
"Mr Orlan. Apa yang terjadi?"
Mr. Orlan? Oh jadi ternyata dia yang harus aku temui. Batin Cecilia.
"Mr Orlan?" sekali lagi orang yang berteriak dari dalam itu berjalan keluar.
"Aw!?" teriak Nita, "Awww ...!" teriaknya saat sapu mengenai bokongnya. "Anjim sakit!"
"Nit ... Lo gak apa apa kan?" seru Cecilia sambil menghindar dari sabetan sapu yang melayang dari seorang pria paruh baya.
"Mereka pencuri mangga!" tunjuknya pada seorang suster perawat yang masih tersentak kaget melihat keduanya.
"Mereka Mr Orlan?"
"Ya ... pencuri."
"Benarkah." Ujarnya menenangkannya. Suster itu mencoba mengambil sapu dari tangannya juga. "Tenang Mr Orlan, kita sudah menangkap mereka. Berikan sapunya padaku ya."
Cecilia tersentak kaget, "Apaan apaan nih!" desisnya menghampiri Nita.
"Ce ... Orang yang lo bilang bisa bantuin kita itu dia. Mr Orlan?"
"Hm ... Tapi gue juga gak paham."
"Jangan mencoba membohongiku! Aku tidak bisa di bohongi." bentak Mr Orlan pada susternya.
"Tidak... Sekarang anda masuk. Biar aku yang menangani pencuri pencuri ini. Ayo masuk!"
"Sakit nih orang kayaknya!" Desis Nita mengelus pantatnya yang masih sakit karena pukulan pria yang dipanggil Mr Orlan itu. "Gimana Ce?"
Cecilia mengangguk, kedua matanya mengikuti langkah pria paruh baya itu yang melangkah masuk ke dalam, sementara sapu dari tangannya sudah di amankan.
"Maaf ... Apa dia gangguan jiwa?" seloroh Nita yang langsung di sikut oleh Cecilia. "Maaf ... Maaf!"
"Lo!"
Suster itu tersenyum, dia meletakkan sapu di sudut pintu. "Silahkan duduk."
Cecilia dan juga Nita menurutinya, mereka berdua menarik kursi dan duduk, di ikuti oleh suster wanita yang terlihat begitu meneduhkan.
"Kalian pasti orang yang di suruh Jo kemari?"
"Hah kok tahu?" Cecilia terbeliak.
"Aku istri Jo." ujarnya lagi dengan tersenyum.
"Hah!"
Cecilia semakin tersentak, tidak percaya jika Jo yang loyal terhadap majikannya itu ternyata memiliki seorang istri.
"Jo sudah memberitahuku kalau kalian akan kemari."
"Mr Orlan?"
"Ya ... Mr Orlan yang akan membantu kalian, tapi kita tunggu sebentar lagi ya, sampai Mr Orlan tenang."
"Tapi gimana bisa dia bantu kita! Dia aja aneh." celetuk Nita, dan langsung di sikut kembali oleh sahabatnya.
"Lo ih! Bacot."
"Mr Orlan terkena Alzhemer, untuk beberapa faktor beliau memang mengalami penurunan daya ingat, tapi aku bisa pastikan. Soal pekerjaan ... beliau masih sangat paham. Karena semua beliau catat."
Cecilia masih belum faham, apa yang bisa Orlan lakukan dalam kondisi dirinya saja seperti itu, terlebih Nita yang tidak mengerti apa apa.
Beberapa saat kemudian akhirnya suster yang menjadi perawat Mr Orlan menyuruhnya masuk, dan menunggu Mr Orlan keluar dari kamarnya.
Mr Orlan keluar dari kamar, dia langsung mendudukkan dirinya di sofa single di depan mereka berdua dan menatap keduanya dengan tajam.
"Hai Mr Orlan?" Sapa Nita dengan lambaian tangannya.
"Bego lo!" Gumam Cecilia yang ingin sekali rasanya menoyor kepala Nita saat itu juga. "Gak usah nyekil, kita kesini buat minta bantuan, bukan goda godain dia."
"Ya gue tahu! Orang gue cuma nyapa dia doang. Lagian dia kayak patung begitu." ujarnya saling berbisik.
"Huss!"
Mr Orlan tampak terdiam, melihat keduanya secara bergantian lalu tergelak. Membuat keduanya kaget sampai hampir melompat.
"Akhirnya datang juga waktu mereka hancur! Kalian tahu selama apa aku menunggu waktu seperti ini." ujarnya lagi dengan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa lalu menghela nafas panjang.
"Mr Orlan?"
"Bener bener sakit dia Ce."
"Kayaknya!"
Pria paruh baya itu kembali tergelak, "Aku harus terus berpura pura sakit hanya untuk menghindari mereka, mereka yang terus mencari keuntungan sendiri, tanpa mereka sadari, jika mereka tidak akan ada artinya tanpa diriku."
Kedua gadis yang bersahabat itu saling melirik, mereka semakin tidak mengerti dengan semuanya.
"Itu bukan urusan kalian, yang pasti aku pasti akan membantu Irene."
Cecilia menggaruk kepala semakin bingung dengan apa yang dia ceritakan. Membantu Irene.
"Kau pasti bingung, Jo pasti tidak menceritakan semuanya padamu. Aku ini Orlan, kakak tiri dari Irene, semenjak dia menikah dengan Reno. Hubunganku dengannya semakin buruk. Aku tidak suka dengan tabiat Reno, tapi Irene tidak pernah mempercayaiku. Aku juga memiliki 40 persen saham di perusahaan itu, tapi aku selalu bekerja di belakang layar. Memantau semuanya dari jauh. Sampai harus berpura pura sakit agar mereka tidak bisa mengambil keputusan tanpa tanda tanganku." terangnya lalu tergelak.
"Jadi? Maksud Jo nyuruh aku kesini itu untuk meminta bantuanku."
"Jo itu tangan kananku di sana, dia juga asisten pribadi Reno, darinya aku tahu banyak hal. Termasuk rencanamu." tunjuknya pada wajah Cecilia. "Dan aku fikir ini semua menguntungkan bagiku. Setelah Reno mati, aku memang sudah seharusnya kembali. Untuk apa? Datang sebagai penyelamat," ucapnya lagi dengan tertawa lebih keras.
Cecilia berdecak, Jo jelas mengambil keuntungan dari semua ini, selama ini dia selalu membantunya karena memiliki tujuan. "Brengsekk tuh si botak!"
Mr Orlan kembali tertawa, "Kau lebih baik darinya, tapi tidak ada pekerjaan serapih pekerjaannya. Kau harus tahu itu. Dan dia sangat diandalkan."
"Jadi apaan ini Ce?"
"Gak tahu yang jelas dan yang pasti, Mr Orlan akan datang menyelamatkan perusahaan yang gue hancurkan sahamnya, dan kemungkinan itu akan memperbaiki hubungannya dengan tante Irene."
Mr Orlan mengangguk anggukan kepalanya, "Tepat sekali! Itu yang akan terjadi. Jadi mari kita bersiap siap."
"Hah. Drama banget!" Cicit Cecilia.
"Terserahlah. Itu bukan urusan kita Ce. Yang pasti semua akan balik normal lagi. Bukannya lo juga kasian sama Irene? Jadi ini kayaknya menguntungkan buat semua, gak cuma lo aja. Irene dan Mr Orlan juga. Iyakan Mr?" Ujar Nita yang merasa mulai mengerti. "Kok gue ngerasa pinter ya di sini Ce. Lo nyadar gak."
"Bodo ah!" Cecilia membuang wajahnya kearah lain, dia masih belum percaya jika Jo ternyata sudah merencanakan hal ini, dan sepertinya kejadian ini dijadikannya peluang.
"Bersikaplah seperti orang jahat untuk tahu siapa yang benar benar jahat dan siapa yang benar benar baik. Semua akan terlihat disitu." ujar Mr Orlando lagi, kemudian dia bangkit dan masuk ke dalam kamarnya.
Suster yang sejak tadi menghilang kini keluar dari arah belakang, duduk di tempat yang sebelumnya di duduki oleh Mr Orlan.
"Jangan menyalahkan Jo dalam hal ini! Dia melakukannya sebagai bentuk kepeduliannya, Jo dan aku sama sama bekerja sejak lama di keluarga Mr Orlan dan nyonya Irene, Miris melihat saudara yang seharusnya saling melindungi dan saling menyayangi itu terpisah karena kesalah fahaman."
Cecilia dan Nita mengangguk, mereka menatap pintu kamar berwarna putih dimana Mr Orlan berada.
"Tapi gimana caranya Mr Orlan menyelamatkan perusahaan yang aku buat kacau." lirih Cecilia.
"Tidak usah hiraukan itu. Urusanmu cukup di sini saja, kalian bisa kembali tanpa memikirkan hal itu lagi. Mr Orlan yang akan mengatur semuanya. Dan masalah laporan polisi yang menjeratmu...!"
"Apa? Tante Irene udah pasti akan cabut laporannya kan?"