
Keduanya saling menatap denga intens, Irsan begitu meyakinkan gadis yang dia cintai dengan mengungkapkan semua yang dia rasakan setelah mengenalnya. Terlebih Irsan tidak ingin kehilangannya seperti dia kehilangan Alisa, anggap saja dia tidak mampu bertahan berada disampingnya, mengerti keadaannya, dan menerima kekurangannya.
"Jangan pernah menangis Cecilia. Aku tahan melihatnya." Irsan mengusap air mata yang semakin menganak pinak itu turun begitu deras dengan bahu naik turun.
Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya Cecilia menangis tergugu seperti saat ini, gadis yang selalu melabeli diri sebagai gadis kuat dan pemberani itu kini terlihat lemah. Tidak ada kata yang mampu dia ucapkan, kemarahan dan rasa kesal pada pria yang kini setengah bersujud itu nyatanya hioang seketika menyisakan perasaan yang teramat asing baginya. Hatinya perih dan sesak, namun juga berdebar sangat kencang saat kedua maniknya beradu. Tatapan dalam dari Irsan yang membuat rasa perih dan sesak itu menjadi hangat.
"Katakanlah sesuatu Cecilia, jangan diamkan aku seperti ini."
"Aaa--aaku!" Kebingungan sendiri, "Jadi itu benar?" ucapnya dengan terisak isak, "Kau sangat kaya?" masih terisak, walau dia semakin sibuk mengelap air mata di pipinya. "Tapi kenapa kau hanya ingin hidup seperti ini, hanya dikenal sebagai Dokter saja."
Irsan menggelengkan kepalanya, "Kekayaan tidak menjamin kebahagian Cecilia, aku pernah kehilangan kebahagian karena itu. Ibu dan ayahku berubah setelah Ayah sukses dan memiliki rumah sakit, sampai dia selalu sibuk dan lupa waktu dengan keluarga. Aku kehilangan itu, tapi aku tidak bisa menyalahkan ayah, karena dia melakukan itu demi kemanusiaan. Aku hanya menyalahkan waktu dan juga kekayaan itu sendiri, sampai ibu tidak mau mengerti dan membuat ayah semakin tenggelam dalam kesibukannya saat itu." ungkap Irsan panjang lebar, sambil terus menyeka air mata Cecilia. "Kalau kau mau, aku akan berikan semua untukmu Cecilia, semuanya. Asalkan kau tetap berada disampingku, bertahan untukku. Menemaniku yang brengsekk ini. Hm?"
Cecilia menggelengkan kepala sangat pelan, "Kau fikir aku sempurna? Aku bahkan lebih buruk dari yang kau kira, lebih brengsekk darimu, masa lalu ku, tingkah laku ku, semuanya."
"Bukankah cinta tidak menuntut kesempurnaan? Cinta itu saling melengkapi Cecilia, maka jadilah pelengkap hidupku." tambah Irsan lagi dengan tatapan semakin dalam saja.
Cecilia kembali terdiam, bak terhipnotis olehnya yang dia tahu tidak bisa banyak bicara itu, yang selalu datar tanpa melakukan apa apa. Namun kini berbeda, dia melihat Irsan dari sisi yang lain, yang hangat dan romantis, kata kata yang terucap dari bibirnya, bahkan tatapannya saja berbeda, dan dia melakukannya karena dia tidak ingin kehilangan.
"Maafkan aku Cecilia! Aku akan terus berusaha menjadi lebih baik, aku tidak ingin seperti ayahku yang menyia nyiakan waktu, aku juga tidak ingin seperti ibu yang egois tanpa bisa mengerti. Dan denganmu ... Aku yakin kita bisa berjuang sama sama. Hm." lanjutnya terus meyakinkan Cecilia dengan suara yang semakin berat.
Cecilia menangkup wajah Irsan dengan kedua tangannya, menelisik manik manik tajam yang kini terlihat berkaca kaca.
"Aku gak mau kau nyesel karena milih aku! Karena aku akan banyak meminta hal darimu!"
"Tidak masalah Cecilia, bahkan aku akan memberikan semua padamu."
"Yang aku minta bukan harta, tapi aku akan minta waktumu."
"Aku yakin kau akan meminta dengan pengertian di dalamnya," Irsan sedikit terkekeh. "Waktu senggangku akan ku berikan semuanya padamu."
"Janji?"
Irsan mengangguk pasti, bahkan sebelum Cecilia memintanya sendiri pasti apapun akan dia berikan.
Cecilia mengusap air dari pelupuk matanya, lalu terkekeh, "Mana mungkin aku akan memintamu datang saat kamu sedang operasi!"
"Itulah yang aku suka, kamu yang paling mengerti Cecilia."
Irsan menarik tubuh Cecilia kedalam pelukannya, mendekapnya sangat erat. "Aku tidak bisa kehilanganmu."
"Kau tidak takut aku habiskan uangmu?"
Gadis itu terkekeh, "Aku jadi bodoh karena sekarang aku lebih suka orangnya dari pada uangnya."
Irsan mengurai pelukan dan memegang kedua pundaknya. "Benarkah? Jadi kamu tidak marah lagi padaku?"
"Aku gak bisa marah lama lama karena aku cinta sama kamu. Tapi aku sedikit kecewa karena kau menyembunyikannya saja, bahkan Dokter Aji pun gak tahu kan?"
Irsan mengangguk, "Yang tahu hanya teman teman satu angkatanku saja, itupun yang dekat, aku tidak seperti orang lain yang suka berbagi cerita dengan orang banyak, aku menyimpan nya untuk diriku sendiri, tapi sekali lagi Cecilia, kamu berhasil merubahnya."
Cecilia menggelengkan kepalanya, "Justru kaulah yang banyak merubahku menjadi lebih baik lagi."
Tatapan keduanya kembali beradu, dengan sama sama mendekatkan wajah dan hendak saling menciumm, sampai kedua benda basah itu saling menempel.
"Woii ...elah! Ada gue nih. Gak pengertian banget sih." Celetuk Nita yang entah sampai kapan duduk di balik jendela balkon dan menatap keduanya dengan sengit.
Cecilia berdecak, sementara Irsan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Cie ... Udah gak marahan lagi sekarang. Ce ... Lo lupa skenario yang lo bikin saat kita di dalem taksi." tukasnya lagi dengan tertawa, mengingat bagaimana kerasnya suara Cecilia yang berniat memarahi Irsan jika mereka bertemu, bahkan dengan mantap mengatakan tidak akan mengeluarkan air mata, namun apa yang dia lihat saat ini adalah kebalikannya.
"Sialan Lo Nit. Sana pergi ganggu aja!" kata Cecilia dengan mendelikkan mata ke arahnya. "Ganggu lo!"
Nita bangkit dengan terus tertawa sampai terpingkal, dia melambaikan tangan lalu masuk kedalam kamar.
"Dasar!" cicit Cecilia yang kembali menatap Irsan. "Sampai mana tadi?"
"Sampai kau lupa tidak memakai baju dengan benar, ayo pakai bajumu. Kau bisa masuk angin hanya karena memakai baju seperti ini." ujar Irsan dengan mencapit tali selebar jari yang berada di bahu Cecilia.
Cecilia melingkarkan kedua tangan dilehernya, posisi Irsan yang tidak berubah memudahkannya untuk menariknya lebih dekat lagi.
"Aku kan punya dokter yang akan nyembuhin aku kalau aku sakit." ujarnya dengan menggigit sedikit bibir bagian bawah miliknya.
"Ayo kita saling menyembuhkan luka masa lalu Cecilia!"
.
.
Nah ... Nah... Makin bucin ae noh tiang listrik. Wkwkwk