
Irsan menggertakkan giginya kesal, dia menolongnya namun respon Cecilia sangatlah dingin dan entah kenapa sangat menyebalkan baginya.
Cecilia bahkan sama sekali tidak menoleh ke arahnya lagi. Dia menekan nomor password unitnya lalu melangkah masuk.
Brak!
Tanpa disangka Irsan merangsek masuk membuatnya tersentak kaget.
"Mau apa lagi?"
Bruk!
Irsan mendorong pintu hingga tertutup dengan keras. Menatap Cecilia dengan tatapan tajamnya.
"Kenapa kau sangat menyebalkan hari ini?" tanyanya.
"Aku. Menyebalkan?" Cecilia tertawa, dia menyimpan tas miliknya di atas nakas. "Kalau iya aku menyebalkan terus dokter Irsan mau apa?"
Irsan tidak bisa menjawabnya, membuat Cecilia kembali terkekeh, "Tidak ada yang bisa kau lakukan sekalipun aku menyebalkan bukan? Kenapa kau marah kalau tidak ada alasannya?"
Irsan mencekal lengannya lagi, tapi kali ini lebih lembut dari sebelumnya, hingga jarak keduanya sangat dekat.
"Aku ini gadis perhitungan, kalau kau menyentuhku. Kau harus membayarku!" Ujarnya menohok.
"Kau!!"
"Iya aku! Aku memang gadis seperti yang kau fikirkan, aku mencari uang dengan menggoda pria." Cecilia menepiskan cekalan Irsan dilengannya. "Jadi kalau urusanmu sudah selesai, kau bisa segera keluar." ujarnya lagi lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
Tidak lama dia kembali keluar dari kamar dengan membawa tiga kotak kecil yang selalu dia miliki selama ini.
"Full time atau short time harga sama," ucapnya datar. Meletakkan tiga kotak dengan tiga varian itu diatas meja " Ini wajib di pake karena aku tidak ingin memiliki hubungan khusus dengan klien." Dia juga meletakkan selembar kertas berisikan kontrak kerja yang dia dapat dari Dimas sewaktu di mall. "Silahkan ambil kontrak kerja itu dan segera di proses, aku gak mau lama lama!" ucapnya lagi dengan dingin.
Kontrak kerja dengan denda jika terjadi pembatalan oleh pihak kedua, atau pergantian value jika dibatalkan oleh pihak kesatu.
Tidak masalah baginya jika harus membayar denda, walaupun dia tidak memiliki uang sama sekali. Itu bisa di atur nanti, yang pasti dia tidak ingin di remehkan lagi oleh pria yang kini menatapnya.
Irsan tidak bergeming menatap Cecilia yang sepertinya masih kesal dan juga marah karena kejadian tadi siang di ruangan kantornya. Sampai sampai sikap Cecilia benar benar menyebalkan baginya, menawarinya tiga varian menjijikan itu serta bicara harga tubuhnya.
"Apa kau sedang memperlihatkan harga dirimu atau menghancurkannya sendiri?'
"Tidak ada bedanya bagimu bukan? Udahlah cepat lakukan, aku sibuk! Tidak ada waktu untuk bicara omong kosong." tukasnya dengan ketus. "Satu lagi, aku akan bertindak sesuai pemikiranmu dokter Irsan yang terhormat."
"Kau benar benar menjijikan!"
Cecilia mengangguk anggukan kepalanya, "Aku tahu! Bahkan lebih dari itu, pria pria yang aku layani adalah pria yang sudah memiliki istri. Walaupun mereka munafik, tapi mereka gak semunafik dirimu. Mereka masih memiliki rasa hormat walaupun kelakuannya jauh dari kata suci."
"Apa kau ingin aku menghormatimu layaknya wanita baik baik?"
Cecilia menggerak gerakkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan, "Tidak! Kapan aku minta kau hormati? Kau salah besar."
Irsan tidak lagi mengerti jalan fikiran gadis yang berubah 360 derajat itu, dia merasa bersalah karena ucapannya terlalu kasar, tapi perlakukan Cecilia padanya kini membuatnya berfikir ulang.
"Jadi aku salah menilaimu, aku fikir aku ucapanku terlalu keras tadi siang! Tapi sekarang. Aku rasa kau memang pantas dikatakan seperti itu. Tidak tahu diri."
"Sebenarnya apa tujuanmu ikut masuk ke dalam unitku kalau gitu dokter? Apa kau merasa hanya kau yang tahu diri sedangkan aku tidak? Lucu sekali pria berpendidikan tinggi ini."
"Cecilia!"
"Apa? Kenapa kau marah. Kau yang tidak tahu diri Irsan, harusnya kau yang bisa menempatkan dirimu sendiri. Aku datang ke sana bukan untuk di remehkan, aku bisa bekerja dan aku layak. Tapi kau? Justru kau memandangku seburuk itu. Dan sekarang? Apa yang kau lakukan dengan datang kemari? Bukankah yang kau temui itu gadis penggoda. Ja lang seperti yang kau bilang! Jadi apa aku masih salah?" Cecilia akhirnya tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan semua kata kata yang ingin dia katakan. "Apa mau mu sekarang? Kau bahkan tidak tahu!" ujarnya lagi lalu melangkah ke arah lemari dan mengambil wine yang di simpan di sana. Dia juga mengambil gelas dan menuangkannya.
"Cepat fikirkan apa yang jadi mau mu. Aku gak punya waktu untuk hal hal yang gak menghasilkan uang." sindirnya lagi.
Lihat aja, gue bener bener akan bersikap seperti apa yang lo fikirkan Irsan, lo mikir gue ja lang. Maka gue bakal perlihatkan ke ja langan gue. Gitu pun sebaliknya. Gue bisa jadi apapun yang lo fikirkan.
"Apa uang segalanya untukmu? Apa dengan uang bisa membuatmu bahagia Cecilia?"
Cecilia mengerdikkan bahu, lantas dia menenggak wine di dalam gelas hingga tandas.
"Kau fikir semua bisa di nilai dengan uang?"
Cecilia kembali bangkit dengan membawa gelas yang sudah dia isi kembali, berjalan elegan ke arah Irsan yang terus menatapnya tajam.
"Sebenarnya apa yang ingin kau inginkan Irsan? Jangan membuatku pusing dengan omong kosong mu itu! Kau mengatakan seberapa pentingnya uang padaku? Kau yakin ingin mendengar jawabanku?"
Irsan nyaris tidak mengenal Cecilia yang gila, yang datang tiba tiba dan merayunya hingga sempat membuatnya terlena, gadis yang dia lihat sekarang. Ahk entahlah bagaimana harus mengatakannya. Dan Irsan tidak tahu apa yang dia inginkan.
"Kau memang tersegalanya, derajatmu tinggi dan taraf kehidupanmu juga tinggi, tapi pertanyaanmu tadi cocok dikatakan di ruang motivasi! Kau tidak tahu hidup seseorang khususnya aku. Jadi jangan sembarangan bicara seolah kau paling tahu aku. Karena aku tidak hidup dengan uangmu." ujarnya lagi lagi menohok.
Dia kembali menenggak minumannya namun Irsan dengan cepat merebut gelasnya dan menenggaknya sendirian.
Cecilia berdecih, "Kau bahkan tidak bisa meminta dengan baik baik Irsan."
Cecilia kembali berjalan dan duduk lagi. Dia ingin tahu apa sebenarnya yang di inginkan Irsan, dengan semua kata kata menyakitkannya itu.
Untuk beberapa saat mereka saling terdiam, Irsan masih betah berdiri mematung menatap Cecilia, sementara gadis itu menggoyang goyangkan gelas baru dan telah dia isi lagi.
"Aku minta maaf!"
Cecilia menoleh ke arahnya dengan tersenyum, "Sudah aku maafkan!"
"Aku serius! Aku minta maaf karena tidak seharusnya aku bicara sekasar itu padamu."
"Tidak apa apa! Aku sudah biasa." ucapnya kembali tersenyum.
Rasain lo tiang listrik ... Emang enak lo gue giniin.
"Cecilia!" Panggilnya dengan suara yang lebih rendah.
"Pulanglah! Gak usah kemari dan anggap kita gak saling kenal. Itu lebih baik! Aku udah bilang aku berhenti menyukaimu."
.
Tau rasa lo tiang listrik. Konslet konslet deh lo. Wkwkw. Jahat amat othor. Hihi