I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.72(Makan angin)



...Like dan komen makin sedikit padahal 3 chap sesuai keinginan kalian. Hmmm ... Apa yang salah kira kira? Yuk sayang othor yuk ah. Komen aja jangan malu malu. ...


.


Irsan yang mendengar suara Cecilia bergeser tempat duduk dan mengambil piring berisi nasi goreng milik Ines, menajamkan pendengarannya namun tidak sedikitpun ingin beranjak melihatnya.


"Dia baru dari apartemenku. Bahkan dari sejak pagi denganku." ungkap Cecilia, berusaha menebar api cemburu, padahal dia sendiri yang mulai kepanasan.


"Oh!" Ines beroh ria, dengan senyuman lebar, rambutnya terombang ambing saat dia menoleh ke arah Irsan yang tidak bergerak sama sekali.


Dasar orang aneh, aku harus katakan apa?


"Minggir! Biar aku ketemu dengannya sebentar." Cecilia merangsek masuk, walau Ines juga membiarkannya.


"Dasar tidak sopan!" desisnya. "Terserahlah, mereka sama sama aneh! Yang penting mobil itu sudah jadi milikku." gumamnya.


Ih sialan banget, dia enak enakan makan disini, gak tahu apa gue aja belum makan dari tadi. Gak ada keinginan dia ngajakin gue makan gitu, malah sama si sundel ini. Batin Cecilia yang melihat Irsan tengah menyantap sepiring nasi goreng.


"Heh ... Kunci mobilku mana?" tanya Cecilia ketus, dia benar benar dibuatnya kesal.


Irsan baru menolehkan kepalanya dan berpura pura kaget. "Kau kemari?"


"Ya ... Kau fikir aku tidak berani kemari? Mana kunci mobil. Aku mau pergi."


"Bukankah aku menyuruhmu istirahat? Besok akan jadi hari yang melelahkan."


"Serah lah! Aku gak peduli. Aku mau pergi." ujarnya dengan menggerak gerakan tangan yang dia tenadahkan ke arahnya.


Irsan menghela nafas, dia memberikan kunci mobil pada sang empunya, sementara Ines tersungut mengambil piring berisi nasi goreng miliknya dan menyuapnya.


Bahkan mereka makan satu piring berdua, mana berbagi sendok lagi, tapi dia bilang apa yang dilakukannya sama aku adalah kesalahan. Cih. Munafik.


Melihat gurat kekesalan yang ditunjukan Cecilia, Irsan menoleh pada Ines dan tahu penyebabnya.


"Kau mau makan?"


"Enggak! Aku udah kenyang."


Pria itu kini mengerutkan dahinya, dia saja lapar karena tidak sempat makan. Apalagi Cecilia.


"Kau sudah makan?"


"Ya ... Makan angin tadi." ujarnya merebut kunci dari tangan Irsan. "Aku pergi! Ah ... Terserahlah, buat apa aku bilang." ujarnya lagi mengayunkan kedua kakinya.


Sederet foto Irsan dan Ines juga beberapa orang tua dan anak anak yang dia lihat sekilas.


"Huh ... Hubungan mereka ternyata sudah sejauh itu, pantesan aja dia bego." gumamnya saat keluar.


Sikap kecemburuannya terlihat jelas, namun Irsan tidak melakukan apa apa, dia kembali duduk dengan memijit pelipisnya.


"Kau belum mengatakan padanya kalau aku sepupumu?" ujar Ines dengan sesendok nasi yang dia masukkan ke dalam mulutnya.


Irsan menggelengkan kepalanya, "Pantas saja dia terlihat tidak menyukaiku. Bahkan dia sepertinya kesal dan juga cemburu."


"Untuk apa aku mengatakannya? Toh dia hanya ingin bermain main."


"Kau ini! Tidak mengerti wanita, kalau kau tidak mengatakannya, lalu untuk apa dia serius denganmu. Kalian sama saja. Yang satu kekanak kanakan, yang satunya lagi sok dewasa padahal sama saja." Dengus Ines, "Aku tidak ikut ikutan ya! Kau urus sendiri. Aku ada kencan malam ini. Jangan hubungi aku hanya untuk membantu masalah yang kau buat sendiri." ujarnya lagi dengan beranjak ke dapur membawa piring kosong untuk di cucinya.


Irsan menengadahkan kepala menatap langit langit, apa dengan mengatakan Ines adalah sepupunya akan merubah pemikiran Cecilia padanya atau tidak. Jujur dia juga takut untuk memulai suatu hubungan lagi karena takut kecewa lagi. Setelah bersusah payah hidupnya dalam kekecewaan selama ini.


"Tunggu apa lagi! Kau benar benar seperti tiang listrik! Cukup diam dan tidak melakukan apa apa. Kenapa kau tidak berinisiatif. Berusahalah mengejar kebahagianmu sendiri. Dasar bodoh!" ujar Ines merutuki sepupunya yang berbeda usia jauh dengannya, dia berjalan masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.


Irsan berdecak dengan tatapan tajam ke arah pintu kamar, "Berani beraninya kau menyebutku tiang listrik!"


"Kau!! Sama saja." pria tinggi tegap itu pun beranjak pergi dengan kesal. Bergegas masuk ke dalam lift menuju unitnya sendiri.


Sementara Cecilia terus menggerutu tidak karuan saat menuju basement, dia masuk kedalam mobil dengan kekesalan yang dia sendiri tidak sadar.


"Aku lebih menyukaimu sekarang Cecilia. Aku ingin menjagamu." cibirnya memperagakan ucapan Irsan. "Menjaga pala lo!" katanya lagi dengan melajukan mobilnya.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Mengarah pada sebuah kafe yang memiliki tempat karoke, dia juga menghubungi Nita dan menyuruhnya datang.


Tak lama kemudian dia sampai ke kafe yang di tuju. Kafe nuansa romance. Namun tujuannya hanyalah berkaraoke ria.


"Gue gak mungkin ke klub. Yang ada tambah berabe urusan kalau polisi saat ini mungkin lagi mngawasin gue." Ucapnya saat keluar dari mobil. Dia mengedarkan pandangan ke beberapa arah untuk melihat apa ada mobil polisi atau tidak.


Tak lama Nita turun dari sebuah mobil, melambaikan tangan lalu menghampiri Cecilia.


"Dah lama lo?"


"Sama siapa lo?"


Pertanyaan berbeda dalam waktu bersamaan membuat keduanya mengernyit lalu tergelak.


"Gue sama daddy killer. Gila ... Dia killer cuma di kampus doang." ujar Nita sambil melangkahkan kaki.


"Kalau di ranjang?" Cecilia tertawa saat bertanya hal bodoh.


"You know ... Like a catty."


Keduanya terus tertawa dengan saling merangkul.


"Syukur deh kalau lo bisa nemuin daddy yang beda kali ini. Semoga lo makin sukses Nit."


"Apaan lo! Doa begitu, mana ada yang sukses jadi sugar baby. Anjim lo."


Tawa keduanya makin membahana, Cecilia memberikan kartu member premium pada penjaga karoke lalu masuk begitu saja setelah seorang pegawai menunjukan room meraka.


"Eh Ce ... Katanya polisi nyariin lo?"


"Kok lo tahu? Padahal gue baru mau cerita."


"Dikampus udah rame anjim."


Cecilia membelalak, "Serius lo?"


"Sumpah! Ngapaian gue bohong. Tapi cuma anak anak aja sih. Kayaknya mereka tahu dari kacungnya si Dirga deh. Gue juga gak tahu."


"Bodo lah. Perasaan gue makin banyak masalah sekarang. Anjim kan hidup gue. Polisi baru aja geledah unit gue Nit, cari bukti."


"Hah serius lo? Terus ... Lo emang nyimpen tuh barang? Enggak kan?"


"Enggak lah."


Nita mengangguk anggukan kepalanya, "Bagus kalau gitu. Terus lo simpen dimana tuh barang si Dirga?"


Cecilia menoyor kepala Nita yang bertanya hal konyol. "Fikir deh sama lo sendiri. Males gue jawab."


Nita terkikik, sambil terus berjalan mengikuti seorang pegawai ke arah room, kaca besar menjadi pemisah antara tempat karoke dan kafe yang ada di dalamnya.


Kedua mata Cecilia terbelalak saat melihat seseorang yang tengah duduk di satu kursi.


"Nit? Lo lihat dia."


"Siapa?"