
Cecilia kembali mengemudikan mobilnya menuju kampus, beberapa hari dia mangkir dari kampus dan sudah pasti tugasnya akan menumpuk. Namun tugas itu tidak ada arti baginya, dia tidak peduli sebanyak apa tugasnya nanti, ada Nita yang selalu bisa dia andalkan.
Mobil terparkir sempurna di pelataran parkir, Cecilia keluar dari mobil dan langsung mencari sahabatnya itu.
"Lo lihat si Nita gak?" tanyanya pada seorang teman sejurusan dengannya.
"Disana!" sahutnya dengan menunjuk ke arah satu ruangan.
Cecilia mengangguk, lantas berjalan ke arah yang di tunjuk temannya. Melewati koridor kampus yang tampak sepi.
"Ngapain sih Si Nita ditempat beginian, apa dia lagi mojok?" tanyanya pada diri sendiri, "Tapi dia kan gak punya cowo di sini." jawabnya lagi.
Dua orang laki laki terlihat berjingkat saat melihat Cecilia, mereka berdiri dengan mencurigakan karena terus melirik ke arah pintu yang tertutup. Cecilia tampak curiga melihatnya, terlebih dia seperti mendengar seseorang menangis.
"Ngapain kalian?"
"Apa sih lo!" tukas satu dari mereka, entah siapa yang didalam sana, yang jelas suara tangisan itu benar benar jelas. "Kalian?"
"Udah deh! Lo gak usah ikut campur, mending lo pergi."
"Didalem ada Dirga kan? Apa yang dia lakukan?"
Kecurigaan Cecilia tampaknya benar, Dirga berada di dalam dengan seorang gadis yang tengah menangis. Namun saat dia hendak masuk, tangannya dicekal oleh seseorang.
"Ce! Kita pergi. Jangan ikut campur urusan mereka." tukas Nita menarik Cecilia pergi.
"Tap---"
"Udah ayo ikut gue!
Nita membawa Cecilia menjauh dari sana, terlihat kedua pria itu menertawakan mereka, lalu keduanya masuk kedalam ruangan itu.
"Nit!"
"Gue gak mau lo terlibat masalah lagi sama Si Dirga! Jadi lo mending pura pura gak lihat dan pura pura gak tahu apa apa Ce."
Cecilia menepiskan tangan Nita, dia memang tidak mau berurusan lagi dengan Dirga yang hanya bisa memanfaatkannya, tapi dia tidak bisa diam saja saat Dirga melakukan sesuatu hal yang buruk pada orang lain.
"Nit. Lo gak denger ada yang nangis di sana! Si Dirga pasti ngelakuin hal aneh di dalem."
"Biarin aja udah! Toh urusan mereka ini!" Nita selalu bersikap tidak peduli apapun berkaitan dengan Dirga, entah kenapa dia sangat membenci pria brengsekk itu.
"Asal lo tahu Ce! Cowok itu bener bener brengsekk." ujarnya lagi.
"Ya kenapa? Gue kan gak tahu."
"Ya lo sih mangkir mulu! Dia itu sering ngancem anak anak yang gak mau make sama dia. Salah satunya ya si Ines itu."
Cecilia membulatkan kedua matanya, "Maksudnya? Mereka tahu kalau si Dirga pecandu sekarang?"
"Hm ...!"
Cecilia menatap ke arah belakang, namun semuanya sudah pergi entah kemana. Dia kembali menatap sahabatnya itu. "Barang barang gue pasti udah habis!"
"Bukan habis lagi! Dan lo bego kalau masih pengen berurusan sama dia."
"Tapi si Ines?"
"Biarin aja! Toh mereka semua sama aja." tukas Nita dengan mengherdikkan bahu. "Lagian lo kemana aja sih! Gak ada kabar, susah pula di hubungi. Anjim benget."
Cecilia menepuk jidatnya sendiri, dia lupa tujuannya memang mencari Nita. "Astaga! Gue ampir saja lupa."
Nita mengernyit, menatap sahabatnya sejak dulu itu dengan menelisik. "Jangan ngadi ngadi lagi lo! Gue udah lama gak ngelakuin hal hal aneh,"
"Elah, kagak! Gue cuma minta bantuan lo dikit aja!"
"Bukan Nit, ini masalah jodoh gue! Tinggal dikit lagi."
Nita menghela nafas panjang, lalu terduduk di bangku yang ada di taman yang mereka lewati saat ini.
"Lo serius anjim! Lo ngejar ngejar dokter itu?"
Cecilia mengulas senyuman lalu mengangguk. Membuat Nita semakin menghela nafas dengan berat.
"Gue kira lo main main!"
"Gue emang main main awalnya! Tapi gue juga penasaran, tapi lama lama gue juga suka!"
"Kebanyakan tapi lo ah!" Nita mendengus, dia benar benar heran pada sahabatnya itu. "Lo pasti aneh aneh,"
"Dikit doang Nit! Tapi dia nya ya gitu! Gue heran, dia sebenernya mau atau gak mau." Ujar Cecilia yang juga ikut duduk di depan Nita. "Gue harus ubah strategi, tapi gue bingung harus apa. Makanya gue cari lo! Siapa tahu lo bisa bantuin gue." ujarnya lagi dengan menangkup tangan Nita. "Please ... Gue udah dalem banget nih sama dia!"
Nita menghempaskan tangan Cecilia yang memegang kedua tangannya, "Apaan sih lo!"
"Yang kata lo kalau dia susah gue taklukin! Padahal gue udah ngelakuin semua hal."
"Iya ya ... Gue kan udah bilang! Mana ada pria baik baik nerima lo gitu aja, secara dokter itu udah tahu lo kayak gimana! Gue juga ogah kalau jadi dia. Walaupun lo goda goda, sekalipun lo ngangkang depan dia! Yang ada lo malu sendiri nanti." sarkasnya tak peduli.
"Nah itu maksud gue! Gue mau ubah strategi! Lo bantuin gue."
Nita menatapnya lama, dia memperhatikan sahabatnya itu dengan seksama lalu menjentikkan jari setelah beberapa saat.
"Gue tahu caranya."
***
Mobil dikemudikan Nita dengan kecepatan tinggi. Mereka berdua meninggalkan kampus dan juga kelas perkuliahan mereka dan hanya menitipkan absen pada temannya saja.
"Kita mau kemana?"
"Lo bakal tahu nanti! Tapi sebelumnya gue tanya sama lo."
"Apaan?"
"Lo gak bakal nyesel kan?"
"Kalau buat Irsan, gue gak bakal nyesel. Kecuali cara lo masih belum juga bikin tuh si tiang listrik luluh sama gue."
"Tiang listrik?" Nita tergelak saat mendengarnya, dia bisa membayangkan istilah yang digunakan Cecilia itu. "Berarti dia masih bisa nyetrum lo Ce! Hhaaha ..." gelakannnya semakin keras, seiring dengan lebih kencang laju kendaraan yang di bawanya.
"Ya gitu! Makanya gue heran, dia aja bales ciumaan gue. Tapi masih bilang dia gak suka sama gue. Kan anjim."
"Lo sih geragasan! Lo jangan samain dia sama si brengsekk Dirga dong! Maen lahap aja lo tanpa mikir dulu. Bego lo lama lama." ujar Nita yamg kemudian menghentikan mobilnya tepat di sebuah salon.
Cecilia menatap bangunan putih didepannya lalu menoleh ke arah Nita, "Malah kesini sih!"
"Udah ayo turun, lo bakal tahu nanti." ucap Nita yang lebih dulu membuka seat belt lalu keluar dari mobil.
Cecilia mengikutinya dengan keluar dan mereka sama sama masuk kedalam salon.
"Mbak ... Temenku mau ganti warna rambut. Hitam yaa! Dan pastiin semuanya hitam." Ujar Nita pada seseorang yang baru saja berdiri menyambut kedatangannya.
"Heh sialan! Siapa yang mau ganti warna rambut!"
"Ya lo ... Masa nenek lo!"
Cecilia membulatkan kedua matanya sempurna." Heh bego! Kata siapa. Gak gue gak mau ganti, enak aja!"