
Cecilia menggendong anak laki laki yang terus meraung raung mencari ibunya, kedua tangan mungil meronta minta di turunkan, bocah sekecil itu tidak nyaman dengan orang asing yang baru saja ditemuinya, terlebih jika Cecilia memang tidak terlalu suka anak anak.
"Bandel banget sih, iya yuk cari ibumu. Teledor banget dia ninggalin anak sekecil ini. Dari mana lo masuk tadi coba? Anak kecil kan biasanya gak bisa masuk ke rumah sakit, ini bisa. Lo pasti nakal ya." Bentaknya marah pada anak kecil yang belum mengerti apa apa itu. "Bego banget tuh emak lo, nangis nangis dah tuh nyariin nih bocah."
Sepanjang koridor rumah sakit, anak kecil itu terus menangis, membuat orang orang mulai menatapnya dengan curiga. Membuat Cecilia terlihat sebagai orang jahat karena membiarkan anak kecil yang digendongnya terus menangis, dengan cepat membawanya ke tempat security.
"Maaf ... Anak kecil di larang masuk! Anda sudah mengganggu kenyamanan, didalam juga berbahaya bagi anak anak, banyak virus atau bakteri dari orang yang sedang dirawat!"
Cecilia yang baru akan bicara namun sudah lebih dulu disela itu berdecak, "Justru itu aku kesini Pak, nih anak kenapa ada didalam, aku gak tahu ini anak siapa! Tadi ada orang yang kasih gitu aja ... Gak tahu nih kemana ibunya, dan aku kesini justru mau minta bantuan, ini malah dituduh."
Security nampak termangu mendengar penjelasannya yang sedikit tidak masuk akal dari gadis yang terus menggerutu tidak jelas itu karena anak kecil itu terus menangis.
"Nih pak! Aku titip dia aja disini sampe ibunya datang, kalau perlu bapak umumin kali aja ada yang kehilangan anak, rumah sakit segede gini, kemana aku harus nyari ibunya. Kepala ku juga pusing lama lama denger dia gak berenti nangis." Ujarnya lagi dengan menyerahkannya pada Securty, namun sedetik kemudian anak itu terdiam, dengan melingkarkan tangan kecilnya pada leher Cecilia, dia juga bersembunyi dengan terisak isak dan tidak mau melepaskan tangannya.
"Wah ... Bapak manjur juga ya, kayaknya dia takut lihat bapak, sampai berhenti nangis begini." Cecilia menepuk nepuk punggungnya dengan lembut, mulai merasa kasihan karena anak itu terlalu lama menangis.
"Ya sudah ... Pegang dulu anak itu sementara saya berkoordinasi dengan anggota yang lain ya mbak." tukas security itu mengambil hand talky miliknya dan berbicara dengan suara dan kode kode yang tidak bisa Cecilia pahami.
Pelukannya terasa hangat, begitu juga desiran di hatinya yang terasa aneh saat anak kecil dipangkuannya semakin erat, bersembunyi dengan menengkupkan kepalanya.
"Sabar sayang ... Kita tunggu ibumu di sini yaa."
"Mommy ... Mommy ...!"
Suara kecil dari sang anak hilang akhirnya terdengar dengan lirih disertai sisa isak tangis darinya, sayup sayup masih terdengar hingga akhirnya kembali diam.
Cecilia menolehkan kepalanya, lalu menggelengkan kepalanya saat melihat anak kecil itu sudah tertidur saking lelahnya menangis.
"Duh gimana ini Pak?" tanyanya bingung.
"Jangan kemana mana, aku akan memastikannya terlebih dahulu."
"Tapi aku juga harus nemenin ibu aku pak, titip bapak aja ya di sini." ucapnya tapi langsung terdiam dan biru buru meralatnya. "Enggak ... Enggak, bisa bisa banyak yang ngaku anaknya lagi, kasian!" sahutnya sendiri.
"Kalau begitu tunggu di sini, aku akan mencari infonya terlebih dahulu. Pintu ini pintu paling belakang, dan di depan harusnya sudah ada pantulan berita terkini tapi belum sampai padaku." terang security itu lagi,
Ucapan Security justru membuatnya heran, bagaimana anak sekecil ini justru ada di koridor pintu belakang, apa semua orang tidak sadar jika anak itu berjalan masuk atau bahkan merangkak, Cecilia bahkan tidak tahu berapa usia anak yang kini tertidur di dalam pelukannya. Terlihat dari pakaiannya jelas bukan anak anak dari kalangan keluarga biasa.
"Pak ... Apa jangan jangan ini anak dari salah satu dokter di sini? Kalau keluarga dari pasien kan gak mungkin bisa masuk gitu aja, yang ada juga disuruh nunggu kalau bawa anak." tukas Cecilia,
Security itu justru tersenyum, "Mbak ... Ini rumah sakit swasta untuk kalangan elit, tapi semua peraturan nya sama baik itu bawa dokter maupun keluarga pasien pasti dilarang membawa anak kecil apalagi sekecil ini kecuali memiliki jalur khusus."
"Jalur khusus?"
"Ya ... Di hari tertentu memang ada Dokter yang bawa anaknya, tapi harus sesuai dengan aturan yang berlaku di sini, tidak sembarangan. Ya kecuali pemilik rumah sakit yang sudah pasti bebas keluar masuk."
"Profesor Sam saja kadang bawa anak dan Istrinya ke mari." pungkasnya lagi.
"Ya ... Dan bapak akan kaget kalau tahu yang sebenarnya." cicit Cecilia.
Security itu tampak terdiam, dia memang tidak mengerti apa maksud dari Cecilia.
"Jadi gimana nih pak, aku juga lagi nungguin pasien pak. Lama amat informasinya."
Security tampak berbicara dengan hand talkynya lagi, menyebutkan ciri ciri anak yang sedang terlelap itu termasuk ciri ciri fisik Cecilia.
Gadis itu sudah berdiri cukup lama dengan menggendongnya, tangan dan kedua kakinya sudah pegal karena tidak juga ada yang datang menjemput anak itu. Sampai dia menarik kursi dan duduk.
Anak kecil yang tidak mengerti apa apa itu masih terlelap dengan nyenyak, Cecilia memperhatikan wajahnya yang damai dan lagi lagi menghangatkan hati.
"Kalau gak ada yang jemput dia, ku bawa pulang saja dia pak. Aku simpan nomor telepon ku di sini."
Seseorang berjalan ke arahnya, terdiam dan memperhatikannya.
"Itu anakmu? Pasti Iya ... Mau maunya Irsan denganmu,"
"Heh ... Sembarangan bicara! Ini bukan anakku. Lagian kenapa sih Dokter Aji kepo banget urusan aku." sebal, saking sebalnya Cecilia membuang wajahnya ke arah lain.
"Oh ... Kau sengaja membawa anak kecil itu untuk menarik simpati dari Tante Embun ya!"
"Mulutmu udah kayak spiker rusak!" Dengus Cecilia.
"Kulihat Tante Embun ada di sana, di ruangan Dokter Siska, kau tahu itu? Dia pasti lebih suka anaknya berhubungan dengan Dokter Siska dari pada denganmu."
Cecilia berdecak, ingin sekali dia memukul mulut Dokter Aji. Namun sayang, kedua tangannya sedang menggendong anak kecil yang masih tertidur.
"Dokter Aji ....Dokter jangan sembarangan biçara ya dokter itu nelum tahu apa apa, dan jangan khawatirkan aku."
"Aku hanya mengkhawatirkan temannku Irsan. Siapa yang peduli padamu?"
Cecilia mendengus kasar, mencoba menahan diri nyatanya sulit sekali, terlalu banyak godaan yang membuat kesabarannya habis.
"Udah deh ... Dokter mendingan pergi!" Sentaknya kesal, sampai anak kecil dipangkuannya ikut tersentak kaget dan kembali bangun, lambat laun wajahnya terlihat seperti akan menangis lagi.
"Dokter Aji mending urus tuh pasien pasien, bukankah Dokter Irsan ngambil cuti dan kau yang ditugaskan untuk menggantikan jadwal prakteknya, malah bikin nangis lagi kan ah ..." Ujarnya dengan tidak habis fikir lagi karena Dokter Aji terus membuatnya kesal dengan sikapnya.
Aji mengerdikkan kedua bahunya ke atas, lalu melengos pergi.
"Dokter Irsan pasti sudah gila karena mengencani gadis sepertimu!"