
"Iya pak, ketemu! Tapi ..." Dimas melirik Irsan yang tengah duduk di sofa, dia terlihat memijit pelipisnya. Lalu menatap Andre yang tengah menunggu jawabannya. "Cecilia tidak mau datang kemari lagi. Katanya dia sudah tidak berminat bekerja di sini pak!"
Mendengar hal itu, Irsan yang tengah duduk pun bangkit dan pergi begitu saja tanpa ucapan apa apa. Yang terdengar hanya dengusan saja.
"Bodoh! Kenapa dia keras kepala sekali. Aku sudah berbaik hati dan berubah fikiran untuk menerimanya bekerja di sini karena berfikir ucapanku terlalu kasar tadi. Tapi sepertinya, dia memang sengaja membuatku kesal." dengus Irsan sambil berjalan naik ke atas dimana ruangannya berada.
Cukup lama Irsan berada di sana, hanya membaca buku yang belum selesai dia baca walaupun rasanya dia kasih tidak mengerti semua yang dia baca.
Sementara Andre menghela nafas berat saat Dimas mengatakan jika Irsan yang harus bicara langsung pada Cecilia.
"Ayo Pak bilang sama bos! Kalau Cecilia ingin beliau ?yang bilang sendiri."
"Mana mungkin itu terjadi Dim, siapa Cecilia sampai bos harus mengatakannya sendiri." lagi lagi Andre menghela nafas, menyayangkan sikap bosnya yang berubah fikiran disaat Cecilia sudah pergi. Padahal dia mengakui potensi Cecilia sangat bagus tapi semua terlambat. "Kembali bekerja Dim. Mungkin nanti ada pelamar lain yang seperti Cecilia."
"Kayaknya gak bakalan ada Pak, dia benar benar pemberani. Keluar dari kantor dengan pakaian yang dia buka. Keren Pak." Ucap Dimas mengacungkan jempolnya.
Andre mengangguk setuju karena dia juga melihatnya saat keluar dari ruangan Irsan di atas. "Dia memang sekeren itu, sampai membuat bos berubah fikiran."
Sementara Cecilia dan Nita keluar, mereka berjalan menuju basement dengan terus tertawa. Keduanya masuk kedalam mobil milik Nita.
"Nit, lo kan mau dines malem ini? Jadi anterin gue ke salon Madam aja ya." ujar Cecilia sambil memasangkan seat belt di tubuhnya.
"Lo mau rubah penampilan lo lagi? Enggak enggak, gak usah lo rubah! Lo udah keren. Lo mending ke klub siapa tahu ketemu calon Daddy baru." tukas Nita dengan menyalakan mobil miliknya.
"Heh bego, gue rubah penampilan gini kan buat si Irsan doang, terus karena gue mutusin buat berhenti ngejar dia, ya gue balik lagi lah ke jati diri gue yang sebenarnya." pungkas Cecilia dengan kedua mata menyorot.
"Biasa aja ngomongnya! Keliatan banget lo ngarep sama si Irsan."
"Eh anjim, gak pake banget! Gue gak ngarep ya, gue cuma penasaran. Pe na saran inget itu! Jawabnya dengan penuh penekanan. "Lo tuh malah ngingetin dia lagi, bete banget kalau inget congornya yang asal bunyi itu. Sok banget tahu."
"Jadi sekarang lo mau ke klub atau ke salon nih?"
"Balik aja deh! Gue jadi males kemana mana."
"Oke!"
Nita melaju dengan kecepatan tinggi mengarah ke apartemen milik Cecilia, mereka terus membahas lagi perkataan Irsan yang membuat Cecilia kembali murka. Padahal jelas jelas sesudah keluar dari tempat karoke dia baik baik saja.
Nita menghentikan laju mobilnya saat mereka sampai di lobby apartemen, Cecilia keluar dari mobil dan melambaikan tangan pada Nita yang langsung melaju pergi.
"Kemana aja lo! Gue udah nungguin lo dari tadi!"
Cecilia menghela nafas saat melihat Dirga berjalan ke arahnya. Penampilannnya sangat berantakan, walaupun ketampanannya tidaklah berkurang. Cecilia kembali melangkah dan tidak menggubris kata kata Dirga.
"Ce ... Lo ganti penampilan buat apa? Biar makin laku lo ya."
Cecilia tetap berjalan dan Dirga tetap mengikuti langkahnya. "Heh ... Pe lacur! Gue lagi ngomong sama lo."
Cecilia sedang malas berdebat, dia tetap membisu seolah tidak mendengar apa yang Dirga ucapkan. Whatever.
Dirga semakin berang karena diabaikan dia mencekal lengannya saat hendak memasuki lift. Hingga tubih Cecilia terhuyung kebelakang dan menabrak tubih Dirga sendiri. "Gue gak suka di diemin kayak gini! Gue pengen ngomong sama lo."
Cecilia menepiskan tangan Dirga dengan susah payah. "Lo ngomong ngomong aja! Tapi lepasin gue dulu, sakit anjim! Lo gak kapok apa pake kekerasan. Lo mau gue laporin ke polisi?"
Dirga berdecih, "Lo laporin gue? Berani lo? Atas dasar apa lo laporin gue? Gue tinggal bilang kalau lo pe lacur yang emang pantes di kasarin. Paling polisi ngetawain lo."
Dirga terbeliak sempurna ke arahnya, Cecilia memang tahu jika dia pecandu tapi sekarang dia menjadi bandarnya sendiri. Dan tidak ada yang tahu hal itu.
Perlahan tangan Dirga mengendur sendiri, dia akhirnya melepaskan cekalananya.
"Kenapa? Lo takut? Kita sama sama bejad! Gue paling diketawain polisi karena gue pe lacur. Tapi lo." Cecilia menunjuk dada Dirga dengan keras. "Mampus lo!"
Cecilia berbalik dan meninggalkan Dirga, dia masuk kedalam lift yang terbuka. Namun dengan cepat Dirga menyusulnya masuk ke dalam.
Dia merangsek masuk dan langsung mencekik leher Cecilia dan mendorongnya hingga menabrak dinding lift. "Lo berani sama gue, kalau lo sampe laporin ini! Gue gak segan segan bu nuh lo!"
"Dir---dirga .... Sa--kit! Lepasss." Cecilia meronta ronta bahkan menendang Dirga namun Dirga yang sudah kalap tidak melepaskannya sedikitpun.
Lift tertahan oleh tangan seseorang yang langsung masuk dan menarik Dirga dan merangsek kerahnya.
Bhug!
Dirga tersungkur bertepatan dengan pintu lift yang tertutup. Namun dia kembali bangkit dan membalas pukulannya, namun tidak kena karena dia mendapat pukulan lebih dulu.
Cecilia yang masih terbatuk batuk berteriak melihat keduanya bergelung pukulan. Dirga bahkan sudah berdarah.
"Kau tidak apa apa kan?" tanyanya pada Cecilia.
Cecilia menggelengkan kepalanya tapi dia juga tidak ingin melihat wajah pria aneh yang kini justru menolongnya. Gue heran sama dia tapi gue juga beruntung.
Dengan sisa tenaganya Dirga berlari keluar saat lift terbuka, membuat Cecilia merasa lega saat melihatnya pergi.
"Kenapa kau masih berurusan dengan pria itu hah! Tidak kah cukup dia menyiksamu tempo hari Cecilia?" bentak pria yang tidak ingin dia lihat lagi itu.
Cecilia keluar tanpa ingin menjawab pertanyaannya.
Ngapain sih dia nolong gue? Gak cukup apa dia udah bikin harga diri gue sakit, terus sekarang maksudnya apa? Dia bener bener.
Ya pria itu adalah Irsan, yang kebetulan melihat Dirga mencekal lengan Cecilia dan semua yang dikatakan keduanya bahkan dia mendengarnya.
Irsan mengejarnya, dia memotong langkah Cecilia dan berdiri di hadapannya.
"Apa ini sikap yang diperlihatkan seseorang yang sudah di tolong?"
"Oh!" Cecilia mengeluarkan semua uang di dalam dompetnya dan memasukkan nya ke dalam saku jas yang dikenakan Irsan "Makasih kalau gitu! Tapi lain kali tidak usah menolongku." ujarnya kembali melangkah dan melewati Irsan begitu saja.
Irsan mengacak rambutnya sendiri dengan apa yang dilakukan oleh Cecilia dan kembali mengejarnya, kali ini dia mencekal lengannya.
"Apa lagi. Kurang?" seloroh Cecilia dengan kesal.
Irsan menatapnya tajam, dia mengeluarkan semua uang yang dimasukan Cecilia itu dan memberikannya lagi pada gadis yang tengah kesal itu.
"Aku tidak butuh uangmu!"
Cecilia memasukkan nya lagi ke dalam tas lalu kembali melangkah, sekali lagi melewati Irsan tanpa ingin melihat wajahnya lagi.
"Ya udah!"