya juga.


"Aku juga akan ke kampus sebentar lagi, ada kelas pagi."


"Baiklah ... Ingat, jangan macam macam." ucapnya lagi lalu berjalan keluar.


Kedua wanita menghela nafas setelah pintu tertutup, saling menatap lalu terkekeh.


"Sepupumu payah!"


"Memang!"


Keduanya tertawa, tanpa sadar hubungan merekapun membaik dengan sendirinya. Memang tidak ada masalah juga sebenarnya, hanya kesalah pahaman saja.


"Jadi. Kau mau ngelakuin apa sama Satya kak?" tanya Cecilia penasaran juga.


Ines mengerdik, "Sebenarnya aku juga bingung harus ngelakuin apa, yang jelas aku ingin dia menyesal karena mempermainkanku. Minta maaf aja kayaknya kurang."


Cecilia menyipitkan kedua mata ke arahnya, "Eeemmmpp ... Sepertinya ada sesuatu! Apa kau pernah ...." Ucap Cecilia dengan merekatkan kedua tangan berbentuk kerucut.


"Apaan ih!" Ines mendengus seraya memukul paha Cecilia.


"Jujur aja kak! Irsan gak ada di sini. Aku ini penyimpan rahasia terbaik. Kau bisa percaya sama aku." Cecilia menepuk dadanya sendiri dua kali.


Ines menggaruk hidungnya, "Sebenarnya kami pernah pergi ke suatu tempat berdua dan ber---" Ines menoleh dan menatap Cecilia yang saat ini menaik turunkan kedua alisnya.


"Ber---"


"Berciuumaan! Astaga ... Aku benar benar bodoh saat itu. Untung saja tidak kebablasan sampai melakukan hal lebih bodoh lagi."


Cecilia menghela nafas, "Syukurlah kalau hanya berciuuman,"


"Heh tetap aja, dia itu penipu! Aku ingin dia menyesal. Tapi ... Si Irsan." Ines kembali menoleh, "Atau kita lakukan diam diam saja, kau jangan kasih tahu Irsan. Gimana. Oke?"


"Aku bakal datang menemui Satya."


Cecilia menggelengkan kepalanya, "Bukan ide bagus! Kalau pun mau, dia yang harusnya datang menemui kak Ines dan bersujud minta maaf."


Ines menatapnya lama, dengan kedua alis mengernyit. "Kau punya rencana lebih baik."


"Hm ... Kak Ines tunggu aja! Dia pasti bakal menyesal."


***


Cecilia datang ke kampus disaat jadwal hampir habis. Dia menyelonong masuk saat dosen tengah duduk bermain ponsel.


"Heh ... Kau ayam betina?" seru dosen dengan menatap Cecilia bengis.


"Veronica Cecilia pak. no induk 84590322." Sahut Cecilia yang kemudian duduk di bangku kosong dibelakang Nita.


"Lo kemana aja sih! Sibuk bener sampe lupa jadwal lo?" sindir Nita.


Dosen itu hanya menghela nafas lalu melirik jam di tangannya, beruntung jam studynya habis dan dia tidak perlu meladeni mahasiswi yang datang dan pergi sesuka hati.


Nita menoleh ke arahnya saat dosen itu sudah pergi sementara Cecilia hanya memainkan kuku kuku dijari nya.


"Heh Ce ... Untung banget lo gak kena marah."


"Iya lah, buat apa dia marah sama gue. Udah untung gue masuk."


"Lo fikir lo siapa? Bego banget ... Nanti kalau tugas yang dia kasih tugas, dan lo harus ngejar ngejar dia, baru lo kelimpungan. Lo tahu sendiri kan dia sensi banget. Lo bakal repot nanti." terang Nita.


"Udah deh bawel banget sih! Yang penting gue lulus wisuda juga nanti lo tenang aja Nit. Ada yang lebih penting buat kita kerjain sekarang." Cecilia bangkit dan menarik tangan Nita.


"Apaan sih. Penting banget emang?"


Mereka menuju ke arah kantin dan duduk disana.


"Penting lah, ini urusan genting banget. Lo bantu gue ya."


"Apaan. Perut lo yang genting? Apa bunting."


"Sialan emang lo. Ini serius. Gue ada tugas buat lo, lo tahu video yang viral kemaren kan?"


"Hmm ... Lo keren bisa pecahin kaca mobil. Cuma gue kan yang tahu itu lo?" Nita mengambil sebotol minuman dingin dan membukannya lalu kembali duduk.


"Pasti semua orang udah tahu sekarang kan. Mampus gue kalau mereka mikir gue yang ada main sama tuh orang."


Nita mengernyit, "Emang video itu masih ada? Perasaan udah gak ada deh. Bersih sebersih bersihnya. Gue juga mau nanya lo tadi kenapa tuh video tahu tahu udah di take down."


"Serius ... Demi apa Nit?" Cecilia sibuk membuka sosial media miliknya dan benar saja. Video itu sudah tidak ada lagi. "Apa jangan jangan ini kerjaan Satya."


"Sapa tuh Satya?"


"Ya orang yang punya mobil. Lo tahu dia punya istri, dan gue salah kira selama ini. Ternyata Ines itu sepupu Irsan."


Nita hampir tersedak, "Serius lo?"


Cecilia merebut botol minuman dingin dari tangan Nita lalu menyeruputnya. "Serius!! Dan kalau gue gak bantu dia ... Muka gue di taro dimana Nit, jadi lo harus bantu gue juga."


"Lah apaan ... Bukan urusan gue itu!"


"Heh .. Lo juga ngomporin gue,"


"Tapi lo yakin yang take down semua video di internet itu si Satya?"